Raja An-Najasyi dan Wajah Baru Arius

0
942

BincangSyariah.Com – Di antara peristiwa kesejarahan yang amat penting di masa-masa munculnya Islam sebagai agama ialah kebijakan Nabi SAW untuk membuka kesempatan hijrah ke Habasyah bagi para sahabatnya yang tertindas oleh kaum musyrik Quraisy.

Hijrah ini merupakan salah satu peristiwa yang membuka relasi kaum beriman dengan dunia luar. Peristiwa hijrah ini terjadi di tahun kelima kenabian ketika Quraisy bersepakat untuk mengucilkan Nabi dan suku yang mendukungnya, Bani Hasyim di kawasan pegunungan sekitar Mekkah yang sebelumnya berada di bawah kendali pamannya, Abu Thalib.

Nabi berpesan, seperti yang dituturkan Ibnu Hisyam dalam as-Sirah an-Nabawiyyah, kepada para sahabatnya: Pergilah ke negeri Habsyah karena di sana ada raja yang tidak akan mungkin menindas seorang pun. Habsyah adalah negeri aman. Pindahlah ke sana sampai Allah memberikan solusi bagi keadaan kalian saat ini.

Lalu hijrahlah para sahabat Nabi, generasi kaum beriman pertama, ke Habsyah yang dipimpin oleh Jafar bin Abi Thalib. Kepada sepupunya tersebut, Nabi menitipkan surat untuk raja an-Najasyi (yang akan kita sebutkan nanti).

Melalui data kesejarahan ini kita dapat mengetahui secara pasti bahwa Nabi sangat memahami betul kondisi dan situasi di Habsyah beserta kecenderungan agama rajanya. Tinggal yang menjadi pertanyaan ialah pertama, bagaimana situasi dan kondisi yang sesungguhnya di Habsyah? dan kedua, darimana Nabi mengetahui kecenderungan agama yang dianut oleh rajanya?

Beberapa sumber menyebutkan bahwa raja yang dibicarakan Nabi tersebut bernama Ashamah bin Abhar. As-Suhaili dalam ar-Raudh al-Unf menyebutkan riwayat dari Aisyah yang menginformasikan bahwa Ashamah ini pernah tinggal lama di Jazirah Arab, yakni antara Mekkah dan Madinah, dan pernah menjadi budak untuk kabilah Bani Dhamrah setelah keluarga kerajaan menjualnya kepada seorang saudagar Arab. Saat itu sang raja masih berusia belia. Ketika terjadi perselisihan seputar pewaris tahta kerajaan di Habasyah keluarga kerajaan mengembalikan kerajaan kepadanya dan menjadikannya raja.

Baca Juga :  Abdullah Saeed: Kontekstualisasi Al-Quran Di Abad 21

As-Suhaili menegaskan bahwa karena lamanya tinggal di wilayah Arab, an-Najasyi ini sangat menguasai bahasa Arab. Hal demikian dipertegas juga oleh sumber-sumber kesejarahan lainnya seperti karya Ibnu Hisyam, Ibnu Ishaq, al-Waqidi dan lain-lain. an-Najasyi sangat paham dengan ayat al-Quran dari surah Maryam yang dibacakan oleh Jafar bin Abi Thalib.

Mungkin bisa ditambahkan juga bahwa an-Najasyi ini sering berinteraksi dengan uskup-uskup dari sekte pengikut ajaran Arius. Dan melalui informasi ini, Nabi mengetahui situasi dan kondisi Habsyah dan aliran Kristen yang dianut rajanya sebelum diutusnya beliau menjadi Rasul. Karena itu,wajar jika beliau menyarankan para sahabatnya untuk hijrah ke Habsyah karena karena di sana ada raja yang tidak akan mungkin menindas seorang pun.

Beberapa hasil penelitian Arkeologi dan Antropologi modern (Encyclopedia Universalis) menyebutkan bahwa bangsa-bangsa Semit yang tinggal di Habsyah sebenarnya berasal dari bagian selatan Jazirah Arab.

Kerajaan Aksum yang menjadi leluhur penduduk negeri Habsyah dan yang pernah berdiri di abad pertama sebelum masehi pernah menyerang wilayah selatan Jazirah Arab di abad ketiga Masehi. Aksum menguasai kawasan dua tepi Laut Merah.
Kerajaan ini juga meliputi wilayah timur laut Etiopia saat ini dan sebagian wilayah selatan Eretria. Soal pastinya wilayah Habsyah ini pernah menjadi polemik, apakah ia termasuk wilayah Sudan atau Etiopia.

