Profil Abah Anom Suryalaya (2): Relasi Abah Anom dengan Pak Harto

0
321

BincangSyariah.Com – Menelisik pesantren Suryalaya, berarti memiliki potensi untuk berbicara mengenai kajian Tariqat yang ada di pesantren tersebut. Menurut Juhaya S.Praja dalam tulisannya yang berjudul TQN Pondok pesantren Suryalaya dan Perkembangannya Pada Masa Abah Anom (1950-1990), perkembangan pesantren Suryalaya pada zaman orde baru semakin pesat dengan berkembangnya komunikasi dan transportasi antar wilayah yang mampu menghubungkan antara Tasikmalaya dengan wilayah lainnya. Ini juga berimplikasi pada makin banyaknya pengunjung yang ingin melakukan talqin kepada Abah Anom. Mereka bukan saja datang dari seantero Nusantara, mereka berdatangan dari mancanegara seperti Singapura, Brunei Darussalam, Malaysia, Australia, Jepang, Jerman, Belanda, dan negara-negara lainnya. Mereka datang untuk meminta petunjuk dan arahan batin dari Abah Anom.

Antusiasme para masyarakat inilah yang menjadi semangat Abah Anom mendirikan Ikhwan TQN untuk menjadi wakil talqin di Pesantren Suryalaya. Selain itu, para ikhwan TQN mendapat amanat dari Abah Anom untuk menyebar di berbagai daerah guna menjadi pembimbing bagi para masyarakat yang memerlukan Tariqat Qadariyyah Naqsabandiyyah. Menurut Soebakin Soebardji dalam tulisannya yang berjudul Riwayat Hidup KH. A. Shahibul Wafa Tajul Arifin, kegiatan tersebut terus menerus dilaksanakan oleh Abah Anom beserta seluruh keluarga besar Pesantren Suryalaya.

Kegiatan pembangunan dalam berbagai bidang dengan dukungan ikhwan TQN dari berbagai lapisan sosial mempunyai makna dan arti yang besar dalam menopang pembangunan, terutama pembangunan lapangan kemanusiaan. Disamping itu, Abah Anom mendirikan sebuah lembaga yang memiliki peran membantu tugas para ikhwan TQN, yang disebut dengan BELLA. Istilah Bella merupakan singkatan dari Bener Bageur Lahir Batin. Diartikan bahwa mereka adalah para perempuan yang benar dan berbudi luhur, baik lahir maupun batin. Bagian dari tugas mereka adalah mengkoordinasikan kegiatan perempuan yang umumnya seperti kursus memasak, menjahit, pendidikan kesejahteraan keluarga, pemeliharaan anak yatim piatu, dan sebagainya.

Baca Juga :  Jasa Imam Romahurmuzi dalam Kajian Islam

Relasi Abah Anom dan Pak Harto

Semua pencapaian yang telah Abah Anom raih ini menarik perhatian presiden Republik Indonesia, Soeharto, dengan menganugerahkan tanda kehormatan Satyalencana Kebaktian Sosial kepada Abah Anom selaku pimpinan pesantren Suryalaya. Piagam tanda kehormatan tersebut dianugerahkan pada 27 November 1985 yang bertepatan di Tanjung Priok Jakarta. Sebelumnya, Abah Anom juga diangkat sebagai duta lingkungan hidup dan penghargaannya diberikan langsung oleh presiden Soeharto pada 5 Juni 1980 di Bina Graha Jakarta.

Kedekatan Abah Anom dan Soeharto bahkan berlanjut secara pribadi. Abah Anom sering melakukan kunjungan khusus di kediaman rumah presiden Soeharto. Abah Anom pernah menemui Soeharto di Jakarta sebelum berziarah ke negeri Irak dan Mesir pada tahun 1983.

Dalam buku berjudul Thariqah Qadariyah Naqsyabandiyyah: Sejarah, Asal-Usul, dan Perkembangannya yang disunting Harun Nasution, disamping aktivitas Abah Anom sebagai mursyid TQN, ia pun aktif dalam pembinaan dan pendidikan politik masyarakat. Beliau bahkan ikut serta mensukseskan partai Golongan Karya (Golkar) sejak pemilu pada tahun 1972-1987 bersama bapak Sudharmono, selaku ketua DPP Golkar waktu itu dan pernah menjabat sebagai wakil presiden Soeharto pada tahun 1980. Keikutsertaan Abah Anom dalam politik ini diikuti juga oleh para ikhwan TQN untuk ikut mensukseskan kemenangan Golkar di daerahnya masing-masing. Keterlibatan Abah Anom dalam kontestasi politik Nasional menunjukkan keluwesannya bijak dalam urusan politik.

Setelah melewati aktivitasnya sebagai tim sukses Golkar, beliau cermat mengikuti hasil sidang umum MPR Republik Indonesia. Sampai tahun 1982, ia mendapatkan penghargaan atas kegiatannya dalam memperjuangkan pemilu Golkar. Dua tahun kemudian, Abah Anom diangkat sebagai Pinisepuh atau disebut sebagai penasihat sepuh di partai Golkar. Pengangkatan Abah Anom dipimpin langsung oleh bapak presiden Soeharto pada tahun 1984 dan bertepatan di Jakarta.

Baca Juga :  Terkait Penusukan Menko Polhukam, Ini Wejangan Kiai Sholeh Darat Mengenai Dahi Hitam Sebagai Ciri Kelompok Khawarij

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here