Potret Kehidupan Keluarga di Masyarakat Arab pra Kenabian Muhammad di dalam Alquran (Bagian 1)

0
848

BincangSyariah.Com – Menurut penelitian Aksin Wijaya terhadap pemikiran mufassir Izzat Darwazah sebagaimana yang disebutkannya di dalam bukunya Sejarah Kenabian Dalam Prespektif Tafsir Nuzuli Muhammad Izzat Darwazah,  ia mengatakan bahwa Izzat Darwazah membagi dua bentuk gambaran Alquran tentang kehidupan keluarga masyarakat Arab pra kenabian Muhammad terutama tentang hubungan laki-laki dan perempuan. Pertama, gambaran yang bersifat umum, dan kedua gambaran yang bersifat khusus.

Gambaran Alquran yang bersifat umum misalnya masyarakat Arab menempatkan laki-laki pada posisi istimewa. Laki-laki menjadi nomor satu, pemimpin, penanggung jawab, pendidik, penjaga keamanan, penanggung jawab sosial dan sebagai pihak yang mempunyai otoritas untuk memutuskan sesuatu dalam sebuah keluarga. Karena itu pula, mereka juga mengutamakan anak laki-laki daripada anak perempuan. Tidak hanya merasa sedih kalau istrinya melahirkan anak perempuan, tetapi mereka juga menisbatkan anak perempuan tersebut sebagai anak Allah. (Annahl, 57-59, Azzukhruf; 17-19, Assaffat; 149-150, Annajm 21-23, Attakwir 8-9)

Secara sosial, perempuan menjadi manusia nomor dua, menjadi pengikut bagi laki-laki dan berada di bawah kendali laki-laki. Mereka memperlakukan perempuan sewenang wenang misalnya hak-hak nya dalam perkawinan dan urusan ekonomi tidak dihargai. Alquran hadir membawa perbaikan terhadap kondisi itu dengan cara menghargai hak-hak perempuan, baik sebagai istri maupun ibu rumah tangga Mereka diperlakukan secara manusiawi dan adil. (Albaqarah 226-227, 233-234, 237, Ali imran 14, Annisa 3-4, 34, Yusuf 109).

Pada masa pra Islam, seorang perempuan ditinggal mati suaminya harus menunggu sepanjang tahun untuk menikah lagi, bahkan mereka bisa diwariskan kepada anak laki-laki suaminya. (Annisa 21-22). Alquran lalu membatasi masa iddah itu menjadi empat bulan sepuluh hari  dan memberi warisan kepada perempuan  jika suaminya meninggal dunia, begitu pula warisan untuk anak-anak perempuannya. (Annisa 11-14)

Baca Juga :  Ini Lima Nama Lain Bulan Rajab

Di sisi lain, Alquran juga mengisahkan perempuan yang mempunyai pengaruh kuat dalam keluarga, baik dari segi negatif maupun positif. Perempuan kuat yang mempunyai sifat-sifat negatif disebut Alquran berbarengan dengan laki-laki seperti dalam kasus syirik. Mereka disebut secara bersamaan “musyrikin dan musyrikat” dan “munafiqin dan munafiqat”. (Attaubah 68, Alahzab 73, Alfath 6). Ayat Alquran itu mengisahkan betapa kaum perempuan sama posisinya dengan kaum laki-laki dalam perbuatan syirik kepada Allah. Jika laki-laki ada yang musyrik dan munafik, begitu juga perempuan, seperti istri Abu Lahab yang diabadikan di dalam Alquran surah Almasad.

Alquran juga menyebutkan perempuan yang mempunyai sifat-sifat positif yang kuat imannya sebagaimana laki-laki. Ada di antara mereka yang sabar berjuang di jalan Allah dan ikut hijrah ke Madinah bersama Nabi Muhammad dan umat Islam untuk mempertahan kan keimanannya dari pengaruh orang-orang musyrik Makkah yang disebut Alquran dengan istilah “Almukminin wal Mukminat.”  Juga almuslimun wal muslimat (Ali Imran 195, Attaubah 71, Annahl 97, Alahzab 35) Ada juga perempuan muslimat yang tidak mampu hijrah ke Madinah dan memilih menetap di Makkah tetapi tetap mempertahankan keimanannya kendati dipaksa menjadi murtad oleh orang-orang kafir (Alfath 25, Almumtahanah 10). Ada perempuan pemberani yang mendatangi Nabi dan meminta dibaiat masuk Islam (Almumtahanah 11). Ada perempuan pemberani yang berani mendebat Nabi tentang masalah perkawinannya lalu turun ayat yang mengapresiasi pengaduannya dan memberinya haknya sebagai istri (Almujadilah 1).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here