Potret Kebebasan Beragama di Masa Rasulullah

0
22

BincangSyariah.Com – Indonesia merupakan salah satu negara yang menjamin kebebasan atau kemerdekaan beragama bagi segenap warga negaranya. Hal ini telah disepakati  dan dituangkan dalam konstitusi. Selain Indonesia, ternyata jaminan kebebasan beragama di masa Rasulullah itu sudah diwujudkan.

Dalam Islam, dalil yang menunjukkan kebebasan beragama di antaranya QS.Al-Baqarah ayat 256 : “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam). Imam Al Baghowi dalam tafsirnya Ma’alim At-Tanzil mengemukakan empat riwayat tentang asbabun nuzul ayat tersebut. Satu di antaranya dari Ibnu Abbas. Berdasarkan riwayat Ibnu Abbas, ayat di atas diturunkan kepada kaum Anshar yang hendak memaksa anak – anak mereka masuk Islam. (Baca: Tafsir Ayat La Ikraha Fiddin Menurut Imam at-Thabari)

Ibnu Abbas bercerita, ada seorang wanita yang hidup tanpa memiliki anak satu pun. Wanita ini bernazar jika kelak dia memiliki anak, maka anak – anak tersebut akan dia masukkan ke dalam agama Yahudi. Benar saja, tatkala anaknya lahir, perempuan tadi memasukannya ke dalam agama Yahudi.

Suatu hari datanglah sekelompok orang dari Bani Nadhir dan di antara mereka terdapat anak-anak dari kaum Anshor (Muslimin Madinah yang membantu Rasulullah saat hijrah ke Madinah). Kemudian kaum Anshar menginginkan agar anak-anaknya memeluk Islam. Mereka berkata, “Mereka adalah anak – anak dan saudara – saudara kami”. Lalu turunlah ayat, “Tidak ada paksaan untuk (memasuki) agama (Islam).

Berdasarkan pandangan Syekh Ali Jum’ah dalam bukunya, al-Musawat al- Insaniyyah Fi al-Islam Bayna Nadzariyyah wa Tayhbiq ayat ini turun di masa perang Bani Nadhir yang meletus pada bulan Rabiul Awwal tahun 4 H. Artinya, pada saat itu umat Islam tengah berada dalam performa di atas angin yang memungkinkan umat Islam untuk memaksa warga Bani Nadhir agar mengislamkan anak-anak Anshar yang kebetulan berada di dalam kelompok mereka.

Baca Juga :  Kisah Abu Jahal yang Mau Menuruti Perintah Rasulullah

Namun Rasulullah tidak melakukan itu dan tidak menghendaki perbuatan tersebut. Rasulullah tidak memerintahkan para sahabat untuk memaksa Bani Nadhir agar memeluk agama Islam. Begitu pula tidak memerintahkan mereka untuk memaksa anak – anak kaum Anshar yang telah memeluk agama Yahudi untuk manganut agama yang diridai ayah – ayah mereka yakni Islam.

Hal ini menunjukkan bahwa Islam sangat menghargai kebebasan seseorang dalam menentukan kepercayaannya. Islam tidak menghendaki pemaksaan juga tidak memanfaatkan kekuasan atau kekuatan untuk memaksakan kehendak orang lain sebagaimana tertuang dalam kisah tadi. Justru perintah Rasulullah adalah untuk berbuat baik kepada mereka dan tidak memaksa anak-anak Anshar untuk masuk Islam.

Dari sini bisa kita sarikan bahwa tugas seorang muslim hanyalah berdakwah yang bermakna mengajak bukan memaksa apalagi memaksa dengan kekerasan, intimidasi atau teror atas dalih agama. Hal ini pada hakikatnya sangat jauh dari esensi ajaran Islam. Alih – alih menebar rahmat, tipe dakwah yang keras dan intoleren justru merusak tatanan sosial masyarakat.

Syekh Wahbah Zuhaili dalam Tafsir Wasith bab Al Hurriyyah ad-Diniyyah Fi al-Islam juga membenarkan bahwa Islam menjunjung tinggi kebebasan beragama. Menurutnya ayat di atas adalah landasan bahwa memaksa seseorang untuk beragama Islam itu dilarang. Ayat ini serasi dengan ayat lainnya, “Barang siapa yang ingin (beriman) hendaklah ia beriman, dan barang siapa yang ingin (kafir) biarlah ia kafir”.

Beliau menampik pendapat orientalis yang mengatakan bahwa Islam tersebar dengan pedang. Beliau berkata “Bukan rahasia lagi bahwasannya penyebaran Islam itu dilakukan melalui argumentasi – argumentasi, bukti – bukti beserta penjelasan – penjelasan yang mampu meyakinkan masyarakat, bukan dengan desakan, tekanan atau paksaan”.

Beliau menegaskan bahwa dalam sejarah Islam tidak ada satu orang pun yang memaksakan orang lain untuk masuk Islam. Orang-orang berbondong-bondong masuk Islam itu atas dasar kebebasan, kerelaan dan pilihan mereka sendiri. Bukti lainnya, umat Islam tidak hidup sendirian, mengasingkan diri dan menjauhi kelompok yang tidak seakidah dengannya. Sebaliknya mereka hidup damai berdampingan bersama non-Muslim.

Baca Juga :  HAM Pasca Post-Modern dalam Perspektif Ke-Indonesiaan

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here