Kerajaan ini pada mulanya menganut kepercayaan lokal yang ada di Yaman. Namun tepatnya pada tahun 330 masehi, Raja Aksum yang bernama Ezana dan para pembesar kerajaan lainnya menganut agama Kristen sekte Yakobite atau al-Yaqubiyyah.

Sekte Yakobite ini mempercayai bahwa kodrat manusiawi dan kodrat ilahi tergabung menjadi satu kodrat tunggal. Dengan kata-kata lain, Yesus merupakan satu substansi yang terdiri dari dua kodrat; aspek kemanusian Yesus dan aspek keilahian Yesus.

Baca Juga :  Hadis-hadis Keutamaan Istighfar

Dua aspek ini tergabung menjadi satu kodrat. Dalam bahasa Arabnya, Yesus itu merupakan tabiah min tabiatain satu substansi yang berasal dari dua kodrat’. Sekte ini dianut oleh gereja Koptik di Mesir.

Sepuluh tahun sebelum itu, seperti yang disebutkan dalam History of the Christian Church karya Eughraph Smirnov (penulis membaca versi terjemahan Arabnya yang berjudul Tarikh al-Kanisah al-Masihiyyah, h.195), kaisar Konstantin yang pada mulanya menganut mazhab Arius telah menunjuk salah seorang pengikut Arius sebagai uskup di Yaman pada tahun 320 yang tujuannya ialah untuk menjamin kebebasan beragama bagi para saudagar yang telah memeluk agama Kristen.
Uskup ini pada tahap selanjutnya telah berhasil dalam usahanya mengkristenkan kepala suku Himyar dengan mengikuti mazhab Arius.

Melalui penjelasan ini, dapat disimpulkan bahwa penduduk di kerajaan Aksum (Habasyah) menganut Kristen ajaran Arius terlebih dahulu sebelum pada tahap selanjutnya pindah ke mazhab Yakobite.
Jadi sudah bisa terjawab bahwa kenapa an-Najasyi dengan sangat mudahnya masuk Islam. Hal demikian karena ajaran Arius yang dianut oleh an-Najasyi dan ajaran Islam sangat berdekatan.

Karena saling berdekatan inilah dulu di masa Bani Umayyah pernah ada seorang pendeta bernama Yuhanna ad-Dimasyqi (St. Yohannes dari Damaskus) dalam bukunya yang terkenal Kitab al-Hirtiqah al-Mi’ah mengatakan:

قام فيما بينهم نبي منتحل اسمه محمد والذي أنشأ هرطقته الخاصة بعد أن تعرف بالصدفة على العهد القديم والجديد وبعد أن تحاور كما يبدوو مع راهب آريوسي.

“…..Muncullah di kalangan Bani Ismail seorang Nabi bernama Muhammad yang memunculkan bidah dan heresy setelah mempelajari perjanjian lama dan perjanjian baru dan setelah berdialog dengan para pendeta madzhab Arius”

Kutipan ini, terlepas dari kesan penilaian bahwa Islam menjiplak dua kitab perjanjian, paling tidak, menunjukkan bukti kesejarahan kepada kita bahwa ramalan akan datangnya Nabi di masa pra diutusnya Muhammad SAW itu berasal dari pendeta-pendeta Kristen yang berasal dari mazhab Arius ini.

Baca Juga :  Menyoal Tradisi Nyekar Jelang Ramadan

Dalam berbagai literatur Arab juga, sekte Kristen heretic ini disebut juga sebagai Hunafa atau penganut ajaran Hanifiyyah dan dalam sumber-sumber keislaman juga mereka disebut sebagai al-muwahhidun.

Para pembesar kerajaan Habsyah yang saat itu melakukan pembangkangan terhadap an-Najasyi yang telah masuk Islam didorong oleh faktor kenyataan bahwa an-Najasyi sendiri menganut mazhab Arius yang dekat dengan Islam sedangkan para pembesar kerajaan menganut mazhab Yakobite.

Dari mazhab Arius inilah, mazhab yang tertindas pasca konsili Nicea II, muncul kesadaran kuat di kalangan penganutnya, kesadaran yang termanifestasikan ke dalam ramalan akan datangnya Nabi baru yang akan mendongkel ajaran selain mazhab mereka.

Inilah yang dipahami betul oleh Salman al-Farisi sehingga beliau pergi ke Jazirah Arab untuk menemui nabi baru tersebut. Ini pula yang disadari betul oleh Muqauqis, an-Najasyi, Heraklius dan Autokrator (dalam literature Arab disebut ad-Daghatir penerus ajaran Yesus).

Itulah Islam: Nabi baru, agama baru dan Arius dihidupkan kembali dengan wajah barunya, Islam!



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here