Pertemuan Rasyid Ridha dan Muhammad Abduh

0
9

BincangSyariah.Com – Semasa hidupnya, Sayyid Muhammad Rasyid Ridha selalu mengamati masalah-masalah yang ada di kawasan negara Mesir. Masalah utama yang ia cermati adalah tentang agama kemasyarakatan.

Sumber utama pengamatan tersebut adalah surat kabar dan majalah. Ia tertarik dan terkesan pada majalah al-Urwah al-Wusqa yang pada masa itu dipimpin oleh Jamaluddin al-Afgani dan seorang muridnya yang bernama Syaikh Muhammad Abduh. (Baca: Rasyid Ridha: Tokoh Pembaharu Islam dari Lebanon)

Harun Nasution mencatat dalam Pembaharuan dalam Islam: Sejarah Pemikiran dan Gerakan (2003) bahwa tulisan-tulisan kedua tokoh pembaharu tersebut memberikan pengaruh besar kepada Rasyid dan mengubahnya dari pemuda sufi menjadi pemuda yang penuh dengan semangat pembaharuan dalam pemikiran.

Pertemuannya dengan dua tokoh Islam tersebut sangat didambakan dan dirindukannya. Ia menyesal lantaran tak bisa bertemu dengan Jamaluddin al-Afgani karena telah meninggal dunia terlebih dahulu. Ia pun berusaha untuk menemui murid al-Afgani yakni Muhammad Abduh dan langsung berangkat ke Mesir pada 1879 M.

Majalah tersebut mengubah pemikiran Rasyid dan membuatnya berusaha untuk membangkitkan kembali semangat kaum Muslim untuk melaksanakan ajaran agama dengan utuh dan membela negara menggunakan ilmu pengetahuan dan industri.

Pada Rajab 1315 H atau 1898 M, Rasyid berhasil menemui Syaikh Muhammad Abduh. Abduh adalah seorang pejuang dan keilmuan Islam yang sangat ia harapkan ilmu dan nasihat-nasihatnya untuk dijadikan sebagai panutan.

Usai pertemuan tersebutm usul dan saran pertama yang ditujukan Rasyid pada Abduh adalah menulis tafsir Al-Qur’an menggunakan metode dalam bentuk penulisan yang di majalah al-Urwah al-Wustqa.

Usai dua ulama besar tersebut melakukan dialog, Abduh akhirnya bersedia untuk memberikan kuliah tafsir di Jami’ al-Azhar pada murid-muridnya. Pada gilirannya, Rasyid adalah orang yang paling tekun mengikuti pelajaran. Ia tak pernah libur dari seluruh kegiatan yang dilaksanakan oleh Jami’al-Azhar.

Baca Juga :  Malaikat Doakan Orang yang Gemar Bersedekah dan Orang Pelit

Saat mengikuti kajian tersebut, Rasyid menuliskan semua yang ia dengar dalam rangkaian kajian dan beberapa tambahan keterangan untuk masalah yang menurutnya masih perlu dijelaskan lebih lanjut. Saat menuliskan usulan-usulan tersebut, Rasyid selalu melakukan konsultasi dengan gurunya. Hal tersebut membuat semua tulisannya dikoreksi dan melewati pembenaran seperlunya.

Maka dari itu, Rasyid pantas disebut sebagai pewaris pertama yang menerima ilmu Syaikh Muhammad Abduh. Ia adalah orang yang paling banyak menerima dan menulis pelajaran dari sang guru. Hal tersebut dilakukannya saat Abduh masih hidup dan setelah Abduh meninggal dunia.

Dalam menulis, ia tidak pernah menyimpang dari metode yang ditempuh oleh sang guru. Ia juga tidak menyimpang dari jalan pikirannya. Karena konsistensi itulah Muhammad Abduh berkata: “Pemilik al-Manar adalah penerjemah pikiran saya.”

Salah seorang dari murid Sayyid Muhammad Rasyid Ridha pun berkata: “Imam Muhammad Abduh pernah mengomentari sifat Sayyid Muhammad Rasyid Ridha bahwa dia telah menyatu dengan Muhammad Abduh dalam akidah, pikiran, pendapat, akhlak dan amalnya.”

Setelah Muhammad Abduh wafat, Rasyid memutuskan untuk kembali ke Damaskus pada 1908 M. Sayangnya, tak lama setelah kepindahannya tersebut, ia meninggalkan kota Damaskus dan kembali lagi ke Mesir. Saat itulah ia mendirikan Madrasah al-Da’wah wa al-Irsyad.

Ia kemudian melanjutkan ke Suriah dan berhasil terpilih menjadi ketua Muktamar Suriyah. Pada 1920 M, ia memutuskan untuk kembali lagi ke Mesir dan berkunjung ke India, Hijaz dan Eropa.

Akhirnya, Rasyid Ridha pun memutuskan untuk menetap di Mesir sembari meneruskan perjuangan dan mengembangkan pemikirannya di Kairo. Pada 1935 M, ia wafat dan dimakamkan di Kairo.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here