Rasio dan Jiwa sebagai Instrumen Pengetahuan dalam Epistemologi Ibnu Khaldun

1
640

BincangSyariah.Com – Sejak awal, al-Muqaddimah karya Ibnu Khaldun menyajikan pemaparan epistemologi yang cukup unik dan mendalam. Paling tidak, ketika membaca al-Muqaddimah ini, kesan yang akan kita dapatkan ialah bahwa Ibnu Khaldun seolah ingin menjawab pertanyaan-pertanyaan berikut ini:

Pertama, bagaimana kita dapat membangun suatu ilmu pengetahuan dengan berkaca dari sejarah masa silam?

Kedua, bagaimana kita bisa memperoleh perspektif baru dalam melihat peristiwa-peristiwa di masa lampau?

Ketiga, bagaimana kita bisa memiliki cara pandang ilmiah berbasis pada prinsip bahwa peristiwa-peristiwa sejarah itu akan selalu tunduk terhadap hukum-hukum tertentu?

Keempat, bagaimana kita bisa memberikan status kenalaran terhadap peristiwa-peristiwa kesejarahan?

Kelima, bagaimana kita bisa menemukan dan memahami elan vital atau daya hidup yang menggerakan aspek sosial, ekonomi, politik maupun budaya?

Pertanyaan-pertanyaan ambisius ini sebenarnya sering muncul dalam dunia pemikiran modern abad ke-20. Namun pertanyaannya ialah bagaimana mungkin Ibnu Khaldun yang hidup di era kemunduran kebudayaan Islam bisa sampai mengemukakan pertanyaan-pertanyaan yang begitu dalam ini? Bagaimana beliau yakin akan bisa menjawab pertanyaan-pertanyaan seperti ini?

Kualitas pertanyaan dan jawaban memang tidak melulu berkaitan dengan ambisi si subjek penahu. Semua itu terkadang berangkat dari perangkat pengetahuan atau perangkat epistemologi yang digunakan. Tak ayal, perangkat epistemologi yang digunakan Ibnu Khaldun sangat berbeda jauh dengan perangkat epistemologi yang kita gunakan saat ini. Perangkat epistemologi Ibnu Khaldun lebih luas dan menyeluruh dari yang kita miliki. (Baca: al-Muqaddimah karya Ibn Khaldun: Proyek Epistemologi Pengetahuan dan Kebudayaan Islam)

Sampai di sini, berangkat dari perangkat epistemologi yang kita gunakan, pertanyaan-pertanyaan ambisius di atas jelas tidaklah menemukan relevansinya di masa kita ini. Kendati demikian, jika kita lihat pertanyaan-pertanyaan di atas melalui perangkat epistemologi yang digunakan Ibnu Khaldun sendiri, tentu bisa bisa dibenarkan dan tentu sangat relevan.

Baca Juga :  Kekhalifahan Demak Bukan di Bawah Kekuasaan Turki Ustmani Seperti Klaim Film JKDN

Perangkat epistemologi yang kita miliki ialah perangkat epistemologi yang hanya memiliki satu dimensi, yakni dimensi yang batasan-batasannya sangat ditentukan oleh pengalaman dan silogisme dan semua prinsip-prinsip teoretis yang dibentuk oleh pengalaman dan silogisme. Batasan dan prinsip teoretis yang dibentuk oleh pengalaman dan silogisme membentuk apa yang sekarang kita sebut pemikiran ilmiah. Sedangkan perangkat epistemologi yang digunakan oleh Ibnu Khaldun memiliki dua dimensi:

Pertama, dimensi yang batasan-batasannya ditentukan oleh rasio. Rasio di sini dimaknai sebagai daya pikir berbasis pengalaman dan pencerapan panca indera. Rasio ini cara kerjanya ialah intensi ke luar subjek yang biasanya melihat kronologi tiap peristiwa untuk mengetahui sebab akibatnya atau hukum kausalitasnya. Dalam bahasa Ibnu Khaldun, rasio seperti ini namanya ialah rasio empiris (al-aql at-tajribi).

