Pesan K.H. Makhtum Hannan Soal Menuntut Ilmu

0
1290

BincangSyariah.Com – Mama, begitu biasanya para santri memanggil almarhum K.H. Makhtum Hannan. Ulama yang pernah menjadi Tim AHWA saat muktamar NU beberapa tahun lalu ini, merupakan sosok ulama yang sangat tawaduk. Saat kami para santri sempat sowan beberapa kali ke Mama Makhtum, beliau selalu meminta didoakan.

“Donggakke kita ya supaya sehat lan panjang umur. Tapi mbokat kita langka umur tulung jalukna pangapura kanggo kita ning Gusti Allah (Doakan saya ya supaya selalu sehat dan panjang umur. Tapi barangkali saya tidak ada umur, tolong mintakan ampun buat saya pada Gusti Allah.”

Kemudian saya menimpali permintaan Mama itu,  “Insya Allah pasti didoake, Ma. Mama sih tiang sae katah kang donggake, Ma. Mama niku sekedik salah, tapi katah pahala (Insya Allah pasti kami doakan, Ma. Mama sih orang baik, pasti banyak yang mendoakan. Mama hanya sedikit melakukan kesalahan, lebih banyak pahalanya).”

Kemudian Mama Makhtum menimpali saya, “Ya beli, kita lautan dosa, fakir, wong kotor (Tidak, saya itu orang yang penuh dengan dosa. Dosa saya seluas lautan, saya orang yang sangat butuh pengampunan Allah, saya orang kotor.” Itulah kurang lebih pengakuan Mama yang selalu merasa butuh pada Allah Swt.

Selama saya nyantri di Pondok Pesantren Masyariqul Anwar (PPMA) Babakan Ciwaringin Cirebon, ada beberapa dawuh Mama Makhtum yang masih saya ingat betul. Dawuh-dawuh ini berkaitan dengan penuntut ilmu. Tentu yang dimaksud penuntu ilmu di sini bukan hanya mereka yang masih menjadi santri atau masih nyantri di pondok, tapi bagi kita semua umat Islam sampai akhir umur nanti.

Bukankah Nabi Muhammad Saw. pernah bersabda, “Carilah ilmu dari mulai buaian sampai liang lahat.” Artinya menuntut ilmu itu tidak dibatasi usia, waktu, dan tempat. Nah, untuk itu, beberapa dawuh beliau berkaitan dengan menuntut ilmu ini masih sangat relevan hingga kapan pun.

Ilmu untuk Amal Bukan untuk Menangkan Diri Sendiri

Zaman sekarang banyak kita temui orang pintar yang dengan keilmuannya saling menyalahkan, menghujat satu sama lainnya. Mereka tidak menitikberatkan pada manfaat ke semua kalangan tapi lebih pada mempertahankan pendapat pribadinya. Hal ini karena keilmuannya tersebut bukan digunakan untuk mencari tahu akar persoalan yang sedang dihadapi masyarakat, namun hanya untuk membenarkan dirinya sendiri dan kelompoknya semata.

Hal ini hampir menjangkit ke seluruh elemen masyarakat yang berilmu, dari mulai para politisi hingga orang yang menyebut dirinya ulama. Padahal tugas orang berilmu itu mencarikan solusi atas sebuah masalah, bukan memperkeruh apalagi memprovokasi masyarakat.

Baca Juga :  Saat Isra Mi'raj Nabi Lewati Sidratul Muntaha, Apa itu Sidratul Muntaha?

Dalam hal ini, Mama Makhtum pernah dawuh begini, “Ilmue duwur iku kudu luih teliti deleng oyote lan ranting cabange (Bagi orang yang berpengetahuan tinggi, itu harus lebih teliti melihat akar permasalahan setiap persoalan, tidak serampangan dan penuh pemaksaan kehendak sepihak).”

Jadi, hakikat orang yang berilmu tinggi itu mereka yang bisa melihat fenomena yang terjadi di masyarakat sekitar, persoalan bangsa, dengan adil dan bijak, apalagi mereka yang menyebut dirinya ulama. Oleh karena itu, dengan ketelitian tersebut, mereka diharapkan tidak asal saja memberikan sebuah dalil dan argumen hanya untuk ‘kepentingan’ tertentu.

