Profil Abah Anom Suryalaya (1): Menjadi Mursyid Tarikat di Usia Muda

0
520

BincangSyariah.Com – Menggeluti kajian bidang Tasawuf selalu dikaitkan dengan pengamalan Thariqah atau dikenal ditengah masyarakat sebagai tarekat yang merupakan salah satu pranata kerohanian dan mampu membawa kebahagiaan dalam hidupnya.

Menurut Zamakhsyari Dhofier dalam bukunya Tradisi Pesantren Studi Tentang Pandangan Hidup Kyai perkembangan tarekat mulai hadir dan pesat di dunia Islam sejak abad ke 13 M. Lalu ia mengerucut ke berbagai negara sampai akhirnya masuk ke Indonesia, yang terkenal dengan sebuah tarekat bernama Thariqah Qadariyah Naqsabandiyah atau yang lebih populer dengan akronimnya, TQN.

Tarekat ini dianggap sebagai tarekat terbesar di Indonesia, terutama di pulau Jawa. Salah satu pusat penyebarannya berada di wilayah Jawa Barat, yaitu pondok pesantren Suryalaya. Pesantren ini berdiri pada tahun 1905 yang bertepatan di kampung Godebag, Desa Tanjungkerta, Kecamatan Pageurageng,Tasikmalaya.

Pesantren ini didirikan oleh KH.Abdullah Mubarak yang terkenal dengan sebutan Ajengan Godebag atau Abah Sepuh. Menurut Ahmad Sanusi dalam sebuah tulisannya Abah Sepuh dan Pembentukan TQN Pondok Pesantren Suryalaya, sebutan ini merupakan hibbah (pemberian) dari masyarakat Godebag karena di usianya yang sudah lanjut, ia masih semangat untuk menjalankan dakwahnya di pesantren Suryalaya.

Menurut Ahmad Sanusi, saat itu umur abah sepuh diperkirakan telah mencapai 116 tahun. Disanalah nama Abah Sepuh terkenal di kampung tersebut. Namun, pada tahun 1950, kepemimpinan Abah Sepuh didampingi oleh anak kandungnya yaitu Ahmad Shohibul Wafa Tajul Arifin. Ia dikenal dengan sebutan Abah Anom. Dijuluki dengan istilah Abah Anom, karena usianya yang relatif muda (18 tahun) telah menjadi wakil talqin menemani ayahnya.

Abah Anom lahir pada tanggal 1 Januari 1915 di desa Tanjungkerta, Suryalaya, Kab.Tasikmalaya, Jawa Barat. Ia adalah putra kelima dari KH.Abdullah Mubarak, pendiri pesantren di Suryalaya yang juga mursyid TQN. Menurut Juhaya S. Praja dalam bukunya yang berjudul TQN Pondok Pesantren Suryalaya dan Perkembangannya pada Masa Abah Anom (1950-1990), perjalanan pendidikannnya dimulai dengan belajar ilmu fikih dari seorang guru yang terkenal di pesantren Cicariang Cianjur, Jawa Barat. Di pesantren ini pula Abah Anom memperoleh ijazah khusus berupa tulis menulis bahasa arab yang dikenal dengan istilah harupat tujuh.

Setelah belajar ilmu fikih, Abah Anom kembali memperdalam bidang Fiqh, Nahwu, Sharaf, dan Balaghah di pesantren Jambudwafa, Cianjur, Jawa Barat. Ia kemudian. berguru kepada Ajengan Ahmad Syatibi sejumlah bidang ilmu seperti tafsir, hadis, kalam, dan berbagai kajian gramatika bahasa Arab seperti Nahwu, Sharaf, Balaghah. Di kalangan ulama Sunda, kyai Ahmad Syatibi ini memiliki segudang ilmu dan memiliki banyak murid yang telah berhasil menjadi ulama atas pengajarannya. Kyai Ahmad Sanusi, pendiri pesantren Syamsul Ulum Sukabumi pun pernah mengakuinya sebagai ulama yang berjasa dalam hidupnya.

