Proses Pengangkatan Khalifah Umar bin al-Khattab dan Gelar “Amirul Mukminin”

5
42113

BincangSyariah.Com – Setelah para sahabat Nabi mengangkat khalifah Abu Bakar as-Shiddiq, dua setengah tahun adalah usia kekhalifahannya. Memang, usia perjalanan pemerintahan yang tidak lama. Cerita pengangkatan khalifah setelahnya, banyak terdapat dalam tarikh Islam di antaranya al-Bidayah wa al-Nihayah.

Ibnu al-Atsir dalam al-Bidayah wa al-Nihayah menceritakan bahwa proses pengangkatan pemimpin khalifah (istikhlaf) Umar bin Khatthab Ra. berbeda dengan proses pengangkatan Abu Bakar Ra. Abu Bakar Ra. terpilih secara demokratis melalui proses perdebatan yang cukup panjang, hingga akhirnya ia terpilih sebagai khalifah yang sah.

Sedangkan Umar bin Khatthab Ra. diangkat melalui “penunjukan”, semacam surat wasiat yang dititahkan oleh Abu Bakar Ra. Melalui juru tulis Usman bin Affan Ra. Ini cukup mendefinisikan makna kata istakhlafa, yang artinya meminta untuk menjadi khalifah, pemimpin.

Hal itu dilakukan khalifah guna menghindari pertikaian politik antara umat Islam sendiri. Beliau khawatir kalau pengangkatan itu dilakukan melalui proses pemilihan seperti pada masanya, maka situasinya akan menjadi keruh karena kemungkinan terdapat banyak kepentingan yang ada di antara mereka yang membuat umat Islam tidak stabil, sehingga pengembangan Islam akan terhambat.

Sebelum meninggal, Khalifah Abu bakar bertanya kepada para sahabatnya tentang penunjukan Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Beliau menanyakan hal itu kepada Abdurrahman bin Auf, Usman bin Affan, Asid bin Hudhair Al-Anshary, Said bin Zaid serta sahabat-sahabatnya dari kaum Muhajirin dan Anshar. Pada umumnya mereka setuju dengan Abu Bakar dan kemudian disetujui oleh kaum muslim secara serempak.

Ketika Abu Bakar sakit, beliau memanggil Usman bin Affah untuk menulis wasiat yang berisi tentang penunjukan Umar bin Khattab sebagai penggantinya. Tujuannya agar ketika sepeninggal beliau tidak ada kemungkinan perselisihan di kalangan umat Islam untuk masalah khalifah.

Baca Juga :  Hadis '72 Bidadari' untuk Jihadis Menurut Slavoj Zizek

Badri Yatim dalam buku Sejarah Peradaban Islam menukil pandangan bahwa keputusan Abu Bakar tersebut diterima oleh umat Islam sehingga mereka secara beramai-ramai membaiat Umar sebagai khalifah. Dengan demikian keputusan tersebut bukan keputusan Abu Bakar sendiri namun persetujuan umat Muslim semua.

Umar mengumumkan dirinya bukan sebagai khulafaur rasul atau pengganti rasul tapi sebagai amirulmukminin atau pemimpin orang-orang mukmin. Umar menjabat sebagai khalifah selama 12 tahun.

Para sejarawan Islam mencatat bahwa gelar khalifah, tidak lagi disematkan kepada Umar bin Khattab. Pasalnya, awalnya Umar bin Khattab memilih gelar khalifatu khalifati rasulillah (pengganti dari pengganti rasulullah). Akan tetapi, pada satu waktu gelar tersebut diubah menjadi amirul mu’minin (pemimpin kaum muslimin). Kata amir, kala itu sangat berkaitan dengan kata al-jays (tentara), karena pada masa itu, ekspansi penyebaran Islam sangat massif.

Pada konteks saat itu, bahasa kekuasaan menjadi instrumen penting untuk melacak fungsi makna sosialnya. Bisa dikatakan tidak ada gelar yang tetap melekat pada satu pemimpin kala itu. Hal ini cukup jelas untuk menyatakan bahwa hal tersebut adalah biasa dalam konteks pemerintahan klasik.

Wallahu A’lam

5 KOMENTAR

  1. Model pmilihan dan penganktan kepala negara dan pmerintahan dalam prespektif agama islam mmpunyai bbrp macam bntuk,namun pada intinya lebih memntingkan aspirasi dan kehendak umat.Adapun pemilihan pengangkatan kepala negara dan pemerintahan khalifah umar dengan cara?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here