Lebih lanjut, Mama Makhtum juga pernah dawuh, Aja pernah dadiaken ilmu kanggo hujjah menangaken awak dewek (Jangan pernah Anda jadikan ilmu sebagai alat untuk memenangkan atau membenarkan diri sendiri).” Menurut Mama, dawuh ini juga pernah disampaikan ayahanda beliau, Mama K.H. Abdul Hannan.

Mama Makhtum menyampaikan bahwa sejatinya ilmu merupakan anugerah Allah dan cahaya yang menunjukan pada peningkatan kebajikan dan ketakwaan manusia. Namun pada kenyataannya, banyak orang di masa sekarang justru menjadikan ilmu hanya sebagai teori dan retorika belaka.

Kita dengan semangat mendalami ilmu tapi dengan itu pula kita lupa bahwa ilmu itu bukan cuma teori tapi juga amal. Parahnya lagi kita yang mengaku berilmu seringkali menggunakan keilmuan kita untuk membenarkan diri kita sendiri tanpa mau menerima kebenaran dari orang lain. Tidak jarang kita menggunakan ilmu yang kita miliki untuk pembelaan diri, pembenaran, dan perdebatan yang tidak bermanfaat.

Terlebih lagi, ilmu itu terkadang dijadikan alat untuk saling menyalahkan satu sama lainnya hanya karena perbedaan pendapat dan untuk menghasilkan pendapatan alias uang. Kemudian beliau melanjutkan, hanya orang yang ikhlas karena Allah (qalbun salim) yang bisa menggunakan ilmu, mengamalkan ilmu dengan semestinya.

Hal ini karena ikhlas adalah satu-satunya syarat mutlak untuk memperoleh kemanfaatan ilmu sebagaimana termaktub dalam kitab silsilatul haramain, buku wiridan yang biasa dibaca saat acara istigasah di Pesantren Babakan, “….. yauma lã yanfa’u mãlun walã banûn illa man ata allah bi qalbin salim ….” Dan, saya haqqul yaqin, beliau itu hamba Allah yang ikhlas zahir dan batin dalam sehari-harinya.

Selain itu, sewaktu saya sowan ke Mama Makhtum ingin melanjutkan kuliah di Cordova, Spanyol. Kebetulan waktu itu saya dapat tawaran beasiswa ke negeri Eropa itu. Beliau pernah dawuh kurang lebih begini, “Baka luruh ilmu, goleti tempat sing gampang nganggo shalat (kalau mencari ilmu, carilah ilmu di tempat yang mudah untuk melaksanakan shalat).”

Merujuk pada fenomena semakin gencaranya semangat menuntut ilmu di negeri Barat (Eropa), Mama minta kalau belajar itu jangan di tempat yang menyusahkan kita untuk beribadah, sebab umumnya negara Eropa bukan negara muslim yang menyediakan tempat umum untuk shalat. Hal ini tentu berbeda dengan negara-negara yang ditempati mayoritas muslim.

Baca Juga :  Kiai Sholihin Cirebon, Santri Mbah Hasyim yang Bunuh Jenderal Mallaby dengan Dua Jari

Namun demikian, saya tidak memahami itu secara tekstual. Saya justru lebih menangkap spirit dawuh Mama itu, artinya semakin orang berilmu tinggi jangan sampai lupa mendekatkan diri kepada Allah. Banyak yang mencari ilmu, berilmu tinggi tapi ibadahnya malah semakin carut marut, bahkan tidak takut pada Gusti Allah. Semakin banyak yang berilmu tinggi, makin banyak juga koruptor yang merajalela.

Carilah Ilmu untuk Kepentingan Masyarakat Luas  

Sebagian kita mungkin sering membaca dan mendengar sabda nabi, “Sebaik-baik manusia itu mereka yang bermanfaat untu sesama.” dalam memahami hadis ini, mama makhtum pernah menjelaskan demikian, “Khairun nas anfa’uhum linnas, dalane anfa’u iku akeh ora kudu dadi kyai bae (sebaik-baiknya manusia adalah mereka yang bermanfaat untuk sesama manusia lainnya dan jalan untuk bermanfaat itu banyak, tidak melulu harus jadi kyai).

Maqalah ini beliau kemukakan saat banyaknya manusia yang berebut ingin diakui oleh khalyak banyak. Mereka kebanyakan menganggap dirinya harus menjadi tokoh tertentu untuk dianggap memiliki eksistensi di tengah-tengah masyarakat. Padahal esensi paling utama bermanfaat untuk sesama adalah ketika kita mampu berbuat penuh kebaikan untuk yang lainnya tanpa harus merugikan diri sendiri terlebih orang lain.

