Prahara Rumah Tangga Nabi Ibrahim

0
879

BincangSyariah.Com – Tiada keluarga yang tak pernah menghadapi konflik, semua manusia yang berumah tangga akan merasakan gesekan – gesekan, cekcok, dan perbedaan pendapat diantara 2 manusia yang berbeda. Suami dan Istri adalah 2 insan yang berbeda, punya latar belakang hidup yang berbeda, level pemahaman yang berbeda, bahkan asupan gizi yang berbeda, sebagaimana dijelaskan dalam Al-Kamil Fit Tarikh (juz 1 halaman 82-84)

Maka sangat wajar bila di antara keduanya akan menemui satu titik dimana gesekan akan sangat terasa. Peristiwa ini akan mampir ke rumah tangga siapapun, bahkan tak terkecuali rumah tangga para nabi dan rasul. Al-Qur’an bukan sekali dua kali mengisahkan keluarga – keluarga yang mengalami cekcok bahkan hingga akhirnya harus berpisah. (Baca: Doa Nabi Ibrahim Agar Dikaruniai Keluarga Taat Beribadah)

Diantara list Nabi yang rumah tangganya pernah tergoncang cukup serius adalah rumah tangga Nabi Ibrahim. Rumah tangga beliau berulang kali mendapat cobaan dari Allah SWT. Seperti yang kita ketahui bersama, Nabi Ibrahim memiliki 2 orang Istri, yang pertama bernama Sarah dan yang kedua bernama Hajar. Diatas sudah kita bahas, bahwa cekcok terjadi karena ada gesekan antara 2 manusia yang berbeda. Maka bisa disimpulkan bahwa penambahan jumlah gesekan akan menambah potensi cekcok pula. Dalam rumah tangga nabi Ibrahim, 3 orang bergesekan akan mempunyai potensi konflik yang cukup kuat.

Hajar adalah istri kedua Nabi Ibrahim, pemberian dari Fir’aun dinasti awal Mesir bernama Sinan bin Alwan bin Ubaid bin Uwaij bin Imlaq bin Lawid bin Sam bin Nuh. Awalnya, Hajar diberikan agar menjadi pelayan saja bagi Nabi Ibrahim. Namun ternyata Istrinya, Sarah berkata pada Ibrahim : “Ambillah ia sebagai istrimu, barangkali darinyalah Allah memberimu seorang anak” .

Baca Juga :  Sejarah Rusaknya Ajaran Tauhid di Tanah Hijaz Pra-Islam Sebab Amr bin Luhay

Akhirnya Ibrahim setuju dan akhirnya menikahi Hajar. Karena merasa terintimidasi oleh Firaun, Ibrahim dan Keluarganya meninggalkan Mesir menuju Syam (sekarang Suriah) dalam perjalanannya mereka mampir kesebuah daerha bernama Sheba (As-Sab’), kemudian Nabi Ibrahim membangun masjid dan sumber mata air. Namun sayangnya masyarakat menyambutnya dengan siksa, hinaan, dan cercaan sehingga Ibrahim dan rombongannya pergi dari sana, daerah itu kini dikenal dengan nama Bersyeba (Beersheba) Negara bagian Israel.

Nabi Ibrahim akhirnya memutuskan untuk tinggal di sebuah daerah antara Ramla dan Elya, sebuah wilayah bernama Qith au Qith. Disanalah semua kejadian dimulai, segala konflik mulai tersulut antara cinta 3 titik ini.

Tak lama setelah Ibrahim dan keluarganya menetap disana, Hajar dianugerahi Ismail, putra pertama Nabi Ibrahim. Konon kabarnya saat Ismail lahir, Sarah merasakan kesedihan yang amat sangat, tentu sebagai Istri “senior” dan belum memberi keturunan tentu sangat menyakitkan, hinnga Tak lama kemudian Sarah di usianya yang telah senja (sekitar 70 tahun) dianugerahi Ishaq.

Ketika keduanya tumbuh besar, Ismail dan Ishaq sering bertengkar, saling kejar, saling berebut, suatu yang lumrah dilakukan balita. Sarah seringkali marah akan kelakuan keduanya, kemudian mengusir Hajar dari rumah, lalu tak lama kemudian menyesal dan menyusul Hajar untuk pulang lagi ke rumah. Hal itu terjadi beberapa kali. Alasannya? Cemburu. Masuk akal? Tentu. Padahal Sarahlah yang mengajukan Hajar agar dinikahi suaminya, Ibrahim.

