Hal-Hal yang Perlu Dipersiapkan Bagi Calon Santri Baru

0
782

BincangSyariah.Com – Hidup di pesantren menjadi kebanggaan tersendiri bagi para santri. Belajar mandiri sejak dini di lingkungan pesantren. Merasakan yang namanya nanak nasi seorang diri, mencuci sendiri, dan makan rame-rame.

Bagi calon santri baru, ia harus menyiapkan bekal lahir batin bila ingin menuntut ilmu di pesantren. Apalagi pondok yang diminati sangat jauh dari rumahnya, perlu persiapan yang matang.

Bekal lahir yang dimaksud adalah semua hal yang berkaitan dengan sandang, pangan, dan papan. Sandang, pakaian perlu menyesuaikan dengan aturan pesantren. Misal pondoknya mewajibkan santri punya pakaian serba putih atau gamis, tentu harus bawa dari rumah agar tidak repot pas sampai ke pondok.

Perhatikan juga tentang pakaian yang boleh dibawa ke pondok. Baik kualitas atau kuantitasnya. Misal hanya boleh bawa 5 baju, 3 sarung, dan dua peci (hitam, putih). Kalau santri putri, tidak boleh lebih dari 7 baju, 5 sarung, dan 2 mukena.

Biasanya santri putri juga tidak diperkenankan membawa perhiasan. Baik cincin, kalung, gelang, atau anting. Hanya saja kalau anting ada yang membolehkan, khawatir tertutup. Ketika semua aturan mengenai pakaian dipenuhi, berarti calon santri ini benar-benar siap nyantri.

Pangan, makan dan minum santri sudah dipikirkan sejak berencana mondok. Wali santri yang siap memondokkan anaknya pasti sudah mengatur perihal konsumsi anak di pondok. Calon santri baru ini siap menanak sendiri atau langsung beli. Karena konsumsi santri terkadang berpengaruh pada intensitas belajar santri. Kadang bagian masuk sekolah, malah sibuk masuk dapur.

Wali santri juga perlu memerhatikan kehalalan dan baik-tidaknya kiriman anaknya. Santri juga harus hati-hati dalam urusan makan atau minum di pesantren. Usahakan sekuat tenaga untuk menjahui barang syubhat, apalagi yang jelas-jelas haram. Karena kehalalan makanan santri sangat berpengaruh pada kecerdasannya, khususnya pada kepribadian.

Baca Juga :  Cerita Nabi Muhammad tentang Kisah Nabi Musa

Dalam masalah pangan santri, ada sebagian pesantren yang menanggung kebutuhan pokok santrinya. Pengasuh langsung mempekerjakan tetangga untuk menjadi juru masak. Harapannya agar santri bisa lebih fokus ngaji, walau terkadang malah menambah “nakal” pada sebagian santri. Bagaimana tidak nakal, wong santri sudah merasa tidak rugi, karena tidak keluar biaya.

Papan, wali santri hendaknya sudah punya gambaran tentang kamar yang ideal bagi anaknya. Artinya, selain dipasrahkan pada pengasuh dan pengurus, soal kamar anaknya harus teliti. Kecuali sudah 100% ditentukan pondok, maka kita tinggal pasrah saja.

Ada sebagian pesantren yang memilah kamar santri berdasarkan asal daerahnya. Ada juga yang berdasarkan usia dan kelas formal. Tujuannya agar bisa cepat beradaptasi dengan lingkungan pesantren.

Namun, ada juga pesantren yang mengacak kamar santri. Dalam artian, setiap kamar tidak ditentukan asal daerah atau usianya. Tujuannya agar mereka bisa saling menghargai perbedaan satu sama lainnya. Pengenalan budaya antar santri bisa menjadikan pemikiran terbuka untuk menerima dan menghargai perbedaan.

Selain dua model pengaturan kamar santri tersebut, ada satu model lagi. Yaitu, pada awalnya mereka dipilah, tapi ketika sudah sampai setahun mereka diacak. Model yang ketiga ini dalam kaca mata penulis lebih pas diterapkan dalam pesantren masa kini.

Kembali lagi ke papan calon santri baru, ia harus tahu bagaimana pengaturan kamar di pondoknya. Jika santri dan walinya yang memilih, maka harus selektif memilih kamar. Karena terkadang ada sebagian kamar di pondok yang kebanyakan menularkan sifat negatif pada penghuni barunya.

Bukan kamarnya yang bermasalah, tapi santri yang menempatinya. Bisa jadi bukan malah tambah baik hidup di pondok, tapi tambah terpuruk. Karena santri itu sama halnya dengan orang sakit.

Baca Juga :  Terkait Isra Mi’raj, Apakah yang Berangkat Jasad Nabi Atau Ruh Saja?

Ada sakitnya sudah tingkat stadium akhir, ada yang sedang, dan ada yang ringan. Iya, semua santri yang sakit (jiwanya) pasti dapat disembuhkan, dengan syarat ia mengikuti resep dan saran kiai dan pengurus. Penyakit bisa saja menular, utamanya pada orang baru, ketika kekebalan tubuhnya masih minim.

Selain sandang, pangan, dan papan di atas, alat-alat sekolah juga sudah disiapkan. Mulai dari kitab-kitab yang biasa diaji, buku-buku umum atau penunjang lainnya, dan lain-lain. Peralatan mandi juga sudah siap sejak awal. Karena terkadang ada pesantren yang kamar mandinya punya seribu gayung, tapi dengan jumlah 1000 santri. Artinya masing-masing santri punya gayung sendiri. Di kamar mandi tidak disediakan. Kecuali kamar mandi tamu.

Ketika semua kebutuhan pokok (lahir) santri di atas sudah terpenuhi, maka secara lahir santri ini sudah siap menimba ilmu di pesantren. Masalah batin santri bisa ditopang dengan doa dan motivasi tinggi dari dirinya sendiri (intern) ataupun dari orang lain (ekstern). Utamanya oran tua dan guru alif. Sowan ke pihak madrasah di rumahnya harus sudah dikerjakan. Juga, ziarah ke maqbaroh pendiri lembaga masing-masing tidak boleh terlupakan. Wallahua’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here