Pesantren: Dulu, Sekarang, dan Akan Datang

0
220

BincangSyariah.Com – Sebagaimana yang dijelaskan pada tulisan sebelumnya, pesantren pada dasarnya bukanlah anak kemaren sore yang tidak mempunyai fungsi dan pengaruh apapun terhadap kehidupan sosial masyarakat nusantara. Banyak fakta untuk membuktikan hal itu, namun di sisi lain pesantren juga bukanlah sebuah institusi yang sempurna dari semua aspeknya.

Sehingga dalam hal ini dibutuhkan sebuah evaluasi yang objektif terhadap pesantren, sehingga aspek positif yang selama ini masih berlaku di pesantren dapat dipertahankan sekaligus menerima dan mereformasi sisi-sisi negatif yang mungkin saja tanpa disadari tersebar dalam lembaga pesantren.

Dalam konteks ini, menurut penulis, pesantren tidak sepantasnya terbuai oleh pujian yang dilontarkan oleh mereka yang pro terhadapnya, seperti apa yang dibahasakan oleh Malik Fajar, menukil pemikiran Dr. Soetomo tentang anjurannya agar asas-asas sistem pendidikan pesantren digunakan sebagai dasar pembangunan pendidikan nasional Indonesia”.

Begitu juga dengan Ki Hajar Dewantara yang pernah mencita-citakan model pesantren sebagai sistem pendidikan Indonesia. Apresiasi yang tinggi dari seorang Ki Hajar dan Soetomo memang positif, tapi perlu diperhatikan bahwa ungkapan itu muncul pada tahun 1930/40-an, jauh sebelum munculnya wacana modernisasi pesantren dari kalangan modernis setengah abad belakangan ini.

Pendapat Cak Nur di atas mungkin terkesan klise atau gagasan yang utopis bagi orang yang sudah terlanjur terbingkai dalam wacana modernisme. Akan tetapi, dengan mempertimbangkan kelebihan yang dimilikinya, bukan tidak mungkin pesantren akan dilirik sebagai alternatif di tengah pengapnya suasana pendidikan formal di Indonesia, termasuk juga perguruan tinggi sebagai jenjang pendidikan formal yang paling tinggi.

Dengan catatan pesantren bisa menginventarisasi segala kritikan yang ada dan mentransformasikannya menjadi sebuah kekuatan untuk selalu eksis di masa yang akan datang. Sehingga tidak ada salahnya pesantren kembali menata ulang segala sistem dan sisi-sisi pesantren yang membuka peluang munculnya kritikan terhadapnya.

Baca Juga :  Makna Khalifah dalam Alquran

Dalam bahasanya Azyumardi, pesantren menghadapi pengalaman dan mencoba eksperimen yang pada dasarnya sama dalam pemerintahan Orde Baru. Bertitik tolak pada pertumbuhan ekonomi pemerintah Orde Baru juga menaruh harapan kepada pesantren untuk menjadi salah satu agen perubahan dan pembangunan masyarakat.

Dengan demikian pesantren tidak hanya memainkan fungsi-fungsi tradisionalnya seperti transmisi dan transfer ilmu-ilmu keislaman, pemeliharaan tradisi Islam, dan rerproduksi ulama. Sesuai  dengan ideologi developmentalisme pemerintah Orde Baru, pembaharuan pesantren dalam masa ini mengarah pada pengembangan pandangan dunia dan substansi pendidikan pesantren agar lebih responsif terhadap kebutuhan zaman.

Pembaruan pesantren juga diarahkan untuk fungsionalisasi atau refungsionalisasi pesantren sebagai salah satu pusat penting bagi pembangunan masyarakat secara keseluruhan. Sehingga diharapkan bisa menjadi alternatif pembangunan yang berpusat pada masyarakat itu sendiri (people-centered development) dan sekaligus sebagai pusat pengembangan pembangunan yang berorientasi pada nilai (value-oriented development).

Selain itu pesantren harus bisa menjadi pusat penyuluhan kesehatan, pusat pengembangan teknologi tepat guna bagi masyarakat pedesaan, pusat usaha-usaha penyelamatan dan pelestarian lingkungan hidup, dan yang lebih penting lagi menjadi pusat pemberdayaan ekonomi masyarakat sekitarnya.

Sebagai respons dari masukan-masukan tersebut, sekarang telah kita saksikan beberapa pembaruan yang dilakukan oleh pesantren. Misalnya saja pembaruan di bidang substansi atau isi pendidikan pesantren dengan memasukkan subyek-subyek umum dan vocational, pembaruan di bidang metodologi seperti sistem klasikal dengan penjenjangan, pembaruan di bidang kelembagaan seperti kepemimpinan pesantren dan diversifikasi lembaga pendidikan, serta yang terakhir pembaruan di bidang fungsi yang semulanya hanya berorientasi terhadap pendidikan, namun sekarang sudah dikembangkan ke bidang-bidang sosial, ekonomi, dan lain-lain.

Namun dalam persoalan yang sama, Abdurrahman Wahid (yang akrab dipanggil dengan Gus Dur) mengingatkan, sebagai lembaga pendidikan yang khas Islam, pesantren tetap harus memberikan dasar-dasar pengembangan karakter, kepribadian, penciptaan sikap hidup, dan penataan basis kehidupan yang tercermin dalam akhlak, cara memimpin, cara-cara pergaulan, dan dalam pengambilan keputusan.

Baca Juga :  Karakter Pesantren

Karena tanpa itu semua, semodern apapun sistem yang dimunculkan ke dalam dunia pesantren, tetap saja akan berakibat melemah atau bahkan lenyapnya nilai-nilai tradisi yang merupakan substansi dari lembaga tersebut. Sehingga pembaruan yang diharapkan berubah menjadi penjajahan terhadap sistem pesantren yang tentunya hal itu tidak kita inginkan semua.

Terakhir, tulisan ini tidak berpretensi untuk mendiskreditkan kalangan manapun, namun lebih dari itu hanya diproyeksikan untuk membaca serta menganalisa sejauh mana pengaruh pesantren dalam kancah Nusantara. Karena sebagai salah seorang alumnus pesantren, penulis mempunyai tanggung jawab terhadap lembaga yang sedikit banyaknya telah membentuk nalar penulis dalam membaca setiap peristiwa kehidupan dengan kecamata Islam dan pesantren. Dua istilah yang tidak mungkin dipisahkan hingga kapanpun.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.