Rabi’ah ar-Ra’yi Ibn Farrukh; Ahli Hadis yang Dermawan

1
626

BincangSyariah.Com – Nama beliau tidak begitu familiar ditelinga kita, padahal di zamannya beliau adalah permata yang sangat dicari. Seorang Imam Hadis, Mufti Madinah, seorang faqih. Beliau sangat kuat dalam berhujah sehingga dijuluki “ar-Ra’y” orang yang memiliki pandangan yang luas yang terkadang tidak ditemukan di hadis maupun atsar. Beliau juga orang yang sangat dermawan, saking dermawannya sampai pernah menginfaqkan 40 ribu dinar ke kawannya.

Ibn Majisun (W. 213 H) pernah menyampaikan, saya tidak pernah menjumpai seorang ulama pun yang mampu menghafal hadis sebagaimana Rabi’ah Ibn Ra’yi.

Abdullah as-Shan’any (W. TD) pernah menemui Imam Malik (W. 179 H) beliau mengatakan tentang Rabi’ah: kami banyak mendengarkan hadis baru dari Rabi’ah.

Seorang Ibu yang sangat mengagumkan, ia mengorbankan apa saja yang ia miliki demi menjadikan anaknya yang masih kecil sebagai keajaiban di zamannya.

Cerita ini berawal ketika seorang wanita ini menikah dengan seorang mujahid Farukh, yang merupakan mantan budak dari sahabat yang agung ar-Rabi’ bin Ziyad al-Haritsi.

ar-Rabi’ bin Ziyad al-Haritsi, merupakan panglima yang handal yang mampu membuat kemenangan bagi kaum muslimin di berbagai daerah seperti Sajistan dan daerah lainya, ketika usai peperangan, kemenangan jatuh di pihak pasukan kaum muslimin. Mereka telah menggoyahkan kaki-kaki musuh, mencerai beraikan barisannya.

Selanjutnya, panglima besar memberikan hadiah kepada Farrukh atas andilnya yang besar dalam peperangan berupa kemerdekaan dirinya. Farrukh juga mendapatkan bagian ghanimah– harta rampasan- yang banyak, ditambah lagi dengan pemberian secara pribadi dari panglima ar-Rabi’.

Pulanglah Farrukh, si pemuda perkasa, ke Madinah dengan membawa berbagai pemberian dari tuannya. Kini dia bertekad membangun mahligai rumah tangga, menyunting seorang gadis agar lebih tenang hidupnya. Dibelinya sebuah rumah yang sederhana di kota Madinah, dipilihnya seorang gadis yang sudah matang pikirannya, sempurna agamanya, serasi tubuh, dan usianya.

Baca Juga :  Biografi Ibn Rusyd: Sosok Ulama, Dokter, dan Filosof Sekaligus

Farrukh sangat bersyukur atas karunia Allah yang memberinya rumah dan istri yang shalihah yang bernama Suhailah. Sekarang dia benar-benar bisa merasakan kenikmatan hidup didampingi istri yang mampu mengatur semua tatanan kehidupan, persis seperti yang diharapkan dan dicita-citakannya.

Namun rupanya rumah yang nyaman dengan segala kebutuhan hidup dan istri yang shalihah beserta akhlak dan kecantikan yang telah Allah karuniakan kepadanya tak mampu meredam gejolak kerinduannya terhadap jihad fi sabilillah. Pahlawan mukmin ini ingin kembali memasuki medan tempur dengan membawa kerinduan akan suara dentuman senjata dan dahsyatnya jihad fi sabililah. Setiap kali mendengar berita tentang kemajuan yang dicapai pasukan muslimin, makin bertambah kerinduannya untuk berjihad, makin dalam hasratnya untuk dapat syahid di jalan Allah.

Pada saat istrinya hamil pada bulan pertama ia bercerita kepada istrinya tentang tekadnya untuk kembali ke medan jihad, beliau jelaskan kepada istrinya, sehingga istrinya bertanya, “Wahai Abu Abdirrahman, kepada siapa engkau hendak menitipkan saya beserta janin dalam kandungan saya ini, sedangkan engkau adalah orang asing yang tak punya sanak keluarga di kota ini?”

Farrukh berkata, “Aku titipkan engkau kepada Allah dan rasul-Nya. Kemudian aku tinggalkan untukmu uang 30.000 dinar, hasil yang kukumpulkan dari pembagian ghanimah peperangan. Pakailah secukup untuk keperluanmu dan keperluan bayi kita dengan sebaik-baiknya sampai aku kembali dengan selamat dan membawa ghanimah, atau Allah Subhanahu wa Ta’ala memberi aku rezeki sebagai syuhada seperti yang saya dambakan.” Kemudian beliau pamit kepada istrinya, pergi memburu cita-citanya.

Beberapa bulan setelah keberangkatan Farrukh, istrinya yang bijaksana itu melahirkan seorang bayi laki-laki yang cakap dan berwajah tampan. Sang ibu menyambutnya dengan penuh bagia hingga mampu mengalihkan perhatiannya yang telah sekian lama berpisah dengan suaminya. Bayi laki-laki itu diberi nama ar-Rabi’ah. (Lihat: Siyar A’lamin Nubala’, Jilid: 6/91-96) (Masih penasaran, kisah ini bersambung ke hikmah pagi berikutnya hee).

Baca Juga :  Mencukur Kumis Model Kumis ala Adolf Hitler atau Charlie Chaplin Dijawab di Buku Ini

Semoga Allah senantiasa menjaga kita semuanya Aamien Allahumma Aamien. Al-Faqir Ila Allah, ZA.

1 KOMENTAR

  1. bisakah memberikan kisah selengkapnya tentang Rabi’ah ini ke WA 085640525144, dimana kelanjutannya kok sy tdk bisa temukan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here