Abdullah bin Abi Sarah: Pemalsu Wahyu Hingga Mampu Islamkan Tunisia

0
1087

BincangSyariah.Com – Nama Abdullah bin Sa’ad bin Abi Sarah nampaknya cukup familiar di kalangan umat Islam. Tidak hanya dikenal sebab memiliki karir cemerlang di bidang penaklukan. Sebelumnya, yakni di masa awal Islam reputasinya sebagai penulis wahyu pernah tercoreng sebab terbukti mempermainkan ayat – ayat Al Qur’an.

Abdullah bin Abi Sarah kerap dipanggil Abu Yahya, tumbuh dan berkembang di Mekah. Kakeknya, Abi Sarah merupakan pemuka kaum munafik yang getol memusuhi dakwah Islam. Sementara ibunya, Mahabah binti Jabir Al ‘Asy ‘ari adalah perempuan yang menyusui Ustman bin Affan. Jadi Abdullah bin Abi Sarah tidak lain adalah saudara sepersusuan Ustman.

Abdullah memeluk Islam sebelum fathu Makkah. Ia ikut dalam rombongan hijrah menuju Madinah dan Rasul sempat menugasinya sebagai penulis wahyu. Sangat disayangkan, hatinya terbujuk oleh rayuan setan. Sehingga ia nekat memanipulasi ayat Al Qur’an. Karena ketahuan, ia kabur menuju Mekah sambil menunjukan betapa hebat dirinya. Kesuksesannya  merubah ayat Al Qur’an sengaja diviralkan agar namanya melambung tinggi di kalangan masyarakat Quraisy.

Awalnya kasus penipuan Abdullah terbongkar pasca diturunkannya surah Al–An’am ayat 93. Dan siapakah yang lebih zalim dari pada orang yang membuat kedustaan terhadap Allah atau yang berkata: Telah diwahyukan kepada saya, padahal tidak ada diwahyukan sesuatupun kepadanya, dan orang yang berkata: Saya akan menurunkan seperti apa yang diturunkan Alloh”.

At-Thabari mencatat terdapat perbedaan pendapat di kalangan ahli takwil mengenai siapa yang dijelaskan dalam ayat tersebut. Ada yang berpendapat bahwa ayat di atas ditujukan atas perilaku Musailamah al-Kadzzab. Sedangkan sebagian lainnya berpendapat ayat ini ditujukan atas perbuatan Abdullah bin Abi Sarah yang telah berkhianat dan cenderung mengubah–ubah ayat Al-Qur’an.

Baca Juga :  Umamah binti Abu Al-Ash: Cucu Perempuan Kesayangan Rasulullah

Sebagaimana ketika didiktekan “Azizun Hakim” Abdullah bin Abi Sarah malah menulisnya “Ghafurur Rahim”. Ketika dibacakan “Sami’an ‘Aliman” ia menulisnya “Aliman Hakiman”, sebaliknya ketika dibacakan “Aliman Hakiman” ia sengaja menulisnya “Sami’an ‘Aliman”. Kemudian ia berdusta pada kaum Quraisy dengan mengaku telah menerima wahyu layaknya Nabi Muhammad Saw.

Ia bertaubat dan meminta bantuan saudaranya Utsman bin Affan untuk membujuk kaum Muslimin agar mau memaafkannya. Kemudian Ustman mengabarkan berita pertaubatan ini kepada Rasullullah. Rasul sempat berdiam cukup lama, tidak mengeluarkan satu huruf pun. Sampai akhirnya beliau memaafkannya.

Untuk menjadi Muslim yang taat pasca pertaubatannya, ia mendedikasikan dirinya dalam jajaran tentara Muslim. Ini sesuai dengan kemampuan militer yang sudah mendarah daging dalam tubuhnya. Konsistensinya dalam berjihad ia tunjukan dari masa ke masa. Misalnya, di era Abu Bakar ia turut serta dalam pemberantasan kaum riddah yang membangkang pemerintah yang sah dan ikut bertempur bersama Amr bin Ash dalam upaya penaklukan Palestina.

Di periode Umar, ia ikut dalam ekspedisi Mesir. Berkat kepiawaiannya dalam bidang militer, ia dipercaya Amr bin Ash untuk memimpin pasukan khusus guna menyerbu kamp Romawi di selatan Mesir untuk memperkokoh otoritas Muslim yang telah sukses menduduki wilayah dari Fustath hingga Alexandria.  Setelah itu, ia kembali diutus ke wilayah Nubia, Sudan dan berhasil meletakan pengaruh Islam di sana.

Ketika membahas Abdullah bin Abi Sarah tentu kawasan Afrika Utara khususnya Tunisia tidak bisa dipisahkan darinya. Sebab, melalui wasilah sang jenderal lah untuk pertama kalinya Islam masuk ke wilayah berpenghuni masyarakat Amazigh itu. Perjuangan dan kisah – kisah keberaniannya diabadikan oleh seorang penulis berkebangsaan Mesir, Muhammad Ali dalam karangannya Min Abthal al-Fath al-Islami.

