Profesi Ulama Hadis Masa Lampau

1
609

BincangSyariah.Com – Seorang Ulama yang mempunyai perhatian besar terhadap biografi para perawi hadis adalah Al-Hafizh al-Sam‘ani. Beliau seorang ahli hadis terkemuka di zamannya. Perhatian tersebut di antaranya beliau tulis melalui karya besar yang bernama al-Ansab. Kitab ini menjadi rujukan untuk mengetahui biografi para ulama ahli hadis. Di antara yang dicatatnya itu mengenai profesi ulama hadis.

Tidak hanya keahlian para ahli hadis, al-Ansab juga mencatat profesi ulama hadis tersebut. Banyak para ahli hadis yang terkenal dengan berbagai jenis profesi yang mereka tekuni. Masyarakat pada waktu itu pun memberi gelar atas profesi yang mereka tekuni. (Baca: Kisah Menteri Menyesal Tidak Jadi Ulama Hadis)

Di antara gelar yang mereka sandang adalah al-nassaj. Gelar ini diperuntukkan bagi ahli penenun kain. Ahli hadis yang dinisbatkan pada profesi ini di antaranya adalah Abu al-Hasan Khairun bin Abdillah An-Nassaj (322 H). Beliau ulama ahli hadis juga sufi yang umurnya mencapai 120 tahun.

Gelar lain yang dicatat oleh al-Sam‘ani adalah al-Khayyath. Penisbatan ini diperuntukkan bagi ulama desainer pakaian. Di antara ulama tersebut adalah Abu al-Fadhl Musa bin Ali bin Qadhi al-Khayyath. Selain itu juga ada nama Abu Abdillah Al Husain bin Ali bin Ahmad Al-Khayyath.

Profesi ulama hadis lainnya adalah al-Niali. Penisbatan ini biasanya diperntukkan bagi ulama yang berprofesi sebagai produsen sandal. Ulama yang dinisbatkan sebagai produsen sandal adalah Abu Ali al-Hasan bin al-Husain bin Duma al-Ni’ali yang merupakan penduduk Baghdad (431 H). Ada pula keluarga periwayat hadis yang berprofesi sebagai produsen sandal yaitu, Abu Al Hasan Muhammad bin Thalhah al-Ni’ali (413 H) dan cucunya Abu Abdillah Al Husain bin Ahmad al-Ni`ali.

Baca Juga :  Abu Qasim Al-Baghawi; Ulama yang Meninggal Saat Menyimak Bacaan Hadis

Sementara itu, terdapat gelar profesi khusus untuk pengrajin sepatu. Mereka disebut al-Hadzdza’. Di antara ulama yang mendapat julukan ini adalah Abdullah bin Abdirrahman Al-Hadzdza’, Muhammad bin Salim Al-Hadzddza’, dan Katsir bin Ubaid Al Himshi Al- Hadzdza’.

Selain itu, ada juga al-najjar. Ini adalah sebutan bagi mereka pengrajin furnitur. Di antara ulama yang mendapat julukan al-najjar adalah Abu Bakr Muhammad bin Ja’far al-najjar (379 H). Ia merupakan rawi hadis yang tsiqah. Selain itu juga ada Abu Bakr Muhammad bin Umar al-najjar.

Di antara mereka juga ada yang beprofesi sebagai nelayan yang menangkap ikan. Mereka disebut dengan al-shayyad. Di antara mereka adalah Abu Muhammad Ahmad bin Yusuf al-shayyad, asal kota Baghdad Irak, anaknya Abu Bakr Muhammad bin Ahmad.

Ada juga ulama yang berprofesi sebagai al-dallal, semacam tour guide. Ulama yang berprofesi demikian di antaranya adalah Abu al-Hasan Ahmad bin Abdir Raziq al-Dallal (391 H), beliau seorang ahli hadis yang tsiqah dari kota Baghdad Irak.

Ada juga ulama yang mendapat julukan al-lu’lu’. Profesi ini dinisbatkan kepada ulama yang menjadi saudagar mutiara. Di antara ulama itu adalah Abu Sa’id Abdurrahman bin Mahdi al-Lu’lu`, seorang tabiin yang termasuk dalam golongan penghafal banyak hadis.

Al-dzahabi merupakan gelar profesi yang diberikan bagi penyepuh emas, atau orang yang membersihkan emas mentah lalu dijualnya. Ulama yang mendapat julukan ini adalah Ustman bin Muhammad al-Dzahabi.

Al-Tabban merupakan gelar yang dinisbatkan kepada orang yang terbiasa sehari-hari menjual (pakan ternak). Abu al-Abbas al-Tabban adalah ulama yang menisbatkan diri dengan profesi ini. Ada juga al-sukkari, yaitu profesi saudagar gula. Di antara ulama yang berprofesi menjadi saudagar gula adalah Bisyr bin Muhammad al-Sukkari.

Baca Juga :  Lima Fakta Poligami Rasulullah yang Perlu Diketahui

Al-daqqaq adalah profesi penjual tepung. Di antara mereka adalah Abu Qasim Isa bin Ibrahim Isa al-Daqqaq. Itulah ulama-ulama yang juga pandai berbisnis dengan segala macam profesinya.

Wallahu A’lam Bissawab.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here