Potret Kehidupan Keluarga di Masyarakat Arab pra Kenabian Muhammad di dalam Alquran (Bagian. 2)

0
1021

BincangSyariah.Com – Sedangkan gambaran Alquran yang bersifat khusus tentang kebiasaan masyarakat Arab pra kenabian adalah di antaranya berkaitan dengan perlakuan kaum laki-laki terhadap kaum perempuan. Alquran misalnya mengisahkan bahwa persoalan talak merupakan salah satu tradisi masyarakat Arab pra kenabian yang memperlakukan kaum perempuan secara tidak manusiawi.

Alquran memperbaiki tradisi itu dengan cara memberikan perlakuan adil dan manusiawi terhadap kaum perempuan sebagaimana laki-laki. Tradisi tidak manusiawi lain adalah menzihar istri (anta alaiyya ka dhahri ummi) dan ila’ (bersumpah untuk tidak menggauli istrinya). Mengucilkan perempuan yang sedang haid dalam segala hal, terutama dalam tradisi Yahudi di Madinah, dengan alasan haid itu kotor dan najis.

Kendati mengakui haid itu juga najis (Albaqarah; 222), Alquran hanya melarang suami menggauli istrinya yang sedang haid, tidak dalam seluruh hubungan keluarga dan sosial mereka. Tradisi Yahudi juga biasa memberikan batasan setahun penuh bagi seorang istri yang ditinggal mati suaminya untuk tidak menikah lagi. (Albaqarah 240). Lalu Alquran membatasi menjadi empat bulan sepuluh hari (Albaqarah 234).

Dalam tradisi pra Islam, anak laki-laki terbiasa mengawini istri bapaknya yang sudah meninggal, lalu Alquran melarangnya (Annisa; 21). Sebelumnya, seorang laki-laki terbiasa mengawini secara bersamaan dua perempuan bersaudara, lalu Alquran melarangnya, termasuk tradisi perkawinan lainnya yang masih mempunyai hubungan kekerabatan (Annisa 23). Sebelumnya, laki-laki terbiasa mengawini perempuan sebanyak mungkin tanpa batasan jumlah, lalu Alquran membatasinya menjadi maksimal empat istri (Annisa; 3).

Sebelumnya, mereka terbiasa melamar perempuan sebelum dinikahi, dan Alquran tidak melarangnya. sebelumnya, mereka terbiasa mengadakan acara walimah ursy dalam menyambut pernikahannya dengan mengundang keluarga, teman-teman dekat dan tetangga dekat. Alquran, menurut tafsir Darwazah tidak pernah melarang tradisi itu selama tidak berlebihan (Alahzab 53).

Baca Juga :  Enam Surah Ini Diakhiri dengan Ayat Wasiat

Sebelumnya mereka terbiasa menggauli budak perempuannya tanpa batasan jumlah, tanpa memberinya mahar, bahkan menjualnya kepada laki-laki lain yang menginginkannya, lalu Alquran melarangnya dan mensyaratkan adanya pernikahan yan sah dan membatasi jumlahnya (Almukminun; 6-7, Annisa; 3, 24-25, Alahzab; 52).

Sebelumnya, mereka terbiasa menikahi perempuan secara mut’ah. Kendati tidak ada Alquran yang menegaskan penghapusan bentuk pernikahan mutah, kecuali Syiah, sebagian besar mufakat memahami tradisi itu sudah dihapus oleh Islam (Annisa; 24).

Sebelumnya, mereka terbiasa kumpul kebo. Alquran melarangnya dan memintanya lebih baik menikah dengan menjaga diri dari mengumbar nafsu birahi walaupun dengan budak perempuan mukminah (annisa; 25, Almaidah; 5). Alquran melarang tradisi yang mendekati zina, apalagi berzina (Annisa 15-16, Alisra’; 32, Maryam; 20). Sebelumnya, mereka juga terbiasa masuk ke rumah orang lain tanpa minta izin, laki-laki dan perempuan berada berduaan di dalam sebuah rumah, termasuk pembantu perempuan diizinkan masuk ke dalam kamar tuannya yang laki-laki, Alquran lalu melarangnya (Annur; 27-28, Alahzab; 53). Sebelumnya perempuan terbiasa diminta memamerkan diri di hadapan laki-laki dengan membuka bajunya sampai kelihatan leher dan dadanya, Alquran meresponnya agar kaum laki-laki menutup matanya dan meminta perempuan menutup auratnya dengan menggunakan jilbab (Annur; 30-31, Annur 60).

Sebelumnya, mereka terbiasa mengambil anak angkat dan memberi nama dengan namanya sendiri, bukan nama orang tua kandungnya. Memberi warisan kepada mereka, melarang menikahi perempuan yang ditinggal mati anak angkatnya; dan menikahi anak dari anak angkatnya. Alquran menghormati beberapa unsur yang berkaitan dengan tradisi mengambil anak angkat, tetapi juga membatalkan beberapa unsur yang berkaitan dengan tradisi mengangkat anak tersebut.

Nabi juga pernah mengambil anak angkat bernama Zaid bin Harisah, lalu memberinya nama dengan nama Muhammad di belakang, menjadi Zaid bin Muhammad. Muhammad mendapat teguran dari Alquran dan memintanya untuk menghapus nama tambahan Muhammad itu, termasuk nantinya diperbolehkan mengawini mantan istri dari anak angkatnya itu (Alahzab 4-5, 36-40, Annisa 23).

Baca Juga :  Tafsir Surah al-Rahman Ayat 10-13; Fasilitas Allah di Bumi untuk Makhluk Hidup

Masyarakat Arab pra kenabian terbiasa mencarikan ibu susuan untuk anak-anaknya dan Alquran menerima kebiasaan seperti itu (Albaqarah 233). Muhammad juga menyusu pada ibu susunya yang bernama Halimah binti Abi Dzuwaib Alsa’ diyah. Termasuk ke dalam tradisi ini adalah tradisi masa penyapihan (Albaqarah 233, Luqman;14, Alahqaf 15, Annisa;6). Mereka sebelumnya terbiasa membunuh anak perempuannya, baik karena anaknya banyak atau sebagai kurban terhadap dewa-dewa mereka.

Alquran melarangnya dan menegaskan bahwa masalah anak dan rezeki adalah utusan Allah (Alan’am; 151, Alisra; 31, Attakwir 8-9). Sebelumnya mereka tidak terbiasa memberikan warisan secara adil, Alquran memperbaikinya agar membagi warisan secara adil (Annisa 7-8, 11-14, 127, 176). Sebelumnya mereka tidak terbiasa menghormati kedua orang tuanya, Alquran mengajarkan agar menghormati mereka (Albaqarah 215, Annisa 36, Alan’am 151).

Mereka terbiasa menghardik anak yatim, lalu Alquran meminta menjaganya termasuk harta-hartanya (Albaqarah; 117, 215, 220, Annisa 2-3, 6, 10, 127, Alfajr; 17-18, Almaun 1-3). Demikianlah pembicaraan Alquran tentang kehidupan di masyarakat Arab pra kenabian Muhammad Saw. berkaitan dengan tasyri’, taklif dan tawaran Islam untuk memperbaiki tradisi sosial keluarga yang tidak manusiawi, terutama tentang hubungan antara laki-laki dan perempuan menurut mufassir Izzat Darwazah sebagaimana yang dikutip oleh Aksin Wijaya di dalam bukunya Sejarah Kenabian Dalam Prespektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

(Disarikan dari buku Aksin Wijaya Sejarah Kenabian Dalam Prespektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah, Bandung: Mizan, 2016, h. 157-170 dengan sedikit perubahan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here