Ragam Budaya di Hari Raya Idulfitri

0
281

BincangSyariah.Com – Budaya merupakan kebiasaan yang dilakukan oleh sekelompok masyarakat secara berkelanjutan. Pengertian lain menyebutkan bahwa Budaya atau kebudayaan berasal dari bahasa Sanskerta yaitu buddhayah, yang merupakan bentuk jamak dari buddhi (budi atau akal) diartikan sebagai hal-hal yang berkaitan dengan budi dan akal manusia.

Lebih dari itu, Kebudayaan juga bagian dari prodak prilaku masyarakat yang saling diwariskan dari generasi ke generasi. kehadiran proses terbentuknya budayapun banyak dipengaruhi oleh pelbagai macam unsur, seperti: agama, politik, sosial, ekonomi, seni dsb.

Berdasarkan pengaruh-pengaruh tersebut, alhasil budaya tersebut kini seolah-olah telah mencapai pada hukum fardhu ‘ain agar kerap dilaksanakan oleh setiap umat muslim di seantaro Indonesia.

Seperti perayaan hari raya idul fitri ini yang telah membudaya dan mendarahdaging bagi umat muslim Indonesia. Secara syariat memang tidak ada ketentuan maupun hukum yang termaktub dalam nash al-qur’an maupun hadist mengulas tentang penjelasan keharusan adanya unsur-unsur budaya di dalamnya, namun budaya ini merupakan hasil kreasi dan inovasi tangan manusia alias bida’ah hasanah.

Diantara ragam budaya tersebut yang hadir di tengah-tengah realita umat muslim Indonesia, seperti;

1. Nyekar

Istilah nyekar sama saja dengan ziarah qubur, yaitu mengunjungi almarhum/ah di tempat persinggahan terakhir untuk mendoakan mereka (bukan meminta-minta kepada orang yg sudah mati). ini juga bukan berarti di hari lain tidak terjadi, namun momentum ini sangat dimanfaatkan sebagai bagian silaturahim satu tahun sekali Berdoa bersama keluarga. Dimana pada hari ini juga menjadi kesempatan untuk orang-orang yang merantau ketika sedang mudik ke tanah kelahirannya.

Bersandar pada Hadist yang diriwayatkan dari Abu Hurairah, ia berkata: Rasulullah Saw. berziarah kepada makam ibunya, lalu beliau menangis, kemudian menangis pula lah orang-orang di sekitar beliau. Beliau lalu bersabda: “Aku meminta izin kepada Rabb-ku untuk memintakan ampunan bagi ibuku, namun aku tidak diizinkan melakukannya. Maka aku pun meminta izin untuk menziarahi kuburnya, aku pun diizinkan. Berziarah-kuburlah, karena ia dapat mengingatkan engkau akan kematian” (HR. Muslim no.108, 2/671)

Baca Juga :  Lima Adab saat Melakukan Ziarah Kubur

Ditegaskan dalam kitab syarh Shahih Muslim Lin Nawawi (3/402) bahwa tujuan berziarah kubur adalah untuk menasehati diri dan mengingatkan diri sendiri akan kematian. Tidak aneh, jika kuburan-kuburan menjadi salah satu destinasi utama di bulan syawal selain berkunjung ke sanak family yang masih hidup.

2. Ketupat dan Opor Ayam

Kuliner ini menjadi menu spesial untuk dihidangkan. Pasalnya, perayaan hari fitri telah mengundang panggilan hati terutama ibu-ibu sebagai juru masak. Maka, seakan kurang lengkap jika lebaran tanpa ketupat dan opor ayam. Tidak berhenti disitu, hidangan ini disuguhkan kepada sanak famili dan dibagikan kepada para tetangga maupun kolega di tempat kerja agar bisa disyukuri bersama-sama.

وَكُلُوا وَاشْرَبُوا وَلا تُسْرِفُوا إِنَّهُ لا يُحِبُّ الْمُسْرِفِينَ ) سورة الأعراف: 31

Makan dan minumlah, dan janganlah berlebih-lebihan. Sesungguhnya Allah tidak menyukai orang-orang yang berlebih-lebihan.” (QS. Al-A’raf: 31)

Larangan pada ayat ini jelas secara redaksional untuk tidak berlebihan dalam makan maupun minum. Oleh karena itu, sajian opor ayam tidak hanya dinikmati oleh keluarga melainkan para tetangga ikut menikmati sajian tersebut.

3. Reuni dan Halal bi Halal

Banyak cara untuk merajut tali persaudaraan yang terputus karena jarak ataupun lama tak bertemu, merekatkan lebih erat ikatan kekeluargaan. Pada lebaran inilah, disaat orang-orang sedang mudik, mereka mengisi liburan dengan mengadakan acara Reuni dan halal bi halal bersama kawan lama di almamaternya masing-masing.

Anjuran silaturahim juga dijelaskan oleh Nabi dalam sabdanya.

مَنْ سَرَّهُ أَنْ يُبْسَطَ لَهُ فِي رِزْقِهِ أَوْ يُنْسَأَ لَهُ فِي أَثَرِهِ فَلْيَصِلْ رَحِمَهُ

Barang siapa yang ingin dilapangkan rizkinya dan dipanjangkan umurnya, maka hendaklah ia menyambung tali silaturahmi”. [Muttafaqun ‘alaihi].

Baca Juga :  Ragam Pendapat Ulama tentang Ziarah Kubur

Silaturahim ini tidak semata-mata sebatas anjuran belaka, namun ada hikmah di balik itu berupa kelimpahan rezeqi maupun dipanjangkan umurnya.

4. Bagi-Bagi THR

Yang dimaksud yaitu bagi-bagi rupiah kepada para ponakan-ponakan atau anak-anak tetangga. ini sebagai bentuk syukur, berbagi rezeqi berupa materi meskipun tidak dengan nominal besar melainkan itu juga membuat si penerima merasa senang.
Nabi bersabda dalam hal ini

أَحَبُّ النَّاسِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى أَنْفَعُهُمْ لِلنَّاسِ , وَأَحَبُّ الأَعْمَالِ إِلَى اللَّهِ تَعَالَى سُرُورٌ تُدْخِلُهُ عَلَى مُسْلِمٍ , أَوْ تَكَشِفُ عَنْهُ كُرْبَةً

Manusia yang paling dicintai oleh Allah adalah yang paling memberikan manfaat bagi manusia. Adapun amalan yang paling dicintai oleh Allah adalah membuat muslim yang lain bahagia, mengangkat kesusahan dari orang lain” (HR. Thabrani – Al Mu’jam Al Kabir no. 13280, 12: 453).

Oleh karena itu, jangan lewatkan kesempatan berharga di hari lebaran ini. Mari kita warnai dengan wajah sumringah, riang gembira, menuai manfaat, dan juga mengandung nilai-nilai religi. Berharap, kelak ridho-Nya maupun keberkahan senantiasa mengiri kita semua. Amiin
Wallahu a’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here