Prof. K.H. Anwar Musaddad: Kyai Kharismatik Asal Garut Pengembang Universitas Islam

1
1077

BincangSyariah.Com – Prof. K.H. Anwar Musaddad menjelma sebagai sosok ulama besar sekaligus pakar dalam ilmu perbandingan agama. Sosok Kyai Musaddad selalu jadi bahan omongan masyarakat karena sikapnya  yang selalu menghargai keberagaman, termasuk perbedaan keyakinan. Tak heran, ia sempat dicemaskan seorang murtad di kalangan para Ulama.

Yies Sa’diyah dalam bukunya  Prof. K.H.Anwar Musaddad: Biografi, Pengabdian, dan Pemikiran Ulama Intelektual menceritakan sebuah peristiwa Kyai Musaddad yang berkali-kali menampik ajakan bergabung dengan DI/TII yang dipimpin oleh Soekamardji Maridjan Kartosoewirjo pada 7 Agustus 1949. Tawaran pun ditolaknya, karena bagi kyai, keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) Sudah menjadi harga mati. Tentunya, ini menimbulkan sebuah pertanyaan besar. Siapakah Kyai Musaddad sehingga ia dianggap berpengaruh oleh Kartosoewirjo?

Pendidikan di Sekolah Belanda

Menurut Mushoffi Hasan dalam bukunya Anwar Musaddad: Sang Bintang dari Timur, nama aslinya bukan Anwar Musaddad. Ia lahir di Garut pada 22 Rabiul Awal 1328 H/3 April 1910 M. Nama aslinya adalah Dede Musaddad. Ia disebut sebagai keturunan trah bangsawan dari dua kerajaan terbesar di Jawa Barat. Ayahnya, Abdul Awwal bin Haji Abdul Kadir, merupakan keturunan dari Sunan Gunung Djati sehingga ia pun terhubung dengan kerajaan Pajajaran dan Cirebon. Pun dengan ibunya, Marfuah binti Kasriyo, adalah keturunan Pangeran Diponegoro dan kedudukannya masih terhubung dengan keluarga kesultanan Mataram Islam.

Sejak pendidikan dasar, Musaddad duduk di bangku sekolah Belanda, yaitu Hollandsh-Inlandsche School (HIS) Chirestelijk yang bertepatan di Garut. Kemudian ia lulus pada tahun 1921, dan melanjutkan sekolah ke Meer Uitgebreid Lager Onderwijs (MULO) Christelijk di Sukabumi. Musaddad pun melanjutkan sekolah hingga menengah atas di Algamene Middlebare School (AMS) Batavia (Jakarta).

Baca Juga :  Anda Pernah Mimpi Menangis? Ini Tafsirnya Menurut Ulama

Mengembangkan UIN Pertama di Indonesia

Musaddad dikenal sebagai anak yang cerdas dan kritis. Hal ini memungkinkan terjadi karena jenjang pendidikan yang menempanya adalah sekolah yayasan misionaris. Musaddad banyak mendapatkan informasi dengan mempelajari kitab Injil dan kristologi saat ia duduk di bangku menengah atas.

Hal tersebut membuat ibunda Musaddad cemas dan khawatir dengan akidahnya. Ibunda mengajaknya untuk belajar agama Islam secara intensif dengan Kyai Muhammad Sachroni. Ia adalah seorang ulama terkemuka di Jawa Barat saat itu. Menurut Budi Sujati dalam Sejarah Perkembangan Nahdlatul Ulama di Jawa Barat, pengetahuan tentang Islam sudah tidak diragukan lagi, apalagi dengan kelebihannya mengetahui ajaran-ajaran agama Kristen. Semua ini menjadikannya memiliki dasar kuat menjadi Ulama yang toleran dan modern.

Di awal kemerdekaan, Musaddad diberikan tawaran oleh H.Fakih Usman (Menteri Agama) untuk mendirikan perguruan tinggi agama Islam (PTAIN) di Yogyakarta, yang menjadi cikal bakal Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga Yogyakarta. Ia diangkat menjadi guru besar Ushuluddin di IAIN Yogyakarta pada tahun 1962-1967. Kemudian, ia pun dialihkan untuk merintis IAIN Sunan Gunung Djati Bandung dan menjadi rektor pertama saat itu di tahun 1967. Ia pun pernah menjadi kepala administratif partai NU terbaik di tahun 1953.

Bergabung ke NU, Menolak DI/TII

Untuk belajar agama, Musaddad tidak berhenti sampai di tangan Kyai Sachroni saja. Menurut Bibit Suprapto dalam Ensiklopedia Nusantara, ia pernah menimba ilmu di tanah suci Mekkah selama 11 tahun di Madrasah al-Falah. Ia berguru ke berbagai ahli-ahli agama dari Nusantara maupun dengan para guru timur tengah yang ada disana.

Setelah menimba ilmu dari Mekkah, ia mulai mengabdi di organisasi Nahdlatul Ulama (NU). Hal yang menarik darinya adalah pernah menjadi ketua pasukan Hizbullah dan turut menempa mental semangat para pejuang pada tahun 1945. Namun, ia tak pernah memposisikan sebagai bagian dari golongan yang ingin merebut porsi kekuasaan. Keinginannya bergabung dengan NU Karena saat itu memang dituntut untuk membentuk identitas dari kalangan nasionalis, kaum agamis, sampai kaum komunis. Hal ini yang menjadi sebuah bukti lagi bahwa ia harum dengan sebutan ulama pejuang toleran, moderat, dan modern hingga ia diterima oleh semua kalangan.

Baca Juga :  Kiai Chudori Tegalrejo: Pendekatan Dakwah Islam Nusantara

Selama akhir hayatnya, ia sangat aktif di organisasi NU. Beberapa kali Kartosoewirjo membujuknya untuk bergabung dalam kubunya, namun ia tetap menolak. Nina Herlina dalam bukunya Biografi Prof.KH.Anwar Musaddad, Musaddad kembali menegaskan pada Kartosoewirjo bahwa mengelola negara di dalam negara adalah sesuatu yang mustahil. Ia tetap mempertahankan NKRI meski sat itu dalam kondisi polemik.

K.H. Anwar Musaddad memiliki strategi dalam merawat hubungan dengan berbagai kubu untuk menjaga nilai stabilitas sosial-politik di Jawa Barat khususnya di Indonesia dengan cara mengedepankan ukhuwah wathaniah atau persaudaraan bangsa. Tak heran, ia menjadi Wakil Rais Syuriah Umum  kemudian menjadi Dewan Penasihat (Mustasyar) PBNU sampai wafat di Garut pada 21 Juli 2000. Ia adalah pendiri pondok pesantren al-Musaddadiyah di Garut. Ia dianugerahi sebgai salah satu ulama paling berpengaruh di Jawa Barat. namanya pernah diajukan sebagai slaah satu ulama yang berpengaruh, namun saat ini belum pula terealisasi.

1 KOMENTAR

  1. Saya tdk ada komentar lain cuman mau ralat soal penulisan gelar, kiai / kyai maknanya sama tp jaman dulu prnh ada penetapan untuk manusia tulisnya pakai Kiai, hehehe.. makasih

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here