Prinsip-Prinsip Mu’amalah Terhadap Non-Muslim

0
726

BincangSyariah.Com – Telah jamak diketahui, bahwa Islam merupakan agama rahmat bagi sekalian alam. Tapi, persoalannya terkadang bukan pada ajarannya, akan tetapi kepada pelaku-pelaku yang mengatas namakan Islam. Jika kita pelajari dalam Islam, banyak prinsip-prinsip universal yang telah ditentukan ulama klasik dalam menyikapi hubungan dengan kaum beragama yang lain.

Hal ini sebagaimana yang telah dipelajari bahwa Islam sendiri datang bukan menghapus, alih-alih malah mengakomodir dan membuat “rekonstruksi” atas doktrin syariat sebelumnya. Yang di dalam ushul fikih ini dikenal istilah, syar’u man qablana (syariat sebelumnya), seperti contoh puasa, merupakan syariat dari nabi-nabi terdahulu sebelum syariat Nabi Muhammad Saw. oleh para ahli ushul fikih dikatakan bahwa syariat Islam yang dibawa Nabi Muhammad Saw mengakomodir dan melengkapi praktek keagamaan samawi (Nasrani, Yahudi) atau yang dikenal dengan abrahamic religions.

Dengan kata lain, syariat Islam tidak bersifat tertutup, akan tetapi ia bersifat terbuka dan selalu sesuai dengan kondisi zaman. Dengan adanya spirit shalih likulli zamanin wa makanin. Spirit syariat Islam ini dikenal dengan tasyri’ al-Islami. Bahkan lebih jauh, Muhammad Said al-Asmhawi, salah seorang hakim Agung Mesir, menyebut syariat Islam itu tidak ada yang murni, akan tetapi merupakan “jalan yang bersih” untuk mengakomodir perubahan zaman.

Al-Quran dan Sunnah Nabi merupakan dua sumber utama syariat Islam. di dalam keduanya terdapat nilai-nilai kebersamaan yang disepakati terhadap prinsip-prinsip toleransi. Bahkan itu terkait dengan permasalah apa yang disembah. Berikut prinsip-prinsip kebersamaannya.

Prinsip pertama: menjaga hubungan baik antara umat beragama. Prinsip ini bersifat universal, yang mana merupakan prinsip mu’malah (berhubungan dan berinteraksi) ini dilandasi atas nash al-Quran. Yaitu ayat berikut:

وَإِذَا حُيِّيتُمْ بِتَحِيَّةٍ فَحَيُّوا بِأَحْسَنَ مِنْهَا أَوْ رُدُّوهَا إِنَّ اللَّهَ كَانَ عَلَى كُلِّ شَيْءٍ حَسِيبًا

Baca Juga :  Unduh Buku Saku Relasi Muslim dan Non-Muslim

“dan Apabila kamu dihormati dengan sebuah penghormatan, maka berikanlah penghormatan yang lebih baik, atau minimal balaslah penghormatan itu dengan cara yang sama, sesungguhnya Allah memberikan perhitungan terhadap segala sesuatu” (An-Nisa:86)

Ayat di atas menjelaskan secara umum, siapa saja yang menghormati kamu, entah itu muslim atau non-muslim, jika dihormati, maka balaslah dengan penghormatan yang sama.Dengan begitu, alquran pun menghendaki adanya hubungan baik terhadap sesama antar umat beragama.
Ayat ini memiliki munasabah (korelasi) terhadap nilai universalitas persamaan manusia, sebagaimana dicantumkan dalam al-Quran.

أَيُّهَا النَّاسُ إِنَّا خَلَقْنَاكُمْ مِنْ ذَكَرٍ وَأُنْثَى وَجَعَلْنَاكُمْ شُعُوبًا وَقَبَائِلَ لِتَعَارَفُوا إِنَّ أَكْرَمَكُمْ عِنْدَ اللَّهِ أَتْقَاكُمْ إِنَّ اللَّهَ عَلِيمٌ خَبِيرٌ

Artinya: sesungguhnya kami ciptakan kamu dari laki-laki dan perempuan, dan membuatmu menjadi bersuku-suku dan berkelompok agar kamu saling mengenal dan mengetahui, sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui.

