Profil R.A. Kartini: Tokoh Inspirasi Pendidikan Wanita Indonesia

0
26

BincangSyariah.Com – “Gadis yang pikirannya sudah dicerdaskan, pemandangannya sudah diperluas, tidak akan sanggup lagi hidup di dalam dunia nenek moyangnya.” Kalimat Kartini begitu tegas, menantang budaya lama bahwa perempuan tidak perlu mendapat pendidikan. Dia mau perempuan Indonesia cerdas, maju dan berprestasi sehingga bermanfaat untuk negeri.

Wanita kelahiran 21 April 1879 Mayong, Jepara ini sangat berjasa terhadap emansipasi wanita di Indonesia. Sehingga Presiden Sukarno melalui Keppres no. 108 Tahun 1964 menetapkan Raden Ajeng Kartini sebagai Pahlawan Kemerdekaan Nasional. Oleh sebab itu, di setiap tanggal kelahirannya masyarakat ramai memperingatinya sebagai Hari Kartini.

Latar Belakang Keluarga

Kartini mampu berfikir melampaui zamannya. Besar kemungkinan itu tidak terlepas dari pengaruh nenek moyangnya. Kakeknya, Condronegoro IV dan pamannya, Ario Hadiningrat pernah menjabat sebagai Bupati Demak. Sementara ayahnya, Ario Sosroningrat adalah mantan Bupati Jepara.

Berdasarkan pengantar buku Habis Gelap Terbitlah Terang, di tahun 1902 hanya ada empat bupati di seluruh Jawa dan Madura yang pandai menulis dan berkomunikasi menggunakan bahasa Belanda. Dan tiga diantaranya adalah kakek, paman dan ayah Kartini. Lalu satu orang sisanya Tumenggung Kusumo, Bupati Ngawi.

Adapun ibunya, Mas Ajeng Ngasirah adalah putri dari ulama besar di Desa Teluk Kapur, Jepara. Lingkungan dan tradisi pesantren mendidiknya secara Islami, berakhlak dan berbudi pekerti luhur. Karena terlahir dari darah bangsawan dan priyayi Kartini mendapat gelar Raden Ajeng.

Secara lahiriah, Kartini tumbuh dengan sangat sehat. Tidak kekurangan suatu gizi apapun. Namun yang masih mengganjal di hatinya adalah tradisi bangsawan yang menurutnya sangat mengungkung kebebasan dan memperlakukan perempuan secara berbeda.

Jika orang miskin tidak dapat bersekolah karena memang tidak memungkinkan secara materi, perempuan kaum ningrat pun tidak bersekolah karena tuntutan tradisi. Para bangsawan meyakini anak – anak perempuan yang baik adalah mereka yang tidak pernah keluar dari rumah mereka. Bahkan untuk alasan belajar sekalipun.

Baca Juga :  Allah Menjamin Rezeki Pencari Ilmu

Untungnya, ayah Kartini tidak terlalu menaati hukum adat tersebut. Tahun 1885, Kartini menempuh pendidikan di Europesche Lagere School (ELS) sekolah dasar Eropa. Cibiran datang dari beragam kalangan, tapi mereka cuek dan mempedulikannya.

Masa Pingitan

Kartini begitu menyukai sekolah, karena dengan sekolah Kartini muda bisa belajar banyak hal dan merasa bebas. Sayangnya adat kembali mengekang semangatnya. Tahun 1892, setelah lulus , di saat teman – teman Belandanya semangat melanjutkan studi ke jenjang lebih tinggi, Kartini kecil hanya bisa meratapi takdirnya. Kini masa belajarnya sudah tamat.

Berdasarkan adat, umur 12 tahun adalah waktunya anak perempuan dipingit. Tetap di rumah dan tidak kemana – mana sampai nantinya seseorang melamarnya.

Dia telah berupaya membujuk ayahnya agar merestuinya melanjutkan sekolah, namun ayahnya menolak. Teman – teman Belandanya ikut membujuk si ayah dengan harapan keputusan bisa berubah. Namun gagal. Adat tetaplah adat.

Dari sini, semangat Kartini untuk merubah pandangan kalangan bangsawan terhadap wanita mulai terpatri. Kesengsaraan, kepedihan dan ketidakadilan yang ia alami meyakinkan dirinya bahwa ada yang keliru dengan mindset mereka.

Gagasannya agar perempuan mendapat pendidikan dan bisa tampil di ranah publik, ditentang dan dicemooh keluarganya sendiri. Ibunya tidak setuju. Kakak perempuannya, Sulastri pun acuh.

Kedatangan Slamet kakak tertuanya, kian menyulut amarah Kartini. Keduanya kerap terlibat adu mulut. Slamet memegang teguh stigma bahwa kakak tertua adalah yang harus dihormati adik – adiknya, bukan sebalikya. Dan perempuan harus tunduk terhadap laki – laki, bukan sebaliknya. Jelas, Kartini sangat menolak sikap diskriminatif itu.

