Quraish Shihab: Ulama Tafsir yang Bijak dan Mendidik

1
690

BincangSyariah.Com – Bagi sebagian orang, terutama yang tidak mengenal karya-karya beliau, Prof. Quraish Shihab mungkin saja lebih dikenal karena berkaitan dengan isu jilbab dan syiah. Penulis pernah mendapati orang-orang yang mencap beliau negatif, akibat dari selentingan issu tersebut. Padahal sejatinya, sosok seperti Quraish Shihab adalah sebenar-benarnya Ulama yang mendidik masyarakat agar melihat suatu permasalahan dari berbagai sudut pandang dan cakrawala yang lebih luas. Tidak sekedar hitam-putih, salah-benar, dalam kacamata yang sempit dan cenderung kaku.

Melalui tulisan ini, penulis hendak memaparkan bagaimana sepak terjang beliau dalam mengayomi masyarakat melalui karya-karyanya dan lembaga yang dipimpin yaitu Pusat Studi Quran (PSQ).

Latar Belakang Sosial Quraish Shihab

Muhammad Quraish Shihab lahir di Rappang, Sulawesi Selatan pada hari Rabu, 16 Februari 1944 bertepatan dengan 22 Safar 1363 H. Rappang adalah kota kecil yang berjarak sekitar 185 km dari kota Makassar. Dalam diri Quraish, mengalir darah bangsawan dan Habib. Dari jalur ibu, Asma, Quraish adalah keturunan dari Kesultanan Rappang. Sedang dari ayahnya, Habib Abdurrahman Shihab, nasabnya bersambung hingga Rasulullah. Meski memiliki nasab yang tinggi, sebagai keturunan percampuran antara bangsawan dan Habib, akan tetapi Quraish Shihab sejak kecil diajari ayahnya untuk tidak membanggakannya.

“Aba mengajarkan anak-anaknya dan sesama keturunan Arab untuk menyatu dengan Indonesia. Karena itu, secara umum keluarga Shihab tidak mengenakan peci putih khas orang Arab, melainkan peci hitam, khas Indonesia. Mengenakan celana, bukan jubbah, bahkan berdasi dan berjas jika ke pesta.” Kata Quraish sebagaimana dikutip dalam buku biografinya. Selain menyatu dengan kultur Indonesia, Habib Abdurrahman Shihab juga enggan dipanggil dengan gelar kebangsawanan seperti sayyid maupun gelar kehormatan seperti haji atau kyai. Hal ini kemudian turut diikuti oleh Quraish Shihab hingga sekarang.

Baca Juga :  Tafsir al-Baqarah [2]: 1-5: Ciri-Ciri Orang yang Bertakwa, Seperti Apa?

Setelah 10 tahun tinggal di Rappang, Habib Abdurrahman Shihab kemudian memboyong keluarganya serta keenam anaknya: Nur, Ali, Umar, Quraish, Wardah, dan Alwi, pindah ke Makassar, tepatnya di jalan Sulawesi lorong 194 nomor 7, terletak di Kampung Buton. Di rumah baru ini kemudian lahir tujuh adik-adik Quraish: Nina, Sida, Nizar, Abdul Muthalib, Salwa, dan si kembar Ulfa dan Latifah.

Pendidikan Hingga ke Mesir

Selain diajarkan dasar ilmu Islam di bawah bimbingan Ayahnya sendiri, Quraish kecil menempuh pendidikan formal di Sekolah Dasar Lompobattang dan berlanjut di SMP Muhammadiyyah Makassar. Karena melihat kakaknya, Ali Shihab yang mahir dalam berbahasa Arab, Quraish kecil bersikeras ingin ikut kakaknya mondok di Malang, Jawa Timur tepatnya di Pesantren Dar al-Hadis al-Faqihiyyah asuhan Habib Abdul Qadir Bifaqih.

Selepas dua tahun menimba ilmu di Pesantren sekaligus menamatkan SMP di Malang, Quraish kemudian berangkat ke Mesir pada November 1958. Di usia 14 tahun, Ia berangkat bersama 14 orang utusan Sulawesi yang di dalamnya ada pula Alwi Shihab adiknya yang berusia 12 tahun. Aba dan Emma’ nya mengantar hingga di Pelabuhan Tanjung Priok Jakarta dengan berlinang air mata.

Di al-Azhar Quraish diterima di kelas dua I’dadiyah yang setara setingkat SMP di Indonesia. Quraish menghabiskan waktu selama 9 tahun untuk mendapatkan gelar sarjana Tafsir dan Hadis dengan predikat Jayyid Jiddan. Dua tahun kemudian, Quraish berhasil mendapatkan gelar master di bidang al-Quran dengan tesis al-I’jaz al-Tasyri’ li al-Quran al-Karim. Setelah ini, Ia diminta pulang untuk mengabdi di IAIN Alauddin membantu Abanya sebagai dosen.

