Pesantren Tempat Melatih Kepekaan Sosial dan Kedisiplinan Santri

1
822

BincangSyariah.Com – Pesantren terkadang diibaratkan sebagai penjara oleh sebagian santri. Para napi di penjara tidak bisa beraktivitas sebebas di luar penjara. Bagitu juga santri, banyak aturan yang mengekang di pesantren. Namun, semua aturan yang terdapat di penjara ataupun pesantren adalah untuk kebaikan penghuninya.

Pesantren juga diibaratkan seperti rumah sakit. Sama-sama mengurusi dan mengobati orang sakit. Bedanya kalau rumah sakit mengobati fisik sedangakan pesantren mengobati psikis. Pasien yang pergi periksa ke dokter, adakalanya sembuh dan juga adakalanya tetap sakit. “Minumlah obat 3 kali sehari”, biasanya saran dokter begitu. “Shalatlah sehari lima waktu dengan berjamaah”, saran kiai. (Tips Menghadapi Santri yang Tidak Betah di Pesantren)

Pasien ketika sudah mengikuti saran dan resep dokter, kebanyakan sembuh. Begitu juga santri, ketika sam’an watho’atan pada kiai, kebanyakan mereka menjadi insan kamil, manusia seutuhnya. Seliar apapun waktu di rumah, bisa sembuh total dengan kesungguhan hati dalam ngaji dan ngabdi.

Jiwa yang sakit bisa disembuhkan melalui pengobatan ala pesantren. Tapi kalau sakit jiwa, perlu ke rumah sakit pemerintah atau swasta. Pemabuk, pecandu narkoba, dan lainnya juga memiliki hak menjadi santri, sembuh dari penyakit fisik dan psikis. Bahkan bisa saja mereka yang dicap “sampah masyarakat” masuk surga pertama dengan sebab taatnya pada kiai di pesantren.

Apapun pengibaratannya, pesantren menjadi tempat belajar terbaik sampai detik ini. “Kesopanan lebih tinggi nilainya daripada kecerdasan” menjadi motto pesantren. Santri mengedepankan sopan santun daripada kecerdasan semata. Menjadi santri yang cerdas dan sopan adalah impian semua santri.

Santri diajarkan untuk hidup disiplin di pesantren. Sejak pagi-pagi hingga beranjak tidur malam, semua tidak terlepas dari yang namanya jadwal dan aturan. Jadwal pesantren menjadikan santri pandai mengatur waktu. Dari jam sekolah, jam makan, ngaji, dan jam tidur sudah diatur rapi.

Baca Juga :  Potret Kebebasan Beragama di Masa Rasulullah

Semua kegiatan tersebut diawasi oleh kiai dan pengurus. Ada sanksi sebagai controling santri dalam berperilaku di pesantren. Punishment yang mendidik dan memberi efek jera. Santri melanggar biasanya ditandai dengan kepala botak.

Santri bukan hanya diajarkan untuk hidup disiplin dalam mengatur waktu, tapi juga menjadi manusia yang peka. Peka terhadap lingkungan sekitar. Lebih-lebih kepekaan sosial.

Saat melihat sampah berserakan, santri tidak perlu diminta untuk membersihkan, mereka akan langsung menyapu bersih. Saat ada temannya yang jatuh sakit, santri tidak perlu diminta untuk merawatnya. Sesama santri merasa seperti satu tubuh. Saat ada anggota tubuh yang sakit, maka seluruh anggota akan ikut merasakannya. Begitu juga santri.

Jiwa sosial para santri, rasanya tidak perlu diragukan lagi. Ketika mereka sudah pulang ke tengah-tengah masyarakat, jiwa sosialnya bisa dipertaruhkan. Teori dan praktek dalam hal sosial sudah matang di pesantren, tinggal pengembangannya saja. Sungguh sangat beruntung bapak atau ibu yang anaknya mondok. Juga, bapak-ibu yang memiliki menantu santri.

Simpulan akhir, pesantren adalah tempat menyemai bibit-bibit positif santri. Tumbuh-kembangnya berlanjut ke tengah-tengah masyarakat. Manisnya ilmu dan berkah pesantren akan dirasakan ketika mereka sudah pulang ke rumah masing-masing. Wallahua’lam.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here