Potret Keberislaman di Negeri Beruang Merah

1
481

BincangSyariah.Com – Tahun lalu, sebelum menamatkan level dasar Bahasa Rusia di Pusat Kebudayaan Rusia (PKR) Jakarta, saya sempat berkonsultasi dengan dosen kursus saya di PKR, ibu Elena. Lama bersentuhan dengan budaya Indonesia, ibu Elena terbiasa dengan mayoritas muslim. Suatu waktu dalam perbincangan kami, beliau menyarankan saya tentang kuliah di Rusia.

Menurutnya, jika saya berminat kuliah di Rusia, dia akan membantu saya untuk memilih universitas terbaik di Kazan. Ibukota dari Republik Tatarstan, Federasi Rusia yang kental akan nuansa keislaman. “Kalau kamu kuliah di Kazan, kamu akan merasa seperti di Indonesia. Banyak sekali perempuan berhijab sepertimu,” papar ibu Elena.

Memang, seperti yang dikatakan M. Aji Surya dalam catatannya sewaktu menjabat diplomat RI di Rusia, Kazan layaknya Kota Santri. Muslim di sana mencapai sekitar dua juta orang. Tidak heran, saat ini populasi muslim di Rusia merupakan yang terbesar kedua setelah Ortodoks Rusia dengan total 146 juta jiwa.

Berbeda dengan kondisi muslim di Eropa, muslim di Rusia justru merupakan penduduk asli negara tempat mereka tinggal. Meski pun pada sejarah lain mengatakan, bahwa orang Kazan adalah anak turun bangsa Eropa Timur (Bulgaria) yang bermigrasi ke Rusia.

Namun itu pun, mereka belum memeluk agama Islam. Mereka baru menjadi muslim ketika Islam datang melalui utusan dari Baghdad di abad ke-7 Masehi. Saat itu, Kazan masih bagian dari Bulgaria.

Di Kazan pula, Masjid Kul Sharif di Tanah Kremlin memadukan arsitektur masjid dan gereja pada dinding-dindingnya. Masjid ini tak hanya melambangkan Islam di Rusia tapi juga sebagai situs untuk memperingati Imam Kul Sharif. Beliau wafat ketika mempertahankan Kazan dari Pasukan Ivan The Terrible pada tahun 1552. Sungguh sebuah potret Islam ramah yang memelihara sejarah.

Sastrawan Rusia dan Islam

Karena heboh dengan ucapan Tolstoy tentang Alquran, seorang sastrawan besar dan filsuf moral Rusia, ramai orang mengklaim bahwa dia sudah menjadi muslim. Tidak heran memang jika hal tersebut menjadi perdebatan.

Baca Juga :  Bahaya serta Manfaat Lidah dan Hati

Pasalnya, Tolstoy mengatakan bahwa kemanusiaan membutuhkan hukum-hukum yang tertera di dalam AlAlquran. Namun demikian, pengakuan Tolstoy pernah membaca Alquran tidak lebih dari sekedar quote atau ungkapan.

Seorang doktor bidang Sosiologi, Dr. Craig Considine yang aktif menjadi pembicara tentang Islam di Amerika bahkan merangkum ucapan Tolstoy tersebut ke dalam salah satu artikel ringannya.

Bagaimanapun, hal itu membuktikan bahwa memang ajaran Islam sudah begitu lama mengakar di negeri Beruang Merah. Bahkan tidak hanya Tolstoy, Kazan lagi-lagi punya cerita menarik tentang Islam dari penyairnya. Konon, ada penyair atau pujangga dari Kazan bernama Gabdulla Tukay yang mati di usianya yang masih belia yaitu 27 tahun.

Saking berharganya sosok sastrawan ini bagi warga Kazan, mereka membangunkan sebuah monumen di Ulitsa Novokuznetskaya Moskow. Di kota asalnya juga dibuat Lapangan Tukay (Gabdulla Tukay Square) atau dalam bahasa Rusianya Tukay Ploshad. Di sana terdapat patung dirinya di atas bukit kecil dengan keterangan lahir dan tanggal kematian.

Sebagai penyair muslim, Tukay yang lahir dua puluh tahun pasca Sastrawan Maxim Gorky ini terkenal dengan salah satu syairnya yang berjudul İ, Tuğan tel (Oh My Mother Tongue!). Sebuah  Syair dari bahasa lokal Tatar yang kemudian dijadikan syair madah bagi kota Kazan. Bahkan ada juga yang mengatakan syair tersebut dijadikan himne tidak resmi.

Meski menurut Gorky penyair muda ini wafat sebab kelaparan dan penyakit Tuberkulosis, karya-karyanya banyak dikutip selama pemerintahan Soviet. Kala itu, banyak puisinya yang bertemakan sosial (tentunya yang seirama dengan ideologi Soviet saja) yang banyak disebar luaskan.

“Perundang-undangan Alquran akan menyebar ke seluruh penjuru dunia, sebab Alquran sangat sesuai dengan pikiran, logika dan kebijaksanaan.”

Leo Tolstoy, (1828-1910)

Islam, Pandangan Pemerintah Rusia dan Kenyataan di Tengah Masyarakat Rusia

Baca Juga :  Apakah harus puasa syawwal dilakukan berturut-turut?

