Islam di Andalusia: Kisah Dinasti Granada Meminta Bantuan Kerajaan Kristen

0
100

BincangSyariah.Com – Setelah Badis bin Habus wafat pada 1073 M, kepemimpinannya digantikan oleh cucunya, Abdullah bin Bulaqqin. Tetapi krena usianya masih dini, secara de facto pemerintahan dijalankan oleh menterinya. Namun peringainya buruk, ia sangat otoriter dan ambisius. Melihat kerentanan dinasti Bani Zairi ini, Dinasi Bani Abbad menjadikan ini sebagian kesempatan. Pada tahun 1074 M, Al-Mu’tamid mengerahkan tentaranya untuk menyerang kota Jein dan merebutnya salah satu kosa di bawah kekuasaan Granada.

Granada Menjadi Koloni Kerajaan Kristen

Perebutan kota Jein menjadi pukulan berat bagi Abdullah bin Bulaqqin. Sebab keberadaan kota ini begitu krusial dalam tata pemerintahan Dinasti Bani Zairi. Ia pun mulai membangun benteng pertahanan untuk di wilayah Granada akibat dari pengalaman pahitnya itu. Ia mulai berpikir takkan mampu melawan pasukan milik Dinasti Bani Abbad. Karena itu, Dinasti Granada meminta bantuan kerajaan Kristen, yaitu kepada Alfonso VI, pimpinan Kerajaan Castellia agar turut membantu untuk melakukan penyerangan ke Dinasti Bani Abbad. Alfonso menerima permohonan tersebut dengan syarat, Dinasti Bani Zairi wajib membayar pajak kepada mereka sebesar 20 ribu dinar setiap tahun. Mereka pun sepakat.

Lantas tentara dari pasukan Kerajaan Kristen milik Alfonso dan Dinasti Bani Zairi melakukan pemberontakan ke wilayah Sevilla serta mampu merebut kembali kota Jeis. Kerajaan Islam milik Bani Abbad pun akhirnya menjadi tawanan dan di bawah kendali Kerajaan Kristen Castellia sehingga diwajibkan untuk membayar pajak.

Penguasa Granada Menolak Membayar Upeti

Pada 1075 M, Alfonso VI bersama salah satu menterinya mendatangi Sevilla dan Granada untuk menagih pajak. Tetapi Abdullah bin Bulaqqin tidak mau membayar dan tidak peduli akan risiko yang dihadapi jika melawan Alfonso. Apa yang ibn Bulaqqin lakukan tersebut justru menjadi bumerang lagi baginya. al-Mu’tamid, selaku penguasa Sevilla memanfaatkan situasi ini. Akibat tidak mau membayar pajak, akhirnya Dinasti Bani Abbad bersama pasukan Kristen berkoalisi melawan pasukan muslim di Granada untuk membalas dendam karena.

Baca Juga :  Mengenal al-Khawarizmi: Membawa Konsep Angka 0 ke Dunia Islam

Abdullah bin Bulaqqin lalu pergi seorang diri menemui Alfonso dan menyerahkan upeti brupa 10 ribu mitsqol (satuan berat zaman mereka) emas  dan menyerahkan wilayah kota Jein untuk membujuk agar tak lagi melakukan penyerang terhadap kerajaannya di Granada. Kmudian berhenti sampai Alfonso menjual kota Jein kepada dinasti Bani Abbad.

10 tahun telah berlalu, pertikaian mulai mereda (1084 M). Tamim bin Bulaqqin, saudara kandung Abdullah, melepaskan diri dari kekuasaan Granada. Abdullah merasa khawatir saudaranya akan berpihak ke Bani Abbad. Untuk mencegahnya, ia memberikan wilayah Malaga dan daerah sekitar di sebelah barat.

Di waktu yang sama Kabab bin Tamam, penguasa Arshendo dan Antaquera hendak melakukan penyerangan terhadap kota Granada. Tetapi sebelum itu, Abdullah bin Bulaqqin mendatanginya dan menyerahkan kekuasaannya. Terjadilah perdamaian antara Sevilla dan Granada (akhir 1084 M).  Pada titik ini, Abdullah bin Bulaqqin akhirnya menyerah dari pertikaian yang bertubi-tubi terjadi yang lahir dari sikap rasis, yaitu suku Barbar dan Arab.

*diolah dari buku Qisshoh al-Andalus min al-Fathi ila as-Shuquti karya dr. Raghib as-Sirjani

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here