Produk Kredit Tanpa Agunan Berbasis Akad Qardlu dalam Fikih Islam

3
1131

BincangSyariah.Com – Kita sudah sering mendengar istilah Kredit Tanpa Agunan (KTA). Ya benar, kredit ini sering dipasarkan oleh para bankeer, dan menjadi produk kredit yang paling banyak diminati masyarakat kalangan kecil. Umumnya pesertanya adalah para karyawan, buruh pabrik, yang tidak punya aset lain yang bisa dijaminkan. Untuk menjawab kebutuhannya, para pelaku perbankan melakukan ijtihad guna menemukan solusi itu. Fokusnya adalah membantu kalangan masyarakat kecil itu agar terpenuhi standart pokok kehidupannya.

Nah, apakah produk KTA ini tidak ada dalam ajaran syariat Islam? Ternyata ada. Nama produk itu dalam ranah fikih muamalah klasik disebut sebagai qardlu. Jadi, qardlu ini adalah kredit berupa uang kes, tanpa disertai penjaminan sama sekali. Tanpa adanya kesertaan penjamin, makanya disebut juga sebagai kredit tanpa jaminan atau kredit tanpa agunan.

Jaminan, hakikatnya adalah berperan selaku penarik kepercayaan saja (ta’min). Tepatnya kepercayaan dari pihak kreditur kepada debitur bahwa ia kelak bisa menunaikan tanggung jawabnya. Dalam aplikasinya, jaminan kredit ini diperinci menjadi empat (dalam Madzhab Hanafi dan secara umum diperinci menjadi tiga dalam Madzhab Syafii.

Adakalanya jaminan itu berupa utang (dain). Seperti misalnya, Pak Ahmad utang kepada Pak Tono dengan penanggung jawab (kafil) utang tersebut adalah Pak Handoko. Maka seandainya terjadi keterlambatan pembayaran dari Pak Ahmad ke Pak Tono, maka pihak penanggung jawabnya (Pak Handoko) adalah yang berperan selaku yang menutup tanggungan tersebut. Penutupan tanggung jawab ini sudah pasti berujung utangnya Pak Ahmad beralih kepada Pak Handoko.

Adakalanya juga, jaminan itu terdiri dari pekerjaan (fi’lun). Misalnya, Pak Ahmad utang ke Pak Tono. Jika Pak Ahmad tidak bisa melunasi utangnya pada tanggal yang telah ditentukan, maka ia sanggup bekerja kepada Pak Tono sampai utangnya lunas. Jaminan semacam ini disebut jaminan utang dengan pekerjaan.

Baca Juga :  Mengenal Produk Kredit Tanpa Agunan dengan Basis Akad Qiradl dalam Fikih

Adakalanya juga, jaminan itu berupa aset (ain). Jaminan utang yang terdiri atas aset, sering disebut juga sebagai akad rahn (gadai). Bilamana terjadi keterlambatan pada aspek pelunasan utang, maka pihak yang mengutangi (kreditur) bisa melelang aset yang dimiliki debitur.

Ketiga model obyek penjaminan (makful lahu) di atas, antara Madzhab Hanafi dan Madzhab Syafii sepakat akan kebolehannya.

Yang menarik adalah persoalan utang yang dijamin atas hal yang tidak berupa aset, pekerjaan, atau utang. Lalu jaminannya berupa apa? Ternyata, jaminan itu berupa pengalihan (hiwalah) dari gaji yang diperoleh dari pihak ketiga. Contoh misalnya, utang dengan jaminan SK, yang mana setiap tanggal bulan tertentu ketika gajinya cair, maka secara otomatis rekening debitur terdebet ke rekening kreditur.

Nah, bila kita masuk pada aspek pembahasan “Kredit Tanpa Agunan (KTA) ditinjau dari sisi syariat”, maka berarti kita tidak masuk pada keempat model penjaminan utang di atas. Kredit tanpa jaminan hakikatnya adalah menggunakan akad qardlu ini. Sederhananya, qardlu merupakan transaksi utang-piutang berupa uang kes. Gambaran dari pelaksanaan akad qardlu ini adalah sebagai berikut:

فإن قال ملكتك هذا على أن ترد إلى بدله كان قرضا

Artinya: “Jika seseorang berkata: Aku kuasakan ini kepadamu dengan syarat kamu harus mengembalikan gantinya padaku, maka akad ini adalah akad qardlu.” (al-Majmu’ Syarah al-Muhadzab, Juz 13, halaman 163).

