Profil Ibn Khaldun: Ulama, Politisi, dan Perumus Teori Peradaban

0
932

BincangSyariah.Com – Kajian mengenai ilmu non-agama yang menggunakan sumber para pemikir Islam masih sangat sedikit, bahkan hanya sekadar mengenal nama-namanya saja. Kita tidak sampai kepada pembelajaran teori-teori yang telah dikemukakan dan dipraktikkan lebih dalam dan umumnya kita lebih mengenal pakarnya yang berasal dari barat. Keilmuan yang disebut sebagai “ilmu keislaman” hanya dipahami seputar ilmu syariat, teologi dan hal-hal yang berkaitan dengan agama.

Salah satunya adalah ilmu Sosiologi. Ternyata Islam juga melahirkan tokoh yang ahli dan menggagas teori-teori yang dikenal sebagai ilmu Sosiologi. Tokoh ini muncul jauh sebelum pemikir barat seperti Adam Smith (1723-1790) dan David Ricardo (17722-1823). Nama tokoh ini adalah Ibnu Khaldun yang bernama lengkap Waliyuddin Abdurrahman bin Muhammad bin Abi Bakar Muhammad bin al-Hasan.

Keturunan Sahabat Nabi, Wail bin Hujr

Ibn Khaldun lahir di Tunisia pada 27 Mei 1332 M atau 1 Ramadhan 732 H. Nama Ibnu Khaldun ia peroleh dari nama keluarga besarnya, Bani Khaldun. Bani Khaldun berasal dari Yaman. Silsilahnya jika dirunut ke atas akan sampai kepada sahabat Nabi bernama Wail bin Hujr.

Salah satu cucu Wail yang bernama Khaldun bin Usman memasuki daerah Andalusia bersama orang-orang Arab pada abad ke-9. Di situlah akhirnya Khalid membentuk sebuah bani bernama Bani Khaldun dan para keturunannya berkembang di kota Qarmunah (kini Carmona) di Andalusia, sebelum akhirnya hijrah ke kota Isybilia (Sevilla). Di kota inilah Ibnu Khaldun akhirnya berhasil menduduki beberapa jabatan penting.

Ibnu Khaldun menghabiskan masa belajarnya di tanah kelahirannya, Tunisia dengan beberapa ulama di sana. Ia mempelajari berbagai bidang keilmuan yaitu ilmu syariat seperti tafsir, hadis, usul fikih, tauhid, dan fikih Mazhab Maliki. Ia juga mempelajari ilmu bahasa seperti nahwu, sharf dan balaghoh. Tidak hanya mempelajari ilmu agama, ia juga mempelajari ilmu umum seperti matematika dan fisika. Bahkan ia juga menghapal Al-Qur’an sejak dini.

Baca Juga :  Nasihat Nabi kepada Fatimah yang Meminta Pembantu

Ibn Khaldun dan Kegiatan Politik Praktis

Profil Ibn Khaldun adalah orang yang sangat aktif dan sudah berkiprah dalam bidang politik praktis. Bahkan di usia mudanya ia telah memegang jabatan penting di beberapa dinasti kecil yang ada saat itu. Seperti menjadi sekretaris Sultan al-Fadhl di Tunisia pada tahun 1350 yang artinya pada saat itu usianya baru 18 tahun. Kemudian ia pernah menjadi duta negara di Castilla pada tahun 1363. Dua tahun kemudian ia menjabat sebagai perdana menteri Abu Abdillah Muhammad, penguasa Bani Hafs di Bijaiyah.

Pada tahun 1372 ia menyelamatkan diri ke Fez saat Tilmisan direbut oleh Abu Hammu. Lalu ketika Fez jatuh ia pergi ke Granada. Namun saat sesampainya di sana, ia diminta untuk meninggalkan daerah itu. Akhirnya ia menepi ke Tilmisan, Maghribi Tengah (wilayahnya meliputi Tunisia, Aljazair, dan Maroko). Ia menyepi di sana sampai tahun 1378 lalu ke Alexandria, Mesir untuk menghindari kekacauan politik pada tahun 1382.

al-Muqaddimah: Pengantar Ilmu Sejarah yang Fenomenal

Ia akhirnya memfokuskan diri pada kegiatan mengajar dan menulis dan meninggalkan jabatannya di ranah politik. Ia menulis sebuah buku yang monumental yang akhirnya masih dikaji hingga saat ini dan diakui dunia barat. Bukunya berjudul al-‘Ibar (sejarah umum) yang terdiri dari 7 jilid dan diterbitkan di Kairo. Buku tersebut berisi kajian sejarah yang didahului oleh buku yang berjudul Muqaddimah pada jilid I yang lebih dikenal dengan Muqaddimah Ibnu Khaldun. Bukunya telah diterjemahkan ke berbagai bahasa dan menjadi referensi utama ilmu sosiologi di barat.

Pembahasan yang ditulis dalam al-Muqaddimah adalah tentang teori sosial, politik, dasar-dasar pembangunan masyarakat dan pembidangan ilmu pengetahuan. Kemudian pada bab dua, ia menganalisis gejala-gejala sosial dan metode-metodenya.

Baca Juga :  Tiga Tingkatan Cinta dalam Sufisme

Lalu pada bab dua dan tiga ia membagi antara masyarakat primitif dan modern serta menyebutkan gejala-gejala dari keduanya dan menjelaskan bagaimana membangun politik di masyarakat tersebut.

Pada bab empat ia menganalisis tentang bagaimana cara berkumpulnya manusia yang disebabkan faktor lingkungan dan geografis. Pada bab empat dan lima ia menerangkan tentang ekonomi individu, bermasyarakat maupun bernegara. Pada bab enam dan tujuh ia menjelaskan tentang ilmu pedagogik, ilmu pengetahuan dan alat-alatnya. Tidak heran kalau buku ini akhirnya diakui keunggulannya dan dijadikan rujukan karena begitu lengkap. Selain kitab Al-Ibar yang begitu fenomenal, ia juga menulis autobiografinya yang berjudul at-Ta’rif bi Ibn Khaldun.

Ia menjadi pengajar di Universitas al-Azhar, Kairo, Mesir. Di sana ia mengajar hadis, fikih Mazhab Maliki, dan teori Sosiologi yang ia tulis dalam bukunya. Selain menjadi pengajar di kampus, ia juga menjadi ketua Pengadilan Mesir sampai akhir hayatnya. Ia wafat pada 19 Maret 1406 (26 Ramadhan 808 H) di Kairo.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here