Di masa – masa suramnya itu, Kartini tidak menyerah. Dibalik tembok tinggi yang membatasi geraknya, ia memanfaatkan waktu dengan melahap segala jenis buku bacaan. Ayahnya, senang melihat kegemarannya tersebut. Sehingga ia rutin menyuplai berbagai macam buku.

Baca Juga :  Saat Gus Dur Meninggalkan Istana

Bebas Dari Belenggu Tradisi

Kegihihan Kartini, telah meluluhkan hati ayahnya. Tahun 1898, tradisi pingitan tidak lagi berlaku untuk Kartini. Ia mendapat kepercayaan ayahnya untuk memperhatikan permasalahan masyarakat sekitar. Dua saudaranya, Rukmini dan Kardinah ikut membantu.

Hasil bacaan, temuan di lapangan terus ia kaji dan analisa. Hingga pada akhirnya tercetuslah gagasan perlunya emansipasi wanita. Sudah sepantasnya wanita berhak mendapat pendidikan layaknya pria. Tradisi tidak boleh menghalangi tonggak kemajuan itu.

Kesemangatan Kartini untuk mengejar cita – citanya mengingatkan kita pada salah satu gubahan inspiratifnya, “Teruslah bermimpi, teruslah bermimpi, bermimpilah selama engkau dapat bermimpi ! Bila tiada bermimpi, apakah jadinya hidup ! Kehidupan yang sebenarnya kejam.”

Dan pada suatu hari dia mencurahkan impiannya untuk menjadi seorang guru, ”Tiada sesuatu yang lebih baik dan lebih sungguh – sungguh yang saya inginkan, dididik dalam bidang pengajaran.”

Perjuangannya nampak mulai terang. Hindia Belanda mencanangkan program sekolah bagi gadis-gadis bangsawan. Kartini terlibat didalamnya. Gagasan briliannya disambut hangat oleh Dirut Pendidikan, J.H.Abendanon. Aral melintang kembali muncul, ide – idenya tidak sampai ketok palu.

Namun, dengan berjalannya waktu, akhirnya Kartini bisa membangun sekolah perempuan. Menurut catatan Prof. Djoko dalam buku Sisi Lain Kartini, sekolah tersebut di buka pada bulan Juli 1903. Berlangsung empat hari dalam seminggu dari Senin hingga Kamis mulai pukul 08.00 hingga 12.30.

Alasan Wanita Harus Sekolah dan Belajar

Setidaknya ada empat alasan mengapa perempuan harus mendapat pendidikan. Kartini mengutarakannya dalam sebuah surat kepada Nyonya Abendanon tertanggal 21 Januari 1901.

Pendidikan adalah kewajiban yang mulia. “Telah lama saya memikirkan perkara pendidikan, terutama akhir – akhir ini. Pendidikan saya pandang sebagai kewajiban yang demikian mulia dan suci”.

Pendidikan akan membentuk budi pekerti luhur. “Bagi saya pendidikan itu merupakan pembentukan budi dan jiwa. Aduh, saya sama sekali tidak akan dapat berpuas diri apabila sebagai guru saya merasa tidak dapat menjalankan tugas seperti yang saya wajibkan sendiri kepada pendidik yang baik.

Baca Juga :  Tradisi Ijazah Hadis Musalsal di Jakarta

Dengan mengembangkan pikiran saja tugas pendidikan belum selesai, belum boleh selesai. Seorang pendidik harus juga memelihara pembentukan budi pekerti, walaupun tidak ada hukum yang secara pasti mewajibkannya melakukan tugas itu. Namun, secara moril ia wajib berbuat demikian”.

Perempuan memiliki pengaruh besar. “Saya sungguh yakin bahwa dari perempuan itu akan timbul pengaruh yang besar akibatnya, baik memburukan atau membaikkan kehidupan. Dialah yang lebih dapat membantu memajukan kesusilaan manusia.

Merubah nasib. “Sudah lama saya mengerti bahwa hanya itulah yang dapat membawa perubahan dalam kehidupan perempuan Bumiputera yang menyedihkan ini. Pengajaran kepada anak-anak perempuan akan merupakan rahmat, bukan hanya untuk perempuan saja melainkan untuk seluruh masyarakat”.

Perempuan pendidik pertama. “Dari perempuanlah pertama – tama manusia menerima didikannya. Di haribaannyalah anak itu belajar merasa, berfikir dan berkata – kata.

Makin lama makin tahulah saya, bahwa didikan yang mula – mula itu, bukan tidak besar pengaruhnya bagi kehidupan manusia di kemudian hari. Betapakah ibu bumiputera itu sanggup mendidik anaknya, jika mereka sendiri tidak berpendidikan”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here