Dalam buku tersebut dipaparkan bahwa Abdullah bin Abi Sarah memulai perjalanan ke Tunisia pada tahun 26 H dengan sokongan 20.000 prajurit. Ia menempuh perjalanan ke Barqah, Tripoli lalu sampai di perbatasan Tunisia. Saat itu Tunisia diduduki oleh Gregory the Patrician. Seorang panglima ternama Romawi yang wilayahnya membentang luas dari  Tripoli (Libya) hingga ke Tangier (Maroko) dengan ibu kota  Chartage (Tunisia). (Baca: Ibnu Batutah: Sang Penjelajah Legendaris Asal Maroko)

Baca Juga :  Ribut Netizen Soal Film The Santri dan Livi Zheng yang Kurang Nyantri

Tinggal menunggu waktu kedua kubu akan saling mengayunkan pedang. Benar saja, di kawasan bernama ‘Aqubah dua panglima berpapasan. Riwayat ini sedikit berbeda dengan apa yang diutarakan sejarawan Tunisia, Hasan Husni Abdul Wahab dalam Khulasat Tarikh Tunis. Menurutnya pertempuran menghadapi Gregory ini terjadi di Sbeitla yang terletak 260 km dari ibukota Tunis.

Abdullah mengirim surat kepada raja Romawi agar memilih jalan damai dan membayar upeti. Namun hal ini tidak menemui titik temu. Kesepakatan tidak terjalin, maka perang besar pun meletus selama berhari – hari. Romawi  dengan 100.000 hingga 120.000 prajurit berupaya memblokade umat Islam agar tidak dapat masuk ke wilayahnya.

Meski dengan kekuatan super besar, seiring berjalannya waktu prajurit Romawi mulai  kelelahan. Sementara kubu Muslim masih berada dalam top peformance. Tidak mau menyia-nyiakan kesempatan emas ini, prajurit Abi Sarah menyerbu lagi pertahanan musuh. Hingga akhirnya pasukan Romawi mundur bersamaan dengan meluasnya korban jiwa termasuk di antaranya Gregory yang terbunuh oleh Abdullah Ibnu Zubair.

Selanjutnya Abdullah bin Abi Sarah mengepung kawasan Sebeitla sembari memasok pasukannya ke salah satu kota terbesar di barat daya Tunisia, Gafsah. Alhasil, keduanya sukses ditaklukan. Tidak berselang lama giliran El – Djem (kawasan di kota Mahdiah, Tunisia) yang ikut tunduk dalam pangkuan umat Islam. Mereka sepakat  berdamai dan mengirim pajak rutin setiap tahunnya senilai 2.500.000 dinar.

Selama satu tahun tiga bulan Abdullah bin Sarah  berkelana mempelajari seluk beluk Tunisia. Membuka lahan seraya menyiarkan agama Islam. Meski terbilang mampu membuka kota – kota besar di Tunisia, ia tidak menetap secara permanen disana.  Mengingat tugas yang diamanatkan kepadanya kala itu adalah untuk menggali informasi sedetail mungkin soal kondisi geografis Tunisia dan menakar kekuatan musuh.

Baca Juga :  Mengenal Hadis Masyhur dan Contoh-contohnya

Setelah tugasnya rampung, ia kembali ke Mesir. Jelas peran informan sebagai tonggak persiapan sebelum penaklukan hakiki tidak bisa dianggap remeh. Berkat mereka panglima – panglima selanjutnya memperoleh informasi ter-update yang kemudian dikonversi ke dalam sebuah strategi jitu. Benar, ketepatan strategi sangat menentukan keberhasilan peperangan.

Sebagaimana Muawiyah bin Hudaij beberapa tahun kemudian dapat menerobos masuk dan mengusai kota – kota penting di Tunisia pasca mendapat maklumat rinci hasil observasi Abdullah bin Abi Sarah. Begitupula dengan kesuksesan Uqbah bin Nafi’ sang penakluk Afrika tidak terlepas dari analisanya terhadap olahan – olahan informasi yang telah dikumpulkan para informan sebelumnya.

Abdullah bin Abi Sarah lengser dari jabatannya sebagai Gubernur Mesir tidak lama setelah diangkatnya Ali bin Abi Thalib sebagai khalifah. Ia termasuk sosok yang tidak ingin ikut campur dalam sengketa antara Ali dan Muawiyah dan lebih memilih meneruskan jihadnya menuju Palestina dan bermukim di ‘Asqalan.

Ia wafat serta dimakamkan di Maqbarah Quraisy Asqalan tahun 36 H, selepas shalat subuh persis seperti doa yang ia panjatkan, “Ya Alloh jadikanlah solat subuh sebagai penutup amalanku”.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here