Potensi Wakaf Saham dan Tantantangannya di Indonesia

0
233

BincangSyariah.Com – Rabu, 17 Juli 2019, Badan Wakaf Indonesia (BWI) telah sukses mengadakan acara kajian wakaf dengan tema “Potensi Wakaf Saham dan Tantantangannya di Indonesia.”

Acara yang dimulai dari pukul 10.00-13.00 di Aula Gedung Musium Bayt Al-Qur’an lantai 4 Taman Mini Indonesia Indah (TMII) ini dibuka secara resmi oleh Prof. Dr. Ir. Mohammad Nuh, DEA, selaku ketua BWI.

Prof. M. Nuh di dalam sambutannya menyebutkan bahwa kajian wakaf saham ini sangat penting sekali untuk mengedukasi masyarakat tentang wakaf saham. Terlebih bagi orang-orang yang sudah berkecimpung di dalam urusan persahaman. Sehingga mereka dapat memiliki peluang yang besar dalam wakaf saham. Begitu pula untuk nadzir (pengelola wakaf), mereka pun harus paham tentang saham agar dapat mengelola wakaf saham.

Lebih lanjut, Prof. M. Nuh juga menyampaikan bahwa terkait dengan berkembangnya wakaf saham ini, maka BWI pun memiliki tiga tugas sekaligus yang harus ditindak lanjuti.

Pertama: meningkatkan literasi publik terhadap persamahan. Kedua: BWI selaku pengurus regulasi tentang perwakafan juga harus belajar tentang persahaman, yang tadinya tidak paham, bahkan dipaksa untuk paham tentang saham. Ketiga; BWI harus memberikan pelatihan-pelatihan kepada nadzir agar paham tentang itu.

Adapun pemateri dalam acara ini adalah Arief Mahfoed selaku kepada bidang pasar Modal Syariah OJK. Dalam pemaparannya, Arief tidak hanya menjelaskan tentang regulasi pemerintah tentang saham. Tetapi, ia juga menerangkan tentang saham syariah. Yakni saham yang memiliki sertifikat sebagai bukti kepemilikan suatu perusahaan, pemegang saham memiliki hak klaim atas penghasilan dan aktiva perusahaan, serta kegiatan usaha dan pengelolaannya tidak bertentangan dengan prinsip syariah.

Acara ini juga menghadirkan pemateri lain, yakni Mohammad Bagus Teguh Perwira; Badan Pelaksana DSN (Dewan Syariah Nasional) MUI, Irwan Abdalloh; Kepala Divisi Pasar Modal Syariah BEI, dan Helza Novalita selaku akademisi Dosen Fakultas Hukum Universitas Padjajaran.

Baca Juga :  Wakaf Sejak Zaman Rasulullah Hingga Saat Ini

Di dalam paper yang ditulis oleh Helza Novalita diterangkan bahwa dasar hukum wakaf saham adalah Pasal 16 ayat (1) Undang-undang nomor 41 tahun 2004 tentang wakaf; “harta benda wakaf terdiri dari benda tidak bergerak dan benda bergerak.”

Lebih lanjut, pasal 21 huruf a Peraturan Pemerintah Nomor 42 Tahun 2006 tentang Pelaksanaan Undang-undang Nomor 41 tahun 2004 tentang wakaf: “benda bergerak selain uang yang dapat diwakafkan sepanjang tidak bertentangan dengan prinsip syari’ah yakni saham, surat utang Negara, obligasi pada umumnya, dan/atau surat berharga lainnya yang dapat dinilai dengan uang.”

Dengan demikian, maka bagi Anda yang tidak hanya main-main tetapi serius dalam urusan persahaman, kini ada peluang besar untuk beramal dengan cara wakaf saham. Wa Allahu A’lam bis Shawab.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here