Ramadan sebagai Momentum untuk Memperbaiki Diri

0
688

BincangSyariah.Com – Salah satu tujuan puasa Ramadan diwajibkan oleh Allah kepada umat Islam adalah untuk memperbaiki diri kita, baik lahir maupun batin. Puasa Ramadan memiliki keistimewaan tersendiri dibanding ibadah-ibadah yang lain dan tentunya memiliki akibat yang istimewa pula dalam kemampuannya memperbaiki diri.

Dalam Alquran surah Albaqarah ayat 183, Allah menegaskan bahwa puasa diwajibkan supaya kita menjadi orang bertakwa kepada Allah. Dan ini tak lain kecuali untuk memperbaiki diri kita secara batin. Allah berfirman;

يَا أَيُّهَا الَّذِينَ آَمَنُوا كُتِبَ عَلَيْكُمُ الصِّيَامُ كَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِينَ مِنْ قَبْلِكُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُونَ

“Hai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa.”

Selain itu, puasa diwajibkan untuk memperbaiki perilaku lahir. Selama berpuasa, kita dilarang berkata bohong, berkhianat, mengumpat orang lain, dan lain sebagainya. Ketika puasa, kita dituntut untuk selalu berperilaku baik, berkata jujur dan benar, berkata lemah lembut kepada orang lain. Dalam hadis riwayat imam al-Bukhari dari Abu Hurairah, dia berkata bahwa Nabi Saw. bersabda;

مَنْ لَمْ يَدَعْ قَوْلَ الزُّورِ وَالْعَمَلَ بِهِ فَلَيْسَ لِلَّهِ حَاجَةٌ فِى أَنْ يَدَعَ طَعَامَهُ وَشَرَابَهُ

“Barangsiapa yang tidak meninggalkan perkataan dusta serta melakukannya, maka Allah tidak butuh dari rasa lapar dan haus yang dia tahan.”

Dalam hadis riwayat Ibnu Majah dari Abu Hurairah juga disebutkan bahwa Nabi Saw. bersabda;

لَيْسَ الصِّيَامُ مِنَ الأَكْلِ وَالشَّرَبِ ، إِنَّمَا الصِّيَامُ مِنَ اللَّغْوِ وَالرَّفَثِ ، فَإِنْ سَابَّكَ أَحَدٌ أَوْ جَهُلَ عَلَيْكَ فَلْتَقُلْ : إِنِّي صَائِمٌ ، إِنِّي صَائِمٌ

“Puasa bukanlah hanya menahan makan dan minum saja. Akan tetapi, puasa adalah dengan menahan diri dari perkataan sia-sia dan kotor. Apabila ada seseorang yang mencelamu atau berbuat usil padamu, katakanlah padanya, ‘Aku sedang puasa, aku sedang puasa.’”

Dengan demikian, salah satu ukuran puasa kita akan diterima atau ditolak oleh Allah adalah dengan melihat perilaku lahir kita. Apabila perilaku lahir kita baik, maka puasa kita kemungkinan besar akan diterima. Tapi apabila sebaliknya, sudah pasti akan ditolak oleh Allah. Hal ini sebagaimana dikatakan Dr. Ratib al-Nabulisi; ‘ibadah formal seseorang tidak diterima selama ibadah interaktifnya dengan orang lain tidak benar.’



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here