Delapan Pesan Teladan dari Almarhum K.H. Ali Mustafa Yaqub

0
1163

BincangSyariah.Com- Sebagai pengasuh pondok pesantren, seorang kiai atau bunyai tidak hanya akan memberikan ilmu kepada santri-santrinya. Tetapi, beliau juga akan memberikan nasihat atau pesan-pesan teladan sebagai pemantik semangat belajar untuk santri-santrinya.

Pesan-pesan teladan itu tidak hanya satu atau dua kali beliau sampaikan kepada para santri-santrinya, bahkan berkali-kali. Sehingga, pesan-pesan itu dapat menancap dalam sanubari tiap-tiap santri dan berubah menjadi sebuah tekad untuk diamalkan dalam kehidupan nyata.

Ali Mustafa Yaqub adalah salah satu kiai yang selalu memberikan pesan-pesan teladannya kepada para santrinya di pesantren Darus Sunnah International Institute For Hadith Science di Ciputat.

Di antara pesan-pesan teladan beliau adalah sebagai berikut.

Pertama:

كُنْ خَادِمًا لِرَسُوْلِ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ

Kun khadiman li Rasulillahi shallaallhu ‘alaihi wasallama

Jadilah pembantu Rasulullah saw.

Ali Mustafa Ya’qub pernah mengatakan bahwa seandainya beliau hidup di zaman Rasulullah saw., beliau ingin menjadi pembantu Rasulullah saw. Seperti halnya sahabat Anas bin Malik r.a. yang diberi kesempatan untuk melayani Rasulullah saw. selama sepuluh tahun.

Namun, KH. Ali Mustafa Ya’qub sadar, hal itu tidaklah mungkin. Oleh sebab itu, maka cara beliau menjadi pembantu Rasulullah saw. di zaman sekarang adalah dengan mengajarkan hadis-hadis Rasulullah saw., meluruskan kekeliruan pemahaman tentang hadis-hadis, memberantas hadis-hadis palsu yang sudah berkembang di masyarakat, serta menghidupkan sunnah Rasulullah saw. dalam kehidupan sehari-hari.

Ali Mustafa Ya’qub tampaknya tidak ingin menjadi pembantu Rasulullah saw. sendirian. Beliau pun mengajak kepada para santrinya untuk ikut serta menjadi pembantu Rasulullah saw.

Kedua:

اِسْتَقِمْ فِى الدِّرَاسَةِ وَصَلَاةِ الْجَمَاعَةِ

Istaqim fid dirasah wa shalatil jama’ah

Jangan tinggalkan belajar dan shalat jama’ah

Ali Mustafa Ya’qub memang sangat disiplin dalam urusan belajar dan shalat jama’ah. Beliau tidak segan memberi sanksi para santrinya yang bolos atau absent mengaji dengan alasan apapun. Hal ini disebabkan karena bagi beliau belajar adalah wajib yang tidak boleh ditinggalkan atau dikalahkan dengan perkara sunnah. Keistiqamahan dalam belajar tidak hanya beliau nasihatkan, tetapi juga beliau teladankan dalam kesehariaan beliau.

Baca Juga :  Metodologi Kritik Hadis Menurut K.H. Ali Mustafa Yaqub

Selain belajar, beliau juga menasihatkan agar para santri istiqamah shalat berjamaah. Bahkan ketika liburan tiba, beliau berpesan kepada para santri yang hendak bertamasya bersama agar tidak meninggalkan shalat berjamaah selama berlibur. Beliau pun sangat istiqamah dalam berjamaah. Ketika beliau tidak ada jadwal ceramah di luar pesantren, beliau akan menjadi imam shalat lima waktu bagi para santrinya.

Ketiga:

نَحْنُ تَلَامِيْذُ إِلَى يَوْمِ الْقِيَامَةِ

Nahnu Talamidz ilaa yaumil qiyamah

Kita adalah santri sampai hari kiamat

Ali Mustafa Ya’qub pernah mengatakan bahwa seandainya ada jenjang strata setelah S3, maka ia akan menempuhnya. Hal ini disebabkan karena beliau sangat senang belajar dan menuntut ilmu. Sebagaimana petuah Nabi saw. “Carilah ilmu dari buaian ibu hingga liang lahat.”

