Prof. Dr. Syeikh Ahmad Muhammad al-Thayyib; Syeikh Agung Al-Azhar Mesir yang Ke-44

0
978

BincangSyariah.Com – Prof. Dr. Syeikh Ahmad Muhammad al-Thayyib adalah Syeikh Agung (Grand Syeikh) Al-Azhar As-Syarif ke-44. Jabatan tersebut diembannya sejak tahun 2010, menggantikan pendahulunya Syeikh Muhammad Sayyid al-Thanthawy Rh. Ahmad al-Thayyib lahir di Qena, Mesir bagian selatan pada 3 Shafar 1365, yaitu bertepatan pada 6 Januari 1946. Nasabnya bersambung kepada Rasulullah saw. melalui Imam Hasan b. Ali Abi Thalib As. Beliau dikenal sebagai penganut al-Asy’ari dalam mazhab aqidah, Maliki dalam mazhab fiqih, dan Khalwati sebagai tarekat sufinya.

Sejak usia belia, Ahmad al-Thayyib kecil kerap menghadiri majelis perdamaian antarsuku yang diikuti oleh kakeknya, Syeikh Ahmad al-Thayyib dan ayahnya Syeikh Muhammad al-Thayyib. Kebiasaan menghadiri majelis ini masih tetap beliau lakukan saat pulang ke kampung halamannya walau telah memangku jabatan Syeikh Al-Azhar. Masa kecilnya, beliau habiskan di kampung halaman dengan menghafal Alquran dan mempelajari dasar-dasar keilmuan agama di Madrasah Al-Azhar.

Usai menamatkan sekolah menengah, Ahmad al-Thayyib melanjutkan studi di Fakultas Ushuluddin, Jurusan Akidah dan Filsafat, Universitas Al-Azhar hingga lulus pada tahun 1969. Beliau menerima gelar Master pada tahun 1971, kemudian gelar Doktor (PhD) pada tahun 1977 pada institusi perguruan tinggi yang sama. Selain di Al-Azhar, Ahmad al-Thayyib pernah melakukan riset di Universitas Sorbonne, Prancis selama enam bulan, terhitung dari Desember 1977 hingga Mei 1978 dan berhasil menyematkan gelar Profesor setahun setelahnya, 1988.

Syeikh Ahmad Thayyib adalah seorang Profesor dalam bidang Aqidah Filsafat yang lancar berbahasa Prancis dan Inggris. Telah banyak referensi berbahasa Prancis yang telah diterjemahkannya ke dalam bahasa Arab. Berkat kemahirannya dalam penguasaan bahasa, Ahmad al-Thayyib pernah bekerja sebagai dosen di Prancis selama masa penelitiannya.

Baca Juga :  Makna 'Awliya' dalam Alquran

Dalam perjalanan karier pendidikan, Ahmad al-Thayyib tercatat aktif dan memiliki posisi di sejumlah kelembagaan pendidikan, di antaranya:sebagai anggota Lembaga Riset Al-Azhar – Majma’ al-Buhuts al-Islamiyah, ketua Komite Dialog Antar Agama Al-Azhar. Dekan Fak. Dirasat al-Islamiyah wa al-`Arabiyah Universitas Al-Azhar cab. Qena (1990-1991), Dekan Fak. Dirasat al-Islamiyah wa al-`Arabiyah Universitas Al-Azhar cab. Aswan (1995), Dekan Fak. Ushuluddin Universitas Islam Internasional,  Pakistan (1999/2000), dan anggota Dewan Tertinggi Tarekat Sufi Dunia. Tak hanya itu, beliau juga mengajar di universitas-universitas di luar negeri, seperti Arab Saudi, Qatar, Pakistan, dan Uni Emirat Arab.

Pada 10 Maret 2002, Ahmad al-Thayyib diangkat sebagai Mufti Agung Mesir menggantikan Syeikh Nasr Farid Wasil. Jabatan ini diakhiri pada 27 September 2003 dan diserahterimakan kepada Syeikh Ali Jum’ah, disebabkan pengangkatan Ahmad al-Thayyib sebagai rektor Universitas Al-Azhar. Jabatan tersebut diemban beliau selama tujuh tahun hingga 19 Maret 2010.

Pada 3 Rabiul Awal 1431 H bertepatan dengan 19 Maret 2010, Syeikh Ahmad Thayyeb mendapatkan kehormatan menduduki posisi puncak al-Imam al-Akbar (Imam Terbesar) Al-Azhar atau yang lebih dikenal dengan sebutan Grand Syakh Al-Azhar. Posisi ini merupakan posisi pimpinan tertinggi dalam institusi Al-Azhar dan setara dengan Perdana Menteri Negara. Sesuai dengan hasil keputusan Presiden, Grand Syeikh Al-Azhar memiliki masa jabatan seumur hidup.

Pengaruh ilmiahnya sebagai intelektual terkemuka Sunni Islam mencakup seluruh dunia. Beliau dikenal sebagai ulama moderat yang selalu menyerukan ukhuwah (persatuan), dan tegas mengkritik Zionis. Berikut beberapa keutaman Syekh Ahmad Al-Thayyib yang dikutip dari “The Muslim 500: The World’s Most Influential Muslims” ketika beliau dinobatkan sebagai muslim pertama yang paling berpengaruh di tahun 2017/2018:

  1. Advokat Islam Tradisional

Syeikh Ahmad Al-Thayyib selalu menekankan misi untuk menghidupkan kajian Islam tradisional (Turats). Beliau menekankan pentingnya tradisi pengajaran Turats kepada mahasiswa Al-Azhar agar memiliki kedudukan yang kuat dan tidak mudah goyah dengan pengaruh yang ada

  1. Pemimpin Universitas Al-Azhar

Syeikh Al-Thayyib memimpin universitas tertua kedua di dunia, yang secara terus-menerus mengajarkan keilmuan Islam tanpa henti sejak tahun 975. Al-Azhar merupakan pusat Islam Sunni dan merupakan lembaga kunci dalam mengeluarkan keputusan agama otoritatif. Dengan sejarahnya yang panjang mencapai seabad umur, Universitas Al-Azhar dianggap sebagai institusi pendidikan Islam yang paling menonjol dan menjadi pusat utama pendidikan Muslim Sunni di seluruh dunia.

  1. Mengelola Jaringan Pendidikan Al-Azhar

Al-Azhar Al-Syarif saat ini merupakan universitas Islam terbesar di dunia. Awalnya jaringan pendidikan Al-Azhar terdiri dari tiga fakultas di tahun 1950-an dan kini meningkat menjadi 72 fakultas. Tercatat 300.000 mahasiswa dari berbagai negara, bila digabung dengan sekolah wakaf Al-Azhar, terdapat 2 juta siswa yang tengah menjalani pendidikan di bawah naungannya. Besarnya Al-Azhar membuat Syekh Ahmad Muhammad Al-Thayyib memiliki pengaruh luas dan kuat di Mesir dan dunia.

Baca Juga :  Rasulullah Tolak Permohonan Abu Umamah yang Ingin Mati Syahid

 

*Sumber: Halaman Resmi Al-Azhar As-Syarif, Dar-Ifta’ Mesir, dan themuslim500.com

 



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here