Baca Juga :  Ahmad Hassan: Tokoh Ormas Persis Keturunan India yang Jago Berdebat

Kemudian, pada tahun 1935-1937, Abah Anom melanjutkan kegiatan belajarnya di pesantren Cireungas Sukabumi, Jawa Barat. Ia belajar kepada salah satu kyai besar di Sukabumi yaitu Ajengan Aceng Mumu. Ajengan Aceng dikenal sebagai ahli hikmat dan silat. Kepada Aceng Mumu Abah Anom mulai menggeluti kemampuan untuk menangkal berbagai kemungkinan perbuatan buruk manusia menggunakan berbagai doa atau disebut dengan istilah Riyadhah.

Menurut Juhaya seperti diceritakan langsung oleh Abah Anom pada bulan Juli tahun 1990, kyai Aceng adalah guru pertama yang mengajari Abah Anom dalam ilmu tarekat yang mengaplikasikan ajaran tarekat dengan dunia persilatan. Dari catatan tentang perjalanan mencari ilmu Abah Anom, beliau sudah malang melintang mempelajari berbagai ilmu meski usia masih relatif muda, 18 tahun.

Perjalanan yang ditempuh beliau tidak berhenti di wilayah Pasundan. Selama bulan Ramadan, ia rajin mengikuti pengajian bandungan (istilah sunda: guru menyampaikan materi, murid mendengarkan)  di Masjidil Haram yang disampaikan oleh guru-guru yang berasal dari Mekkah ataupun Mesir. Kajian yang diadakan di Masjidil Haram adalah bidang Tafsir dan Hadis. Dalam wawancara yang dilakukan oleh Juhaya dengan Abah Anom, ia tidak menyebutkan nama dari para guru-gurunya itu.

Saat di Mekkah, ia bertemu dengan seorang ulama besar dari Garut,Jawa Barat, yaitu Syaikh Romli. Syaikh Romli adalah murid dari Abah Sepuh yang kemudian menjadi wakil talqin di pesantren Suryalaya. Syaikh Romli memiliki lembaga kajian ilmu tasawuf di Masjidil Haram yang dikenal dengan sebutan Ribath Naqsabandiyah yang berada di Jabal Gubaisy. Kepadanya,Abah Anom mengaji kitab Sirr al-Asrar dan Ganiyyat al-Talibin karya Syaikh Abdul Qadir al-Jilani.

Setelah melewati masa belajar di Mekkah, Abah Anom kembali ke tanah air dan mulai mengabdi di pesantren Suryalaya. Menurut Soebakin Soebardi dalam bukunya The Pesantren Tarikat of Pesantren Suryalaya in West Java, Abah Anom mulai memimpin pesantren Suryalaya dan mendampingi ayahnya pada tahun 1939-1945.

Baca Juga :  Tantangan Ulama Perempuan Masa Kini

Keadaan saat itu cukup berat bagi pesantren Suryalaya. Abah Anom dan santri-santrinya di awal kemerdekaan harus melakukan perlawanan dengan DI/TII. Peristiwa ini terjadi karena DI/TII menganggap Suryalaya sebagai musuh karena telah berpihak pada TNI. Setelah kejadian ini meredam, pada tahun 1956, Abah Anom kehilangan sosok ayah yang sangat dicintainya. Disini ia mulai merintis pesantren Suryalaya tanpa didampingi sosok orangtua.

Kepemimpinan beliau semakin dikenal masyarakat Godebag saat itu. Abah Anom aktif melakukan pembinaan kesejahteraan sosial dalam bidang lingkungan dan pertanian dibantu bersama ribuan santri saat itu. Abah Anom tidak hanya dikenal sebagai wakil talqin Tariqah Qadariyah Naqsabandiyah (TQN), ia juga merakyat dengan sekitar.

Selain itu, pada tahun 1961, Abah Anom mulai menggagas  lembaga Yayasan Serba Bhakti Pondok Pesantren Suryalaya. Yayasan ini bertujuan untuk menunjang kegiatan pesantren Suryalaya dengan baik. Awalnya, yayasan ini dikhususkan untuk ikhwan (sebutan untuk sesama pengamal tarikat) TQN saja. Namun Abah Anom selanjutnya mulai mendirikan pendidikan klasik dan formal, diantara lain Sekolah Menengah Islam Pertama (SMIP), Pendidikan Guru Agama (PGA), sampai perguruan tinggi yang dinamakan Perguruan Tinggi Dakwah Islam (PTDI) kemudian diganti dengan IAILM (Insitut Agama Islam Latifah Mubarokiyah) sampai sekarang.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here