Beliau pun telah menempuh pendidikan strata satunya di Universitas Islam Imam Muhammad bin Sa’ud, Riyadh, Saudi Arabia di Fakultas Syariah. Strata dua (S2) beliau tempuh di Universitas King Sa’ud Departemen Studi Islam jurusan Tafsir Hadis, dan strata tiga (S3) beliau tempuh di Universitas Nizamia Hyderabad India konsentrasi Hukum Islam. Sebelum itu, beliau juga menempuh pendidikannya di Pesantren Seblak Jombang dan Pondok Pesantren Tebuireng Jombang.

Kegigihan dalam mencari dan memuthalaah ilmu tersebut beliau tularkan kepada para santrinya untuk tidak patah semangat dan tidak cepat puas dalam belajar. Sampai kiamat pun kita tetap sebagai pelajar atau santri.

Keempat:

وَلَاتَمُوْتُنَّ إِلَّا وَأَنْتُمْ كَاتِبُوْنَ

Walaa tamuutunna illaa wa antum kaatibun

Janganlah kalian meninggal dunia sebelum menjadi penulis

Buku-buku karya KH. Ali Mustafa Ya’qub banyak dibaca kaum muslimin di Indonesia dewasa ini, baik yang berkaitan dengan Hadis, Fiqih, maupun dakwah. Tidak kurang dari 38 bukunya telah diterbitkan. Di antaranya adalah Imam Bukhari dan Metodologi Kritik dalam Ilmu Hadis (1991), Kritik Hadis (1995), dan Peran Ilmu Hadis dalam Pembinaan Hukum Islam (1999). Kepoduktifannya dalam dunia tulis menulis dilatar belakangi oleh sebuah filosofi yang menjadi penyemangatnya untuk terus berkarya, yaitu “Walaa tamuutunna illaa wa antum kaatibun.”

Pesan filosofi kepenulisan tersebut juga beliau selalu sampaikan kepada para santrinya, yakni agar tidak meninggal dunia sebelum memiliki karya tulis. Sehingga tidak heran jika para santrinya pun banyak yang mengikuti jejak beliau. Di antaranya adalah Dr. M. Syarif Hidayatullah dan Dr. Nurul Huda Maarif.

Baca Juga :  Ratu Ageng, Perempuan di Balik Sosok Pangeran Diponegoro

Kelima:

الْكَاتِبُ مَسْؤُوْلٌ عَنْ كُلِّ حَرْفٍ كَتَبَهُ

Al-Katib mas’ulun an kulli harfin katabahu

Penulis itu bertanggung jawab atas setiap huruf yang telah ia tulis

Selain memotivasi untuk menulis sebuah karya, KH. Ali Mustafa Ya’qub juga selalu mengingatkan agar para santrinya memiliki tanggung jawab yang kuat atas sebuah karya tulis yang ditorehkannya. Beliau tidak ingin para santrinya “aslis” atau asal tulis tanpa ada maraji’ atau sumber bacaan dan dalil/hujjah atas apa yang ia tulis.

Bahkan beliau tidak akan segan merobek tugas/makalah santri yang tidak ada maraji’/sumbernya yang jelas.

Keenam:

النَّفْعُ فِى الْكِتَابَةِ أَكْثَرُ مِنَ الْكَلَامِ

An-Naf’u fil kitabah aktsar minal kalam

Manfaat tulisan lebih banyak daripada perkataan

Salah satu pemantik semangat KH. Ali Mustafa Ya’qub kepada para santrinya agar rajin menulis adalah tulisan itu lebih banyak manfaatnya daripada perkataan. Menurutnya, tulisan akan menjadi guru lintas generasi, sedangkan kata-kata hanya untuk orang dan waktu yang terbatas.

Ketujuh:

الْمُنَظَّمَةُ مِنْ أَبْوَابِ نَشْرِ الْعِلْمِ بَلْ لَانُفَضِّلُ الْمُنَظَّمَةَ عَلَى الدِّرَاسَةِ

Al-Munadzdzamah min abwabi nasyril ilmi bal la nufadhdhilul munadzdzamah alad dirasah.

