Ramadan dalam Benak Bocah

0
348

BincangSyariah.Com – Setiap kali Ramadan datang, saya selalu terkenang ngabuburit di masa kecil. Tahun 1997-an. Kami (saya dan teman-teman) menunggu azan magrib sambil bermain di halaman langgar atau musala. Petak umpet, bola kasti hingga engklek, permainan tradisional dengan cara melompat dengan satu kaki, tak pernah luput kami mainkan setiap sore. Kala itu, kami, anak-anak berumur 10-12 tahun menyambut bedug magrib dengan perasaan bahagia.

Tangan-tangan kecil kami sibuk menggenggam bola kasti yang besarnya sekepal tangan. Melemparkan ke arah lawan dengan mengayunkan bola sekuat tenaga. Pundak, bahu, dan lengan kami pun ikut bergerak, elastis, hingga membuat tonjolan-tonjolan liat yang kemudian kami ketahui bernama otot. Tak pelak, kami akan tergelak menyaksikan lawan berjatuhan dan diri ini meraih kemenangan.

Jika waktu berbuka masih lama kami beralih ke permainan petak umpet. Permainan yang melatih kepekaan karena semua indra harus diaktifkan. Ekor mata kami gesit menangkap setiap pergerakan kecil. Biasanya, kibaran baju-baju dekil akan menyembul dari balik batang-batang besar pohon kawista, pohon asem, bahkan kadang di atas bedug yang besar.

Hidung kami mahir mengendus aroma keringat dan bau tubuh kawan-kawan kami. Telinga kami terlatih mendengar suara lirih dan bisik-bisik. Ya, tanpa sadar kami menjadi sensitif, reaktif dan responsif.

Kaki-kaki kecil kami lincah berlari, mengejar lawan atau memungut ‘kojo’ yang terbuat dari serpihan genteng ataupun batu yang berbentuk persegi kecil. Perkakas kami bermain engklek. Kotak demi kotak bergaris yang digambar di atas tanah kami loncati hingga membuat otot-otot kaki pun terbentuk menghasilkan betis yang liat. Tak ada rasa capai, dahaga terbayar sudah dengan gelak tawa.

Mata-mata kecil kami berbinar ketika melihat gelas-gelas plastik berisi air limun yang nampak segar. Liur kami hampir tak tertahan ketika hidung ini menangkap aroma hangat gorengan dan wanginya sambal oncom.

Baca Juga :  Tidurnya Orang Puasa Itu Ibadah, Hadis Atau Bukan?

Tak jauh dari arena kami bermain, ada satu meja kecil tempat pak muazin menggelar beragam macam takjil yang disuguhkan untuk mereka yang berbuka di langgar. Karpet-karpet hijau sedikit usang mulai digelar. Pertanda tiga puluh menit lagi waktu berbuka tiba.

Saya masih mengingat wajah teduh pak ustaz, yang dari mulutnya tak pernah sekalipun saya dengar teriakan kebencian kepada mereka yang berbeda dari kami. Dengan bajunya yang itu-itu saja, pak Ustaz banyak memberikan ceramah tentang pentingnya menjaga persaudaraan.

Satu-persatu punggung kami mulai menjauh. Pamit pulang. Membasuh badan yang penuh dengan peluh. Kami tak pernah berburu takjil. Sesekali kami beruntung, memunguti buah-buah kawista yang jatuh dan berharap bisa dibuat dodol oleh ibu.

Suasana ngabuburit seperti itu jarang saya dapati di kota. Hiruk-pikuk dan gemuruh klakson selalu menjadi pertanda datangnya bedug magrib. Jalanan penuh, orang-orang berhamburan seperti merayakan ngabuburit berjamaah di jalan. Tangan-tangan kecil dan dewasa sibuk memilih makanan, yang terkadang mereka pun tak tahu apakah sanggup menandaskan makanan yang sudah dibelinya.

Tahun ini, Ramadan datang penuh kedukaan. Rentetan peristiwa yang terjadi di negeri ini seminggu sebelum Ramadan sungguh memilukan. Tak terpikir dalam benak, bagaimana bisa manusia sekeji itu? Saya mungkin terlalu naif. Bukankah peradaban sedikitnya dibangun di atas lumuran darah manusia yang dibunuh oleh sesamanya? Kehadiran pemimpin-pemimpin keji turut membangun sejarah. Nyatanya manusia bisa menangis melihat penderitaan tapi banyak juga yang terbahak di atas penderitaan orang lain.

Seharusnya di hari pertama puasa, meski tak menjalaninya. Evan (11 tahun) dan Ethan (8 tahun), bisa ikut berbaur dengan teman-teman sebayanya berburu kolak ataupun turut meramaikan mall. Ais (8 tahun) anak pelaku bom bunuh diri di Mapolrestabes Surabaya yang selamat, menjalani Ramadan kali ini dengan luka tubuh dan luka hati yang mungkin baru akan sembuh bertahun-tahun ke depan.

Baca Juga :  Mengingat Kembali Dokumen A Common Word Between Us and You: Sebuah Upaya Mencari Titik Temu Antara Islam dan Kristen

Begitu juga dengan dua orang anak perempuan, putri pelaku bom bunuh diri yang seusianya masih haus akan bermain. Seharusnya mereka dapat menyambut malam tarawih pertamanya dengan gembira, bertemu teman tarawih dan bercanda. Menyedihkan sekali, kedua bocah kecil itu harus menjadi perpanjangan ambisi orang tuanya.

Di lain tempat, keponakan saya berumur 8 tahun, menyaksikan televisi yang terus memuat berita tentang bom dengan bingung. Dia bertanya-tanya tentang apa itu teroris, mengapa dan siapa? Meski dalam benaknya dipenuhi oleh banyak pertanyaan. Di hari pertama puasanya ia menunggui adzan magrib sambil bercengkrama dengan gadget-nya.

Mulutnya fasih berbicara tentang beragam games yang diunduhnya. Tangannya mahir memencet tombol-tombol petunjuk. Baginya, Ramadan penuh keberkahan, jam pulang sekolahnya menjadi lebih awal. Ngabuburit sambil bermain games dan menonton Upin-Ipin menjadi pilihannya. Keponakan saya pun tak kuasa menolak apa yang sudah disuguhkan oleh zaman.

Teman saya, seorang Kristen, ia pun mengaku bahagia jika Ramadan tiba. Meskipun ketika saya tanya, bagian mana yang membuat ia bahagia, ia menggeleng, tak dapat menjelaskannya.  Ramadan masih menyisakan banyak hari ke depan. Cerita-cerita baru akan dirangkai oleh mulut-mulut kecil yang mungkin puluhan tahun kemudian bisa menuliskannya. Ramadan tak pernah berubah, ia selalu menjadi cerita paling istimewa bagi setiap bocah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here