Perkembangan pesat masyarakat Islam di Rusia diramal akan memberi pengaruh besar bagi demografi masyarakatnya pada tahun 2050. Jumlah yang kian berlipat itu menjadikan pemerintah Rusia memiliki beberapa pandangan.

Dengan segenap keyakinan, pemerintah Rusia berusaha menunjukkan bahwa mereka sangat menjunjung tinggi persahabatan antar bangsa.

Kalimat pembuka konstitusi mereka mengakui Kristen Ortodoks, Islam, Budha dan Yudaisme sebagai bagian yang tidak terpisahkan dari warisan sejarah negara Rusia.

Pada tataran pemerintahan pun, Presiden Vladimir Putin kontinyu menempatkan pejabat tinggi muslim. Khususnya mereka yang dapat memimpin dua institusi utama yang mewakili Islam di Rusia.

Pertama, Dewan Spiritual Muslim Rusia berbasis di Ufa dipimpin oleh Talgat Tadjuddin. Kedua, Ravil Gaynutdin untuk Dewan Mufti yang berbasis di Moskow. Gaynutdin sendiri telah membentuk Dewan Agama Tradisionil antar agama.

Bahkan pada saat Medvedev menjabat sebagai presiden, dia mencatat bahwa yayasan-yayasan Islam memberikan kontribusi dalam mengusung perdamaian, pendidikan spiritual dan moral serta bahu membahu memerangi ekstremisme juga xenofobia.

Sayangnya, pada tataran kenyataan, Islam dan xenofobia masyarakat masih belum dapat dipisahkan. Xenofobia, atau perasaan (irasional) benci terhadap orang asing atau sesuatu yang asing alias kejahatan kebencian ini umumnya menyerang kaum migran.

Namun, sulitnya membedakan mana xenofobia etnis dan xenofobia agama menjadikan muslim tetap menjadi korban. Hal ini dikarenakan, migran itu sendiri kebanyakan berasal dari populasi atau negara muslim. Data kekerasan etnis terhadap orang-orang dengan latar belakang Islam ini berkisar antara 30 sampai dengan 60 persen berdasarkan Pusat SOVA di Moskow.

Sejatinya Islam Rahmatan lil ‘alamin

Keberadaan muslim di manapun berada semestinya menjadi rahmat. Sebagaimana Rasulullah Saw diutus dalam perannya sebagai pembawa misi damai. Masalah-masalah yang terjadi pada beberapa populasi muslim di Rusia juga pasti dialami oleh muslim minoritas di negara lain.

Baca Juga :  Al-Maqrizi dan Soal Perseteruan Bani Umayyah-Bani Hasyim

Sadar atau tidak, dengan bersandar pada pemikiran Foucoult tentang Wacana Kuasa, siapapun yang memegang kendali akan mayoritas biasanya akan menguasai sesuatu di dalamnya.

Meski demikian, selama kekerasan itu masih menyita perhatian kita pada kaum muslim di Rusia, tidak hanya empati dan bantuan yang dapat diberikan namun juga sikap untuk terus mengintrospeksi; “apakah perilaku muslim di Rusia sudah seiring dengan ajaran Rahmatan lil ‘alamin?”

Terlepas dari apa yang menimpa beberapa muslim akan xenofobia, Islam di Rusia masih terus berkembang pesat. Bahkan pada tahun 2015 lalu, Presiden Vladimir Putin bersama Presiden Palestina Mahmoud Abbas dan Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan mendirikan Moskovsky Soborny Mechet atau Masjid Katedral Moskow.

Pada bulan Ramadan kemarin, masjid yang diperkirakan mampu menampung kurang lebih sepuluh ribu jemaah ini makin ramai digunakan beribadah tarawih. Masjid ini dan Masjid Memorial Moskow bersamaan membuka kegiatan buka puasa bersama di halaman masjid. Program ini kemudian diketahui sebagai salah satu program Dewan Mufti Rusia dengan nama Tenda Ramadan.

Acara ini menyajikan hidangan iftar gratis bagi muslim yang berpuasa serta terbuka pula untuk umum. Dewan Mufti Rusia ingin memberikan kenikmatan nuansa bulan suci Ramadan tidak hanya bagi umat Islam tapi juga non-muslim di Rusia.

Kegiatan seperti ini merupakan salah satu wujud dari wajah Islam yang Rahmatan lil ‘alamin dan tentunya harus selalu dijaga dan ditingkatkan. Bagaimanapun, wajah Islam ramah yang sesungguhnya sejatinya berasal dari perilaku dan tutur kata yang baik dari para pemeluknya. Slavsya Rossiya! Bravo Muslimanskiy! (selesai).

 

Sumber Bacaan:

Russia and Islam; A Historical Survey karya Galina M. Yemelianova.

https://jamestown.org/program/marlene-laruelle-how-islam-will-change-russia/

http://islam.ru/en/content/story/islam-russia

https://miraworldweb.wordpress.com/2018/04/11/perjumpaan-pertama-bangsa-russia-dengan-islam-di-suatu-masa-yang-lalu-622-1480-bagian-pertama/

https://www.rbth.com/travel/326653-10-things-must-do-kazan

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here