Organisasi termasuk media menyebarkan ilmu, tetapi kita tidak boleh memperioritaskannya dari pada belajar.

Bagi beliau, ada trilogi yang harus diraih para santrinya; studi (dirasah), organisasi (munadzdzamah), dan rekreasi (istijmam). Hanya studi tanpa organisasi, seseorang akan terjebak pada kepandaian tanpa jaringan sosial. Akibatnya ia akan terkungkung hidup sendirian tanpa teman. Sementara melibatkan orang lain untuk merombak sesuatu yang kurang di masyarakat, tidak dapat bergerak sendirian. Hal itu bisa dilakukan melalui organisasi. Namun, semata berorganisasi tanpa studi yang cakap juga akan menjadikan seseorang berkekurangan. Kaya jaringan tapi miskin ide dan pikiran.

Rekreasi atau refreshing juga tak kalah penting bagi para santri atau pelajar setelah belajar dan berorganisasi. Ia akan menjadi sarana pengendor otot syaraf dari kesumpekan studi dan organisasi.

Baca Juga :  Kritik Kiai Ali Mustafa Yaqub pada Mereka yang Beri'tikaf tanpa Menjaga Kebersihan

Meskipun demikian, KH. Ali Mustafa Ya’qub memberikan statement yang tegas kepada para santrinya untuk mengedepankan studi. Jangan sampai organisasi mengalahkan studi para santri, apalagi dikalahkan oleh rekreasi. Studi tetap menjadi nomor satu dan prioritas dari trilogi santri.

Hal ini pun telah dicontohkan oleh KH. Ali Mustafa Ya’qub yang juga memiliki segudang aktivitas di luar pesantren semasa hidupnya. Terlebih beliau sempat menjabat sebagai imam Besar masjid istiqlal selama dua periode tidak menyurutkan beliau untuk tetap mengajar para santrinya.

Ali Mustafa Ya’qub sebagaimana dikisahkan dalam buku “Meniti Dakwah di Jalan Sunnah” disebutkan bahwa beliau juga aktif dalam organisasi-organisas mahasiswa Indonesia selama menempuh studi di luar negeri. Namun, beliau juga dikenal sebagai mahasiswa yang lurus, yakni rajin dan sungguh-sungguh. Membaca, menghafal, dan memahami mata kulia menjadi makanan sehari-harinya.

Kedelapan:

الْخَطُّ يَبْقَى زَمَانًا بَعْدَ صَاحِبِهِ # وَكَاتِبُ الْخَطِّ تَحْتَ الْأَرْضِ مَدْفُوْنٌ

Al-Khatthu yabqa zamanan ba’da shahibihi # wa katibul khatti tahtal ardli madfunun.

Sebuah tulisan akan kekal sepanjang masa walaupun penulisnya terkubur di bawah tanah.

Dikisahkan dalam buku “Meniti Dakwah di Jalan Sunnah” disebutkan bahwa beliau menemukan syair tersebut di sebuah ruang manuskrip ketika masih menjadi mahasiswa magister. Syair tersebut sangat membakar semangat KH. Ali Mustafa Ya’qub untuk terus berdakwah lewat tulisan, tidak hanya lewat lisan.

Oleh sebab itu, maka semasa hidup, beliau selalu mendendangkan syair ini kepada para santrinya agar juga termotivasi untuk mengikuti jejak beliau dalam menelurkan karya. Dan umumnya mengikuti jejak ulama-ulama terdahulu yang tetap dikenang dan dikenal sosoknya sepanjang masa karena karya-karyanya yang terus dikaji meskipun mereka telah terkubur beratus tahun lamanya.

Demikianlah di antara pesan-pesan teladan KH. Ali Mustafa Ya’qub kepada para santrinya semasa hidup beliau yang sarat akan makna. Pesan-pesan tersebut juga dapat dipetik dan dijadikan motivasi oleh semua orang pada umumnya. Wa Allahu a’lam bis shawab.

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here