Pertemuan Ibnu Arabi dengan Ibnu Rusyd

0
23

BincangSyariah.Com – Selama menetap di Sevilla, Ibnu Arabi muda sering melakukan perjalanan ke berbagai tempat hingga ke Afrika Utara. Kesempatan itu dimanfaatkannya untuk mengunjungi para sufi dan sarjana terkemuka. Salah satu kunjungannya yang sangat mengesankan adalah pertemuan Ibnu Arabi dengan Ibnu Rusyd (w. 595 H) di Cordoba. Ibnu Arabi dikirim oleh ayahnya untuk bertemu dengan filosof besar tersebut yang juga berasal dari keluarga yang sangat terpandang di Kordova.

Muhammad al-Fayyadl dalam Teologi Negatif Ibnu ‘Arabi: Kritik Metafisika Ketuhanan menyebutkan bahwa di antara yang terpenting adalah pertemuannya dengan Ibnu Rusyd pada usia ketika belum genap 20 tahun. Ibnu ‘Arabi menceritakan,

“Pada suatu hari aku bertandang ke Cordoba untuk mengunjungi qadli, Abu al-Walid Ibnu Rusyd. Ia ingin bertemu denganku sejak ia mendengar pencerahan yang dianugerahkan Allah kepadaku selama masa penyendirianku. Ia mengungkapkan rasa kagum ketika memperhatikan apa yang dikatakan orang-orang perihal diriku. Ayahku adalah salah seorang sahabatnya. Karena itu, beliau mengutusku kepada untuk berpura-pura melakukan kesalahan atau semacamnya, meskipun tujuan sesungguhnya agar ia dapat bercakap-cakap bersamaku. Waktu itu aku masih muda, tak sehelai pun bulu halus di wajahku.”

Melihat reputasi filsuf seperti Ibnu Rusyd, menarik melihat apa yang terjadi pada pertemuan itu, Ibnu Arabi menceritakan:

“Ketika aku masuk, sang filsuf bangkit dari kursinya dan datang menghampiriku dengan sangat bersahabat dan santun, lalu memelukku.

Kemudian ia berkata: “Ya”.

Aku pun menjawab, “Ya”.

Setelah itu rasa senangnya bertambah ketika ia menyadari bahwa aku memahaminya. Tapi ketika lantas kusadari sesuatu yang menarik rasa senangnya, aku menambahkan “Tidak”.

Tiba-tiba Ibnu Rusyd menjadi agak gusar. Rona wajahnya memerah dan kelihatannya ia meragukan pikirannya sendiri. Ia mengajukan pertanyaan ini kepadaku: “Jawaban apa yang sama kamu peroleh melalui pencerahan (kashf) dan ilham Tuhan? Apakah sama seperti yang kami ketahui dari pemikiran spekultaif?”

Kujawab: “Ya dan tidak”. Antara ya dan tidak, jiwa meninggalkan jasadnya dan leher terpisah dari badan”. Ibnu Rusyd seketika pucat. Kulihat ia mulai gemetar. Ia mengucapkan bacaan suci tak ada kekuatan kecuali milik Allah karena ia memahami apa yang kukatakan.”

Percakapan Ibnu Arabi dengan Ibnu Rusyd ini membuktikan kecemerlangan yang luar biasa dalam wawasan spiritual dan intelektual. Percakapan tersebut menjelaskan perbedaan dan pertentangan asasi antara jalan akal logis dan jalan imajinasi gnostik. Fakta bahwa sufi muda (Ibnu Arabi) ini mengalahkan filosof peripatetik (Ibnu Rusyd) itu dalam tukar pikiran tersebut dengan tepat menunjukkan titik hubung pemikiran filosofis dan pengalaman mistik Ibnu Arabi yang memperlihatkan bagaimana mistisisme dan filsafat bisa berhubungan satu sama lain dalam pemikiran metafisikanya. Pengalaman-pengalaman visioner mistiknya berhubungan erat dan disokong oleh pemikiran filosofisnya yang ketat. Ibnu Arabi adalah seorang mistikus sekaligus seorang guru filsafat peripatetik, sehingga ia bisa memfilsafatkan pengalaman spiritual batinnya secara tepat ke dalam suatu pandangan dunia metafisis yang sangat kompleks.

Setelah pertemuannya dengan Ibnu Rusyd dan mengalami pencerahan spiritual, pada tahun 580 H (1184 M), Ibnu Arabi mengundurkan diri dari ketentaraan dan segala urusan duniawi yang dimilikinya.

Peristiwa terakhir yang memberinya keputusan bulat adalah saat ia dan panglima al-Muwahhidin bersama-sama shalat di Masjid Agung Cordoba. Ibnu Arabi menyebutkan:

“Aku pergi bersama tuanku, Panglima al-Muwahhidun Abu Bakr Yusuf bin Abd al-Mu’min bin ‘Ali, menuju ke Masjid Agung Kordova dan aku melihat dia bersimpuh, sujud dengan rendah hati memohon kepada Allah. Kemudian pikiran melintas menerpaku, sehingga aku berkata pada diriku sendiri, “jika penguasa negeri ini begitu pasrah dan sederhana di hadapan Allah, maka dunia ini tidak ada artinya.” Lalu aku meninggallkannya pada hari itu juga dan tidak pernah melihatnya lagi. Sejak itu aku mengikuti jalan ini.”

Sejak saat itu Ibnu Arabi mengabdikan diri pada kehidupan dan penghambaan penuh terhadap Allah sesuai dengan ajaran yang diberikan oleh Isa al-Masih AS, Musa AS dan Muhammad SAW. Ia memutuskan untuk mengambil jalan zuhud dengan meninggalkan seluruh kekayaan duniawinya.

Itu menjadi titik perubahan penting dalam perjalanan hidup Ibnu Arabi dengan memilih jalan kecukupan dan tak akan pernah berpaling lagi darinya. Sejak saat itu hingga akhir hayatnya salah satu sumber penghidupannya adalah pemberian dan sedekah yang diterimanya dari para sahabat di jalan spiritual dan dari sebagian kerabatnya semasih tinggal di Timur. Baginya hal itu merupakan wujud pengabdian murni yang mengharuskan seorang wali meninggalkan semua hak dan harta yang akan membuatnya tetap ingat akan rububiyyah, ketuhanan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here