Dipandang dari sisi syariat, hukum memberikan akad qardlu kepada pihak yang membutuhkan adalah sunnah. Berikut ini adalah beberapa dasar kesunnahan akad qardlu yang penulis kutip dari Kitab Majmu’ Syarah Muhadzabkarya al-Nawawi, Juz 13, halaman 163-165.

Pertama, hadis riwayat Abu Hurairah radliyyallahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

Baca Juga :  Tiga Keutamaan Membaca Surah Al-Syams

من كشف عن مسلم كربة من كرب الدنيا كشف الله عنه كربة من كرب يوم القيامة، والله في عون العبد ما دام العبد في عون أخيه

Artinya: “Barangsiapa memberi solusi atas kesusahan duniawi seorang muslim, maka Allah akan memberinya solusi dari kesusahan kelak di hari kiamat. Allah senantiasa menolong hamba-Nya selagi hamba tersebut senantiasa menolong saudaranya.” (Baca: Bolehkah Berkurban dengan Cara Kredit?)

Kedua, hadis riwayat Abu Darda’ radlillahu ‘anhu, Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

لان أقرض دينارين ثم يردا ثم أقرضهما أحب إلى من أن أتصدق بهما

Artinya: “Sesungguhnya mengutangkan dua dinar kepada orang lain, kemudian dilunasinya, kemudian mengutangi kembali dua dinar, adalah lebih aku cintai dibanding aku bershadaqah dengan dinar itu.”

Ketiga, dalam sebuah atsar Ibnu Mas’ud dan Ibnu ‘Abbas radliyyallahu ‘anhuma disampaikan bahwa:

قرض مرتين خير من صدقة مرة

Artinya: “Memberikan utang sebanyak dua kali, adalah lebih baik dibanding shadakah sekali.”

Menyimak dari kedua hadis di atas, ditambah dengan satu atsar di atas, kita dapat menarik kesimpulan, bahwa:

Pertama, hakikatnya akad qardlu (utang-piutang) dibangun atas dasar tolong menolong. Itu sebabnya, dua hadis terakhir menyandingkannya dengan shadaqah yang hakikatnya juga merupakan akad pertolongan

Kedua, Qardlu memiliki nuansa pertolongan produktif kepada orang lain agar ia mau bekerja untuk membangun perekonomiannya. Itulah sebabnya, kewajiban yang berlaku atas pihak yang ditolong adalah mengembalikan ra’su al-mal (pokok harta) yang diutangkan kepadanya.

Ketiga, Shadaqah, hakikatnya merupakan pemberian (athiyah) yang semata diserahkan karena mencari keridlaan Allah SWT.  Karena merupakan pemberian, maka tidak ada kewajiban untuk mengembalikan oleh pihak yang diberi. Jadi, seolah barang yang menjadi obyek shadaqah adalah barang yang sifatnya habis pakai.

Baca Juga :  Hukum Kredit KPR Rumah dan Kendaraan Bermotor

Jadi, jelas bukan, apa yang dimaksud sebagai produk kredit tanpa agunan dalam ranah fikih islami itu? Kelak kita akan mengupasnya dari sisi lain akad perbankan. Insya Allah!

3 KOMENTAR

  1. […] BincangSyariah.Com – Kredit Tanpa Agunan (KTA) dalam wahana fikih klasik merupakan akad utang yang diambil atas dasar kepercayaan (amanah). Fikih mengistilahkannya sebagai qardh. Mengapa demikian? Karena dalam akad  kredit (qardh) ini, terdapat unsur kepercayaan kreditur kepada sang debitur, atas dasar kemanusian (tabarru’). (Baca: Produk Kredit Tanpa Agunan Berbasis Akad Qardlu dalam Fikih Islam). […]

  2. […] BincangSyariah.Com – Tidak semua orang yang mengambil akad utang adalah karena faktor butuh modal usaha (kredit produktif). Masyarakat kita di kalangan pedesaan, dan sejumlah karyawan perusahaan yang umumnya terdiri dari masyarakat kalangan urban, justru berutang dalam rangka memenuhi kebutuhan dasar keluarganya dan sarana untuk bekerja. Jadi, yang berlaku buat mereka (dalam konteks fiqih islami) seharusnya adalah akad Kredit Tanpa Agunan (qardh). (Baca: Produk Kredit Tanpa Agunan Berbasis Akad Qardlu dalam Fikih Islam) […]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here