Kedua, dimensi yang batasan-batasannya ditentukan oleh jiwa. Jiwa menurut Ibnu Khaldun ialah “entitas ruhani yang memiliki potensi untuk terlepas dari pengaruh naluri kemanusiaan sehingga bisa masuk ke alam malaikat dan menjadi seperti malaikat dan melalui jiwa ini, si subjek dapat memperoleh pengetahuan-pengetahuan ghaib”.

Sampai di sini, melalui perangkat epistemologi yang berbasis pada dua dimensi ini: dimensi rasio dan dimensi jiwa, Ibnu Khaldun dengan sendirinya dapat menafsirkan lebih jauh dan memberikan penjelasan lebih rinci tentang semua fenomena kesejarahan, fenomena kehidupan manusia secara keseluruhan, baik fenomena spritiual maupun fenomena material.

Dengan dua perangkat epistemologi ini, semua fenomena yang tidak bisa ditafsirkan oleh rasio dapat ditafsirkan oleh jiwa. Jika ada objek pengetahuan yang tidak bisa dijangkau oleh rasio, maka ia bisa didekati dengan jiwa. Misalnya surga, neraka, akhirat dan seterusnya merupakan wilayah yang tidak bisa dijangkau oleh rasio namun bisa direngkuh oleh jiwa. Dan yang lebih mudahnya lagi, dualisme yang ada pada tataran epistemologi ini sangat bersesuaian dengan dualisme yang ada pada tataran ontologi: alam materi dan alam ruhani.

Baca Juga :  Benih Teori Evolusi dalam Pemikiran Ibnu Khaldun

Rasio hanya bisa digunakan sebagai perangkat epistemologis untuk memahami hal-hal yang ada di alam materi sedangkan jiwa hanya bisa digunakan untuk memahami hal-hal yang ada di alam spiritual. Sesuatu yang tidak bisa dijangkau oleh rasio bisa dijangkau oleh jiwa. Meski jiwa bisa menjangkau yang tak terjangkau rasio namun perananya hanya bersifat subjektif dan tidak bisa disampaikan dan diajarkan ke orang lain. Sebut saja, pengetahuan hasil olahan jiwa tidak bisa diobjektifikasi.

Rasio dan jiwa memang merupakan perangkat epistemologi yang menjadi basis pondasional bagi pemikiran Yunani Kuno dan pemikiran abad pertengahan. Namun demikian, berbeda dari pemikir Yunani dan pemikir abad pertengahan, Ibnu Khaldun malah memberikan fungsi baru terhadap peranan rasio dan jiwa ini dalam menafsirkan semua fenomena material dan fenomena spiritual. Bahkan bisa dikatakan, Ibnu Khaldun melampaui pemikiran Yunani dan abad pertengahan soal rasio dan jiwa dalam pemerolehan pengetahuan.

Dengan dua perangkat epistemologis ini, jiwa dan rasio, Ibnu Khaldun bahkan mengkritik berbagai ilmu pengetahuan yang berkembang sampai ke masanya. Ulasan-ulasannya tentang berbagai pengetahuan yang berkembang dalam kebudayaan Arab Islam berbasis pada dua perangkat epistemologis ini, dengan sendirinya, membentuk epistemologi yang khas khaldunian.

Kita akan mengulas lebih jauh bagaimana Ibnu Khaldun menggunakan rasio dan jiwa pada tataran ontologi dan epistemologi.

1 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Ibnu Khaldun di kalangan para ahli lebih banyak dikenal sebagai perintis sosiologi dalam kebudayaan Arab Islam. Tak hanya itu, lewat telaahnya terhadap sejarah masa silam, Ibnu Khaldun dikenal juga sebagai filosof sejarah. Namun ada satu hal yang luput dari pengamatan para pemerhati Ibnu Khaldun, yakni ulasan epistemologi Ibnu Khaldun yang dapat kita temukan di sela-sela ulasannya tentang pengetahuan dalam kebudayaan Islam. (Baca: Rasio dan Jiwa sebagai Instrumen Pengetahuan dalam Epistemologi Ibnu Khaldun) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here