Pada akhirnya, Sarah merasa bersalah jika terus – terusan bersikap labil terhadap Hajar. Maka menghadaplah Sarah kepada Ibrahim. Sarah mengadu pada Ibrahim:

لا تساكنني في بلد

“Jangan engkau kumpulkan kami (Sarah dan Hajar) dalam satu wilayah”

Kemudian, turunlah wahyu dari Allah SWT, Wahyu agar Ibrahim membawa hijrah Hajar dan Ismail ke tanah Makkah. Mereka bertiga pun pergi, tak satupun kata protes keluar dari mulut Hajar. Perlu digaris bawahi, bahwa antara Hajar dan Sarah tidak ada peran Antagonis dan Protagonis, semua memainkan porsi masing – masing yang sesuai dengan naluri kehidupan yang logis.

Baca Juga :  Selain untuk Doa, Ini Dua Penggunaan Kata Allahumma dalam Bahasa Arab

Sesampainya di Makkah, Ibrahim harus meninggalkan Istri dan Anaknya yang masih kecil itu di tanah Makkah yang saat itu kering kerontang. Seusai berpamitan, Nabi Ibrahim mulai melangkahkan kakinya meninggalkan Makkah.

Dalam berapa tapak kaki, Hajar memanggilnya, “Wahai Ibrahim, Siapakah yang memerintahkanmu meninggalkanku di sebuah tanah yang kering kerontang, tanpa pepohonan, tanpa air, tanpa kehidupan, tanpa bekal?. Ibrahim dengan tegas menjawab “Tuhankulah yang memerintahkan”. Diluar dugaan, Hajar malah memberikan jawaban yang sangat meyakinkan “Maka, Dia tidak akan menelantarkan kami”.

Kemudian Nabi Ibrahim mengangkat kedua tangannya, bermunajat kepada Rabb-nya. Seperti yang diabadikan dalam surat Ibrahim ayat 37 :

رَّبَّنَا إِنِّى أَسْكَنتُ مِن ذُرِّيَّتِى بِوَادٍ غَيْرِ ذِى زَرْعٍ عِندَ بَيْتِكَ ٱلْمُحَرَّمِ رَبَّنَا لِيُقِيمُوا ٱلصَّلَوٰةَ فَٱجْعَلْ أَفْـِٔدَةً مِّنَ ٱلنَّاسِ تَهْوِى إِلَيْهِمْ وَٱرْزُقْهُم مِّنَ ٱلثَّمَرَٰتِ لَعَلَّهُمْ يَشْكُرُونَ

Artinya : “Ya Tuhan kami, sesungguhnya aku telah menempatkan sebahagian keturunanku di lembah yang tidak mempunyai tanam-tanaman di dekat rumah Engkau (Baitullah) yang dihormati, ya Tuhan kami (yang demikian itu) agar mereka mendirikan shalat, maka jadikanlah hati sebagian manusia cenderung kepada mereka dan beri rezekilah mereka dari buah-buahan, mudah-mudahan mereka bersyukur.”

Yang hebat dari ayat ini adalah doanya nabi Ibrahim, Setelah mengeluhkan kondisi fisik lingkungan saat itu, doa pertama beliau kepada keturunannya, bukan tentang agar dicukupi pangan dan papannya, Nabi Ibrahim memintakan kekuatan Iman terlebih dahulu, bahkan menempatkan permintaan rezeki di akhir doa.

Sarah adalah wanita dengan dada yang sangat lapang, beliau dengan besar hati memberikan kesempatan bagi suaminya untuk mendapatkan keturunan dengan cara lain yang halal. Bahkan menawarkan calon  istri untuknya. Kebesaran hati ini sulit sekali ditemukan pada wanita lain.

Baca Juga :  Kisah Perempuan Yahudi Beri Tahu Aisyah Mengenai Azab Kubur

Walau pada akhirnya Sarah meminta dipisahkan dari Hajar, Sarah melakukannya karena alasan yang baik. Karena ia tak mau terus-terusan mendzalimi Hajar. Sedangkan Hajar adalah wanita yang ikhlas dan penuh ridha kepada Allah, begitu ia tahu bahwa hijrahnya ke Makkah adalah perintah Allah, ia kuatkan kembali aqidahnya. Ia tak patah arang walau berpisah dengan suaminya, bahkan berhasil medidik Ismail sebagai seorang Rasul.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here