Menjadi orang yang bermanfaat itu tidak melulu harus jadi kyai, jadi intelektual yang jujur dan amanah, dokter yang peduli pada rakyat jelata, pejabat yang tidak korup, dosen atau guru yang berakhlak dan mendidik, pengusaha yang tidak memonopoli kekayaannya juga termasuk dalam hadis di atas.

Pada intinya, kemanfaatan ilmu itu berkaitan erat dengan kebutuhan masyarakat setempat di mana kita tinggal. Kita mencari ilmu yang banyak dalam berbagai bidang, tapi lebih utamakanlah dulu ilmu-ilmu yang sangat dibutuhkan masyarakat setempat. Kalau kita ditakdirkan menjadi kyai kampung misalnya, ya pelajari dulu misalnya kitab Safinah, Sullamut Taufiq, dan Taqrib, yang menurut Mama adalah modal utama kyai kampung.  

Selain itu, masyarakat pada umumnya butuh pemahaman mengenai tata cara beribadah, bermuamalah, sopan santun dan kearifan lokal. Pada intinya maqalah beliau ini menekankan pada larangan mencari ilmu yang tidak bisa kita amalkan, meskipun berilmu sedikit tapi harus diamalkan.

Baca Juga :  Ijma' : Sumber Hukum Islam setelah Al-Quran dan Sunnah

Sementara itu, masyarakat luas yang dimaksud adalah mereka yang dalam Alquran disebut dengan mustahd’afin, orang-orang yang tidak mampu secara ekonomi. Dalam hal ini, Mama pernah dawuh begini, “Aja mikiraken awak dewek bae, pikiraken kanggo kepentingane umat, fakir miskin, janda, wong tua, anak yatim. baka mikiraken kepentingane wong sejen maka kepentingane kita pasti dipikiraken Gusti allah (Jangan hanya memikirkan diri sendiri saja, pikirkan juga kebutuhan umat, fakir miskin, janda, orang tua, anak yatim. Kalau kita memikirkan kebutuhan orang lain maka kebutuhan kita pasti akan dipikirkan oleh Allah Swt).”

Orang-orang dekat beliau pasti sepakat bahwa beliau adalah orang yang sangat memikirkan kebutuhan orang lain. Hal ini mulai dari penyediaan fasilitas pendidikan, fasilitas riyadhah, ekonomi masyarakat mustahd’afin, dan lain sebagainya. Beliau itu sosok yang tidak hanya mengajak untuk berbagi, tapi beliau praktik secara langsung (tidak hanya bisa ndalil saja). Kemuliaan dan kesuksesan beliau duniawi wa ukhrawi yang menakjubkan itu tidak didapatkan dengan mudah. Hal ini beliau dapatkan setelah kurang lebih selama 50 tahun menjalankan riyadhah untuk memperoleh keagungan rahasia zikir.

Secara materi, beliau ini mandiri secara ekonomi. Beliau memiliki lahan pertanian, toko dan bisnis lainnya. Beliau sering bilang kepada santri yang sowan bahwa beliau hingga menjelang akhir hidupnya pun masih berdagang, bertani untuk memenuhi sedikit keperluannya. Namun yang paling beliau perhatikan adalah bisa berbagi materi kepada mereka yang membutuhkan. Pada tataran ini beliau memberikan pesan kepada semuanya jangan malas untuk bekerja yang hasilnya jangan dinikmati sendiri tapi juga untuk orang lain yang membutuhkan.

Keteguhan hati beliau bahwa Allah akan memikirkan segala keperluan kita apabila memikirkan keperluan dan kepentingan orang lain sudah terbukti. Apalagi Alquran juga menegaskan hal itu. Allah berfirman, “Hai orang-orang yang beriman, jika kamu menolong (agama) Allah, niscaya Dia akan menolongmu dan meneguhkan kedu­dukanmu.” (Q.s. Muhammad: 7). Menyantuni orang-orang yang tidak mampu secara ekonomi juga termasuk bagian dari menolong agama Allah. Karena itu, bagi beliau, segala hal di dunia ini merupakan bekal untuk di akhirat kelak. Kami yakin, inysa Allah ‘sangu’ beliau sudah sangat cukup di alam kubur saat ini. Lahul fatihah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here