Baru setelah Quraish malang melintang menduduki berbagai jabatan, menikah, dan mempunyai dua orang putri: Najelaa dan Najwa, Ia meneruskan tekadnya untuk menuntaskan jenjang Doktor. Kali ini Ia memboyong serta keluarga kecilnya ke Mesir. Quraish berhasil menjadi doktor ketiga lulusan Mesir dari Indonesia setelah Nahrawi Abdussalam dan Zakiah Darajat. Yang cukup menghebohkan, Quraish berhasil menyelesaikan disertasinya hanya dalam waktu setengah tahun. Hebatnya lagi, disertasi yang berjudul Nazm al-Durar li al-Biqa’I Tahqiq wa Dirasah berhasil mendapatkan predikat tertinggi, Mumtaz Ma’a Martabah Syaraf, atau Summa Cumlaude.

Baca Juga :  Lima Anak Iblis dan Tugas Pokoknya

Kiprah dan Warisan Intelektual  

Sejak menjadi dosen di IAIN Alauddin Makassar pada tahun 1973, Quraish Shihab telah produktif menulis. Namun pada waktu itu, tulisannya untuk bahan kuliah, ceramah dan artikel di media massa. Karya utuh berupa bukunya yang diterbitkan pertama kali adalah Tafsir Almanar Keistimewaan dan Kelemahan, diterbitkan oleh IAIN Alauddin tahun 1984.

Di tahun yang sama, 1984, Quraish hijrah ke Jakarta untuk turut mengabdi di IAIN Jakarta di bawah rektor Harun Nasution, tepatnya di Fakultas Ushuluddin jurusan Tafsir Hadis dan juga di Pascasarjana. Di Jakarta, kemampuan menulis dan ceramah Quraish semakin terasah karena jam terbangnya yang tinggi. Quraish rutin mengisi rubrik tafsir di majalah Amanah, harian Pelita dan media massa lain serta rutin mengisi ceramah di RRI. Hasil tulisannya dari berbagai media itu, kemudian dibukukan Mizan menjadi buku Membumikan al-Quran (1992) dan Lentera Hati (1994).

Karena kepakarannya dalam bidang akademik dan  kepiawaiannya di bidang manajerial serta telah dikenal publik secara luas, Quraish Shihab dipercaya menjadi pucuk pimpinan di IAIN Jakarta pada tahun 1992 dan kembali terpilih di tahun 1996. Di tahun-tahun ini, Quraish membentuk tim untuk melakukan studi kelayakan perubahan status IAIN menjadi UIN. Belum tuntas upayanya, Quraish didapuk menjadi Menteri Agama pada Kabinet Pembangunan VII, 16 Maret 1998. Rektor pengganti, Azyumardi Azra, melanjutkan upaya perubahan tersebut.

Tidak cukup di situ saja, dalam lubuk hati yang paling dalam Quraish memendam hasrat ingin menulis karya tafsir utuh. Kesempatan ini datang ketika Presiden BJ. Habibie menunjuknya sebagai Duta Besar yang berkuasa penuh di Mesir, Somalia dan Jibuti pada tahun 1999. Dimulailah penulisan Tafsir utuh tersebut pada Jumat, 18 Juni 1999, hingga akhir masa jabatannya di tahun 2002, Quraish telah berhasil menyelesaikan 14 jilid. Lalu di tanah air, tepat pada Jumat, 5 September 2003, penulisan jilid ke-15 selesai. Karya monumental itu akhirnya dihidangkan ke khalayak dan dapat dinikmati hingga sekarang.

Baca Juga :  Empat Orang yang Masuk Surga Tanpa Hisab

Warisan intelektualnya kemudian dikokohkan dengan pendirian Yayasan Lentera Hati yang menaungi penerbitan buku-buku Islami dan Pusat Studi al-Quran (PSQ). Lewat dua lembaga ini, kajian al-Quran terus membumi di masyarakat dan dirasakan langsung dampaknya. Tidak hanya oleh kalangan awam, terutama oleh para mahasiswa di bidang studi al-Quran, amat terasa manfaatnya. Terlebih PSQ mempunyai program unggulan yakni Pendidikan Kader Mufassir (PKM) untuk membina para mahasiswa pascasarjana dalam menulis tesis dan disertasi mereka. Quraish Shihab juga berhasil mendirikan Baitul Quran (BQ) yang mempunyai komplek pesantren dan Masjid yang megah di daerah Pondok Cabe, Tangerang Selatan.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here