Rahmat Rasulullah terhadap Non-Muslim

0
716

BincangSyariah.Com – Dalam Kitab Dalail al-Khairat dijelaskan bahwa Rasulullah memiliki 201 nama. Uniknya, keseluruhan nama tersebut sekaligus menjadi sanjungan atas kemuliaan beliau SAW. Di antara nama-nama Rasulullah terdapat nama yang menunjukkan bahwa beliau adalah Rasul yang penyayang, yaitu: Rasul ar-Rahmah, Nabi ar-Rahmah, Rahmah, Miftah ar-Rahmah, dan Raufurrahim.

Rahmat atau kasih sayang Rasulullah ditegaskan dalam firman Allah:

وَمَا أَرْسَلْنَاكَ إِلَّا رَحْمَةً لِلْعَالَمِينَ

dan Tiadalah Kami mengutus kamu, melainkan untuk (menjadi) rahmat bagi semesta alam.” (Q.S. Al-Anbiya [21] : 107).

Juga ditegaskan dalam sabda Rasulullah sebagaimana diriwayatkan dalam Sunan ad-Darami:

عَنْ أَبِى صَالِحٍ قَالَ: كَانَ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- يُنَادِيهِمْ :(يَا أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّمَا أَنَا رَحْمَةٌ مُهْدَاةٌ

“Dari Abi Shalih berkata: Rasulullah memanggil para sahabatnya, “Wahai sekalian manusia! Aku adalah Rahmah (kasih sayang) dan Muhdaah (yang dihadiahkan)”.

Al-Baihaqi dalam Syu’bul Iman juga meriwayatkan sabda Rasulullah:

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ، قَالَ: قِيْلَ: يَا رَسُوْلَ اللهِ اُدْعُ اللهَ عَلَى الْمُشْركِينَ، قَالَ: )إِنَّمَا بُعِثْتُ رَحمَةً، وَلَمْ أُبْعَث عَذَّابًا

Dari Abu Hurairah, berkata: Dikatakan pada Rasulullah: “Wahai Rasulullah! Berdoalah kemudaratan untuk kaum musyrikin”. Nabi bersabda, “Aku diutus hanyalah sebagai rahmat, dan aku tidak diutus sebagai tukang siksa.”

Kasih sayang Rasullah berlaku untuk seluruh alam, termasuk untuk golongan non-muslim. Ibnu Abbas mengatakan, “Rahmat Rasulullah berlaku umum bagi orang yang beriman dan yang tidak beriman. Bagi yang beriman, Rasulullah adalah rahmat bagi mereka di dunia dan akhirat. Sedangkan yang tidak beriman, Rasulullah adalah rahmat bagi mereka di dunia saja, yaitu ditangguhkan siksaan mereka, tidak dirubah wajah mereka (menjadi rupa hewan), tidak ditenggelamkan, dan tidak dimusnahkan.”

Baca Juga :  Maqashid as-Shiyam: Literatur tentang Tujuan Pokok Berpuasa dari Ulama Abad ke-5 H

Sikap rahmah Rasulullah terhadap non-muslim dapat disimak dalam beberapa kisah, di antaranya sebagai berikut:

Rasulullah dan Ghaurats bin al-Harits

Dikisahkan dalam Musnad Ahmad, dari Jabir bin Abdullah berkata: Rasulullah SAW berjuang melawan kelompok Muharib (bin) Khashfah di sebuah kebun kurma. Lalu mereka (para musuh) melihat sebagian kaum muslimin dalam keadaan lalai.

Kemudian datanglah seorang laki-laki dari kelompok mereka yang bernama Ghaurats bin al-Harits hingga dia berdiri di dekat kepala Rasulullah SAW dengan membawa pedang dan berkata, “Siapa yang akan yang akan menolongmu dariku?”.

Rasulullah menjawab, “Allah Azza wa Jalla”. Mendengar itu, jatuhlah pedang di tangan Ghaurats, dan kemudian diambil oleh Rasulullah SAW. lalu ganti bertanya, “Siapa yang akan menolongmu dariku?”. Dia membalas, “Jadilah pengambil yang terbaik!

Rasulullah SAW bertanya, “Apakah kau mau bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah?

Dia menjawab, “Tidak! Tetapi aku berjanji kepadamu, tidak akan memerangimu lagi dan tidak akan bergabung dengan kaum yang memerangimu.”

Rasulullah kemudia melepaskan Ghaurats, sehingga kembali menemui para sahabatnya dan berkata; “Aku baru datang bertemu dengan manusia terbaik.