Prinsip kedua: jangan mencela sesembahan orang lain. Di dalam Islam, mencela sembahan, tuhan orang lain merupakan perbuatan tercela. Karena hal itu berarti tidak menghargai keyakinan orang lain (the otherness). Hal ini dipahami karena keyakinan terhadap tuhan merupakan wilayah keimanan seseorang. Ini bersifat prinsipil, karena dikhawatirkan justru orang tersebut tidak mau mendengarkan dakwah Islam. Sebagaimana tercantum pada ayat

وَلَا تَسُبُّوا الَّذِينَ يَدْعُونَ مِنْ دُونِ اللَّهِ فَيَسُبُّوا اللَّهَ عَدْوًا بِغَيْرِ عِلْمٍ كَذَلِكَ زَيَّنَّا لِكُلِّ أُمَّةٍ عَمَلَهُمْ ثُمَّ إِلَى رَبِّهِمْ مَرْجِعُهُمْ فَيُنَبِّئُهُمْ بِمَا كَانُوا يَعْمَلُونَ

“dan janganlah kamu memaki mereka yang tidak menyembah Allah, karena bisa jadi mereka balik memaki Allah melampaui batas karena permusuhan dan ketidak tahuan. Demikianlah kami jadikan, setiap ummat memandang baik perbuatan mereka. kemudian kepada Tuhannyalah mereka kembali, lalu Dia memberitahukan apa yang telah mereka kerjakan” (Al-An’am: 108)

Baca Juga :  Perhatikan Empat Hal Ini Sebelum Mengikuti Asuransi

Muhammad Abduh dan Rasyid Ridha dalam tafsir al-Manar menerangkan bahwa ayat ini turun untuk menjelaskan bahwa umat Islam, para sahabat nabi tidak diperbolehkan untuk mencela sesembahan orang lain. Secara tersirat, pesan yang ingin disampaikan juga bermakna dakwah Nabi Muhammad Saw hanyalah penyampai, bukan sebagai pemaksa dan pemberi petunjuk. Keduanya lebih jauh menerangkan bahwa ayat di atas menjelaskan bahwa menghina tuhan orang lain tidak dibolehkan dalam Islam.

Pada dua ulama kontemporer di atas kita belajar bahwa menghargai sesembahan orang lain merupakan prinsip universal di dalam Islam. karena sejatinya menghormati ajaran agama lain, berarti menghargai penganutnya (the other). Dan prinsip ini lebih dikedepankan, alih-alih mengafirmasi perbedaan teologis yang tidak akan menemukan titik temu ila yaumil akhir.

Majelis Tarjih Muhammadiyah dalam buku Tafsir Tematik alquran tentang hubungann sosial antar umat beragama menyebutkan beberapa prinsip yang diatur dalam al-Quran mengenai relasi muslim dan non-Muslim. Prinsip itu merupakan implementasi dari ayat Allah kalimah sawa’, statemen kesepakatan bersama antar umat beragama. Sebagaimana diterangkan dalam alquran

قُلْ يَاأَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَى كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلاَّ نَعْبُدَ إِلاّ‍َّ اللهَ وَلاَ نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلاَ يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللهِ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ

Kalimah sawa’ tersebut merupakan cara pandang, agar setiap umat beragama tidak menyakiti antara satu sama lain. Prinsip tersebut adalah menjaga keharmonisan dan saling pengertian antar umat beragama. Prinsip ini nantinya akan melahirkan hubungan produktif dalam membangun perdamaian dan menghindari adanya perselisihan dalam interaksi sosial.

Prinsip ini didasarkan atas ayat al-Quran wa la tasubbulladzina yad’una min dunilllah, fayasubbuna Allah. Janganlah kamu menghina sesembahan orang berdoa dan menyembah kepada selain Allah, karena dikhawatirkan mereka nanti akan mencela Allah. Ayat kedua, yaitu wa jadilhum billati hiya ahsan. Dan berdebatlah dengan mereka (ahlul kitab) dengan cara yang terbaik dan elegan.

Baca Juga :  Prinsip-prinsip Muamalah terhadap Nonmuslim

Kedua ayat di atas secara tersurat menjelaskan bahwa tidak dibenarkannya adanya pandangan buruk dan mencela sesembahan orang lain. Oleh para ahli disebutkan bahwa interaksi sosial dan dialog antar umat beragama tidak menyentuh aspek seperti doktrin teologis. Karena pada dasarnya, setiap doktrin teologis bersifat mengikat dan tentu tidak akan sama antar satu agama dengan agama yang lain. Hal ini tentu bertentangan dengan nash alquran di atas yang menghendaki adanya statemen kesepakatan dialog dan interaksi sosial. 

Muhammad Asad dalam The Message of Quran menjelaskan bahwa ayat tentang mencaci sesembahan orang lain bersifat umum yang tertuju kepada semua kaum beragama. Hal ini merupakan representasi alquran terhadap keterbukaan Islam terhadap kaum beragama yang lain. Seluruh muslim dilarang mencaci dan mengolok-olok kepercayaan orang lain, bahkan meski itu terkait perbedaan pandangan terhadap keesaan Tuhan.

Wallahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here