Pesan Abu Musa al-Asy’ari pada Keturunannya Soal Kepedulian terhadap Sesama

1
11

BincangSyariah.Com – Abu Musa al-Asy’ari memiliki nama lengkap ‘Abdullah bin Qais bin Sulaim al-Asy’ari. Beliau merupakan salah seorang sahabat Rasulullah yang berasal dari negeri Yaman. Beliau memeluk agama yang dibawa oleh Rasulullah saw sebelum terjadinya peristiwa Hijrah.

Abu Musa al-Asy’ari wafat pada tahun 50 H di Makkah atau ada yang mengatakan setelah tahun 50 H. Menjelang tanda-tanda kematiannya, Abu Musa Al-Asy’ari menceritakan sebuah kisah kepada anak-anaknya. Sebagaimana yang diriwayatkan dari Abu Burdah, bahwasannya ia berkata; ketika Abu Musa al-Asy’ari kedatangan tanda-tanda kematiannya, dia berkata; Wahai anak-anakku, ingatlah oleh kalian cerita tentang seorang pemilik roti.

Dia (Abu Musa Al-Asy’ari) melanjutkan, “Dahulu ada seorang laki-laki yang beribadah di sebuah tempat ibadah selama tujuh puluh tahun. Dia tidak turun dari tempat ibadah tersebut kecuali dalam satu hari. Kemudian setan menjelma dihadapannya dalam wujud seorang perempuan, dan laki laki itu bersamanya selama tujuh hari atau tujuh malam.

Kemudian setelah itu terbongkarlah samaran setan tersebut, sehingga laki-laki itu keluar dari rumah ibadahnya dalam keadaan bertaubat. Setiap ia melangkah satu langkah maka dia shalat dan sujud. Dalam perjalanannya itu, gelapnya malam membawanya ke sebuah pondokan yang di dalamnya terdapat dua belas orang miskin.

Laki-laki itu kelelahan sehingga ia terkapar di hadapan dua orang dari mereka. Di sana juga ada seorang pendeta yang diutus kepada mereka untuk membawa beberapa potong roti yang akan diberikan kepada setiap orang satu potong roti.

Saat pendeta itu melewati laki laki tadi, ia mengiranya sebagai seorang miskin sehingga ia memberinya sepotong roti. Lalu berkatalah orang yang tidak mendapatkan bagian roti Mengapa engkau tidak memberikan rotiku? Apakah engkau membutuhkannya?” Pemilik roti tadi berkata, “Apakah engkau melihatku menahannya? Tanyakan apakah ada orang yang Aku beri dua roti?  Mereka menjawab, “tidak.”

Pemilik roti berkata, “Engkau melihat aku menahannya darimu? Demi Allah, aku tidak memberimu apa- apa pada malam ini.” Kemudian laki-laki yang bertaubat tadi mengambil roti yang diberikan kepadanya, lalu memberikannya kepada orang yang tidak mendapatkan bagian roti tersebut. Sehingga pada besok paginya laki-laki yang bertaubat itu mati.

Abu Musa al-Asy’ari melanjutkan “Kemudian ditimbanglah amalan tujuh puluh tahun laki-laki itu dengan amalan tujuh harinya (yang berduaan dengan setan yang menjelma menjadi perempuan), dan ternyata amalan tujuh harinya lebih berat timbangannya. Kemudian amalan tujuh hari tersebut ditimbang dengan amalan sepotong rotinya, dan ternyata amalan sepotong rotinya lebih berat dari amalan tujuh harinya.

Abu Musa Al-Asy’ari menekankan lagi kepada anak-anaknya “Ingat-ingatlah oleh kalian kisah seorang pemilik roti tersebut.”

Dari kisah tersebut dapat kita pahami bahwa amal ibadah sosial lebih utama dari amal individual walaupun ibadah sosial tersebut kelihatannya hanya sedikit dilakukan, tetapi timbangannya lebih berat dari pada amal individual yang dilakukan selama puluhan tahun lamanya. Kisah tersebut dapat ditemui dalam kitab Hilyatul Auliya’ karangan Abu Nu’aim Al Ashfahani. Wallahu Ta’ala A’lam

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here