Ramadan di London: Dari Pola Hidup yang Berubah hingga Shalat Witir Beda Mazhab

1
774

BincangSyariah.Com – London, siapa yang mengenal kenal kota ini?. Kota ini sudah sangat sering muncul di berbagai film, berita, video musik, dokumenter, dan berbagai media lainnya dikarenakan banyaknya landmark-landmark yang melegenda seperti Elizabeth Tower (lebih dikenal dengan sebutan Big Ben), House of Parliament, Westminster Abbey (tempat Sir Isaac Newton dan Stephen Hawking dimakamkan), Buckingham Palace (Istana Negara-nya Sang Ratu), Tower Bridge, dan banyak lagi. Pada tulisan singkat ini saya ingin sedikit berbagi pengalaman menjalani Ramadan di kota megah ini, yaitu ketika saya sedang menempuh studi S2 di University College London pada tahun 2016-2017.

Mungkin ada baiknya kalau saya bercerita sedikit mengenai Islam di London. London sendiri sebenarnya termasuk kota yang cukup “muslim friendly”. Anda tidak akan kesulitan mencari, masjid, tempat makan berlabel halal, dan penjual daging halal. Ini dikarenakan jumlah penduduk Muslim yang cukup banyak. Mereka kebanyakan bertempat tinggal di wilayah London bagian timur dan berasal dari “IPB” (India, Pakistan, Bangladesh). Orang Asia Tenggara, terutama Malaysia, juga cukup banyak, begitu pula yang dari Afrika dan Timur Tengah.

Beragamnya umat Muslim di kota ini pada akhirnya berdampak pula pada beragamnya madzhab yang dipraktekkan. Muslim “IPB” kebanyakan bermadzhab Hanafi, sedangkan muslim Asia Tenggara bermadhzab Syafii. Madzhab Hanbali diamalkan oleh masjid-masjid yang didanai oleh Saudi Arabia dan madzhab Maliki dipraktekkan oleh mereka yang pernah belajar Islam ke Afrika Utara.

Suasana Ramadan pun bisa tampak di London. Beberapa supermarket menghiasi ruangan denga tulisan seperti “Ramadan Kareem” atau “Ramadan Mubarak” dan bahkan memberikan diskon khusus untuk beberapa produk yang sering dikonsumsi umat Islam seperti kurma, sayuran, dan sebagainya. Sebagian masjid-masjid juga menyediakan iftar bersama dengan menu yang bermacam-macam. Masjid di dekat rumah saya di daerah Stratford, Masjid Tawheed, misalnya, menyediakan chicken wings, kurma, pisang, dan susu, sedangkan London Central Mosque, masjid terbesar di London yang lokasinya dekat dengan Baker Street, menyediakan sekotak nasi biryani, kurma, dan sebotol air untuk seluruh jama’ah masjid.

Baca Juga :  Benarkah Semua Penganut Agama Disebut Muslim oleh Al-Qur'an?

Ada dua pengalaman menarik selama saya berpuasa di kota kelahiran David Beckham ini. Yang pertama adalah perubahan pola hidup. Seperti yang kita tahu, London adalah kota empat muslim dan setiap muslim memiliki durasi siang-malam yang berbeda. Pada tahun 2017, Ramadan jatuh pada akhir bulan Mei – Juni, yaitu ketika masuk musim panas. Artinya, durasi siang jauh lebih lama dibandingkan dengan durasi malam.

Ketika itu saya berpuasa sekitar 18 jam. Waktu Maghrib ketika itu sekitar pukul 21:00, Isya sekitar pukul 22:30, dan Subuh sekitar pukul 02:30. Salat Tarawih di Masjid Tawheed dekat rumah saya selesai sekitar pukul 12 malam dan mulai sahur jam 01:30. Dengan kata lain, waktu senggang saya di malam hari hanya sekitar 1,5 jam (jam 00:00 – 01:30) dan kurang cocok untuk tidur karena akan sangat beresiko terlewat salat subuh. Karena itu, selama Ramadan saya terpaksa membalik pola hidup: bangun di malam hari, tidur di siang hari. Yah lumayan lah, hitung-hitung bisa “qiyamul layl”  sebulan penuh selama Ramadan. Untungnya saat itu sudah tidak ada lagi perkuliahan dan “hanya” mengerjakan Tesis, sehingga saya bisa tidur di siang harinya.

Raamadan di London
Suasana menjelang shalat tarawih di London Central Mosque

Pengalaman berikutnya adalah ketika melaksanakan salat witir. Seperti yang diuraikan sebelumnya, ada beragam madzhab yang dipraktekkan komunitas Muslim di London karena mereka berasal dari berbagai wilayah. Suatu ketika, saya pergi salat tarawih di masjid yang pengurus dan jama’ahnya adalah orang-orang “IPB”. Ketika salat witir dan imam selesai membaca surat pendek, imam takbir, namun alih-alih rukuk, beliau kembali bersedekap lalu membaca do’a secara sirr (perlahan). Saya yang biasa salat witir dengan madzhap Syafii sudah akan rukuk, namun akhirnya buru-buru membenarkan posisi mengikuti imam.

Baca Juga :  Cara Nabi Melepas Kepergian Ramadan

Dalam perjalanan pulang, saya mencoba menerka-nerka apa yang sebenarnya dilakukan imam tadi. Setelah agak lama mikir, saya baru teringat kalau orang-orang “IPB” bermadzhab Hanafi. Mungkin itu cara madzhab Hanafi melakukan doa qunut, pikirku. Saya pun coba cari informasi (baca: Googling) tentang doa qunut ala Hanafi, dan ternyata benar yang dilakukan imam tadi adalah qunut. “Ternyata Islam itu warna-warni ya”, pikirku sambil tersenyum sendiri.

Ketika Idul Fitri tiba, tidak sulit untuk menjalankan salat Ied. Kebanyakan masjid menyelenggarakan salat Ied yang biasanya dibagi menjadi beberapa gelombang karena banyaknya jama’ah. Sebagian yang lain ada yang melaksanakan salat di tanah lapang. Untuk orang Indonesia, KBRI London menyelenggarakan salat Ied berjamaah lalu dilanjutkan dengan halal bi halal sebagaimana lazimnya di tanah air.

Selama Bulan Ramadan 2019, BincangSyariah.Com menayangkan tulisan tentang  Jejak Islam di Dunia

1 KOMENTAR

  1. ini di karenakan si penulis tidak pernah belah tenteng ilmu ushul fiqh, sehingga dia tidak tahu bahwa ada qoidah الحكم يدور مع علته وجودا وعدما. Hukum itu berlaku tergantung pada ada atau tidak adanya faktor yang mempengaruhi. Maka jika ada faktor yang mempengaruhi akan adanya perubahan, maka dengan sendirinya hukum itupun akan berubah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here