Rasulullah dan Tsumamah bin Utsal

Diceritakan dalam Sahih Bukhari, Rasulullah SAW pernah mengutus pasukan berkuda menuju arah Najed, kemudian mereka datang kembali membawa seorang (tawanan) dari Bani Hanifah yang bernama Tsumamah bin Utsal.

Kemudian mereka mengikat Tsumamah di salah satu tiang masjid. Nabi SAW lantas keluar menemuai Tsumammah, dan bertanya, “Apa yang ada padamu wahai Tsumamah?

Dia menjawab, “Aku memiliki kebaikan wahai Muhammad. Jika engkau membunuhku, maka engkau telah membunuh orang yang memiliki darah. Jika engkau memberi nikmat (membebaskas), maka engkau memberi nikmat pada orang yang bersyukur. Jika engkau menghendaki harta, mintalah sesukamu.”

Baca Juga :  Antara Cinta, Sufistik dan Kebatinan untuk Kemanusiaan yang Pudar

Keesokan harinya, Nabi kembali bertanya kepada Tsumamah, “Apa yang ada padamu wahai Tsumamah?

Dia menjawab, “Aku memiliki sesuatu yang sudah aku katakan kepadamu. Jika engkau memberi nikmat, maka engkau memberikannya pada orang yang bersyukur.”

Kemudian Nabi meninggalkannya sampai esok lusa, lalu beliau kembali bertanya, “Apa yang ada padamu wahai Tsumamah?

Nabi kemudian bersabda, “Lepaskanlah Tsumamah”.

Tsumamah lalu pergi ke tempat air di dekat masjid untuk melakukan mandi, kemudian kembali memasuki masjid. Setelah itu berikrar, “Aku bersaksi bahwa tidak ada Tuhan selain Allah. dan aku bersaksi bahwa Muhammad adalah utusan Allah.

Tsumamah melanjutkan, “Waha Muhammad! Demi Allah! semula, tidak ada wajah di muka bumi ini yang paling aku benci kecuali wajahmu, dan sekarang wajahmu menjadi wajah yang paling aku cintai. Demi Allah! semula, tidak ada agama yang paling aku benci kecuali agamamu, dan sekarang agamamu menjadi agama yang paling aku cintai. Demi Allah! semula tidak ada negara yang paling aku benci selain negaramau, dan sekarang negaramu menjadii negara yang paling aku cintai.

Rasulullah dalam Perang Uhud

Perang Uhud merupakan perang yang memilukan, karena kaum muslimin mengalami kekalahan. Ditambah kaum musyrikin melakukan tindakan yang sangat menyakitkan. Mereka memecahkan gigi depan Rasulullah, melukai wajah beliau hingga berdarah, beberapa mata rantai zirah beliau menancap ke dalam wajnah (bagian atas pipi) disebabkan pukulan pedang musyrikin.

Perang tersebut membuat tujuh puluh sahabat gugur sebagai syuhada, termasuk paman Rasulllah yaitu Hamzah, yang diperlakukan secara tidak manusiawi. Di antara mereka ada yang membelah perut Hamzah, mengeluarkan hatinya, kemudian mengunyahnya.

Baca Juga :  Dzul Khuwaishirah; Dua Orang Arab Badui yang Berani Tak Sopan pada Nabi

Setelah semua kejahatan itu dilakukan oleh kaum musyrikin Nabi justru mendoakan mereka, “Wahai Allah! ampunilah kaumku, sesungguhnya mereka tidak tahu.

Rasullah dan Pemuda Yahudi

Diriwayatkan dalam Sahih Bukhari, Sunan Abu Dawud dan lainnya, seorang pemuda Yahudi sedang sakit. Kemudian Nabi SAW datang menjenguknya, lalu duduk di dekat kepalanya. Nabi bersabda, “Masuklah Islam.

Pemuda itu kemudian memandang ayahnya yang berada di dekat kepalanya. Ayahnya lalu menjawab, “Patuhlah pada Abu al-Qashim”.

Pemuda itu pun masuk Islam.

Nabi SAW kemudian berdiri sambil bersyukur, “Segala puji bagi Allah, Dzat yang telah menyelamatkan pemuda ini dari neraka, melalui diriku.”

Kisah yang lain tentang kasih sayang Rasulullah kepada non-muslim masih banyak lagi, namun pada intinya memberikan pelajaran bahwa sikap kasih sayang Rasulullah memiliki daya tarik yang sangat besar, sehingga orang-orang yang semula memusuhi beliau dan benci dengan Islam, berubah menjadi senang, simpati dan akhirnya memeluk agama Islam dengan sendirinya tanpa paksaan. []

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here