Rahasia Nilai Emas yang Selalu Stabil, Konon Berkaitan dengan Nabi Adam

0
1540

BincangSyariah.Com – Bagi orang yang bekerja di bidang investasi, ketika mereka diminta untuk memilih antara investasi emas dan uang, mereka tentu akan lebih memilih emas. Nilai emas akan lebih stabil dibandingkan uang. Selain memiliki nilai yang stabil, emas juga digemari oleh banyak orang sebagai bahan untuk perhiasan. Selain emas, perak juga dikenal sebagai benda yang prospek untuk dijadikan komoditas investasi, dan juga dijadikan sebagai bahan untuk perhiasan. (Baca: Hukum Menggunakan Bolpoin Emas)

Ada sebuah alasan yang menyebabkan emas menjadi barang yang prospektif untuk investasi dibandingkan dengan uang misalnya dolar, rupiah atau yang lain. Hal tersebut dikarenakan emas memiliki nilai tinggi karena nilai yang terkandung dalam wujud emas itu sendiri, sedangkan uang yang ada saat ini merupakan fiat money  seperti dolar dan lain-lainnya. Fiat money merupakan uang yang terbuat dari bahan tidak berharga dan tidak memiliki nilai tersendiri. Akan tetapi, keberhargaan uang tersebut karena adanya regulasi dari pemerintah atau sebuah kesepakatan. Begitu juga dengan perak yang memiliki kemeripan dengan emas.

Usut punya usut, ternyata emas memiliki sebuah cerita di balik nilainya yang tinggi, stabil dan diminati banyak orang dibandingkan dengan barang-barang yang lain. Dalam kitab Nashaihul Ibad karangan Syaikh Nawawi al-Bantani, Allah Swt. telah berjanji bahwa emas akan memiliki kemulian yang tinggi selamanya.

Janji Allah SWT tersebut terjadi ketika peristiwa diturunkannya Nabi Adam AS dan Siti Hawa dari surga. Banyak penduduk surga yang menjadi tetangga Nabi Adam AS merasa sedih dan susah ketika mereka berdua diturunkan dari surga ke bumi oleh Allah SWT.

 لما اهبط الله ادم من الجنة إلى الأرض حزن عليه كل شيئ جاوره الا الذهب والفضة

Baca Juga :  Hukum Menggunakan Perabot Emas dan Perak

“Ketika Allah SWT menurunkan Nabi Adam AS dari surga ke bumi, seluruh tetangga Nabi Adam AS merasa sedih kecuali emas dan perak”.

Melihat banyak tetangga Nabi Adam AS yang susah karena diturunkan ke bumi, emas dan perak malah sebaliknya, mereka berdua tidak sedih dan susah. Kemudian Allah SWT menanyakan kepada emas dan perak yang tidak susah padahal mahluk yang lain merasa susah,

فأوحى الله إليهما إني جاورتكما بعبد من عبيدي ثم أهبطته من جواركما فحزن عليه كل شيئ جاوره الا أنتما فقالا إلهنا وسيدنا أنت أعلم أنك جاورتنا به وهو لك مطيع فلما عصاك لم نحزن عليه

“Kemudian Allah SWT berkata: sesungguhnya aku menempatkan kalian berdua (emas dan perak) dengan seorang hamba dari beberapa hambaku, kemudian aku keluarkan Adam AS dari samping tetanggamu, kemudian seluruh tetangga Nabi Adam AS merasa susah kecuali kalian berdua. Kemudian mereka berdua berkata: wahai tuhanku dan tuanku, engkau lebih mengetahui bahwa engkau membuat kami bertetangga dengan Nabi Adam AS, sedangkan Adam AS selalu taat kepada Engkau, ketika Dia melanggar aturan Engkau, maka kami tidak akan merasa susah dengan diturunkannya Nabi Adam AS dari surga”.

Mengetahui alasan emas dan perak yang tidak merasa susah Nabi Adam AS karena berbuat salah kepada Allah SWT seperti dalam Al-Qur’an surat Thaha ayat 120 dan 121,

فَاَزَلَّهُمَا الشَّيْطٰنُ عَنْهَا فَاَخْرَجَهُمَا مِمَّا كَانَا فِيْهِ ۖ وَقُلْنَا اهْبِطُوْا بَعْضُكُمْ لِبَعْضٍ عَدُوٌّ ۚ وَلَكُمْ فِى الْاَرْضِ مُسْتَقَرٌّ وَّمَتَاعٌ اِلٰى حِيْنٍ

Artinya, ” Kemudian setan memperdayai keduanya (Nabi Adam AS dan Siti Hawa) dari surga sehingga keduanya dikeluarkan dari (segala kenikmatan) ketika keduanya di surga. Dan Kami (Allah SWT) berfirman: Turunlah kamu! Sebagian kamu menjadi musuh bagi yang lain. Dan bagi kamu ada tempat tinggal dan kesenangan di bumi sampai waktu yang ditentukan”.

Baca Juga :  Ibnu Rusyd; Ilmuwan Multidisipliner dalam Pusaran Politik Muwahhidun

Tapi perlu diberi catatan bahwa Nabi Adam AS tidak pernah berbuat dosa, karena dalam aqidah Aswaja, para Nabi tidak akan pernah bermaksiat atau berbuat dosa. Akan tetapi beliau salah dalam ijtihadnya ketika memakan buah keabadian, seperti yang dijelaskan oleh Syaikh Ahmad bin Muhammad as-Shawi dalam kitab Hasyiyah ash-Shawi ‘Ala Tafsiril Jalalain surat al-Baqarah ayat 36,

انه اجتهد فأخطأ فسمى الله خطأه معصية فلم يقع منه صغيرة ولا كبيرة انما هو من باب حسنات الابرار سيئات المقربين

Artinya, ”Sesungguhnya Nabi Adam AS berijtihad lalu salah ijtihadnya, maka Allah SWT memberi nama kesalahannya itu dengan maksiat, padahal beliau tidak pernah melakukan dosa kecil maupun dosa besar. Sesungguhnya ini termasuk dalam bab hasanatul abror sayyiatul muqorrobin (kebaikan orang-orang abror sama seperti kesalahan orang muqorrobin).”

Sikap tidak merasa sedih dan susah yang ditunjukkan oleh emas dan perak ketika Nabi Adam AS diturunkan dari surga ke bumi membuat Allah SWT membalas sikap yang ditunjukkan oleh emas dan perak berupa kemulian yang tiada tara dibandingan benda lain sampai sekarang. Hal tersebut terbukti sampai sekarang bahwa tidak ada benda yang memiliki nilai harga yang tinggi dan stabil setiap saat.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here