Permulaan Turunnya Wahyu kepada Nabi Muhammad saw.

1
1324

BincangSyariah.Com – Ketika Muhammad telah mencapai usia kesempurnaannya, yaitu usia empat puluh tahun, maka Allah swt. mengutusnya kepada umat manusia seluruhnya sebagai pembawa kabar gembira dan pemberi peringatan untuk mengeluarkan mereka dari kegelapan dan kebodohan (kemusyrikan) kepada cahaya ilmu (iman).

Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek di dalam kitabnya Nurul Yaqin Fi Sirati Sayyidil Mursalin mengutip pendapat Mahmud Basya, ahli ilmu Falak yang mengatakan bahwa kejadian turunnya wahyu yang pertama kali adalah pada 17 Ramadhan tahun 13 sebelum Hijrah bertepatan dengan bulan Juli tahun 610 M.

Permulaan turunnya wahyu yang diturunkan kepadanya berupa mimpi yang benar (Ar-Ru’yah As-Shadiqah), dan disebutkan bahwa Muhammad tidak melihat wahyu datang selain bagaikan cahaya Shubuh.

Hal ini sesuai dengan kebiasaan yang dilakukan Allah swt kepada makhlukNya, yaitu selalu dalam bentuk bertahap dalam semua hal, lalu meningkat sampai  kepada tingkat yang sempurna karena sangat sulit bagi manusia untuk menerima wahyu dari malaikat secara langsung untuk pertama kalinya.

Kemudian Muhammad dibekali dengan kecenderungan senang berkhalwat (menyendiri) supaya ia menjauhkan diri dari kegelapan umat manusia pada saat itu, mengucilkan diri dari makhluk untuk bertahannuts (beribadah) kepada Allah swt. karena sesungguhnya beruzlah (mengasingkan diri) itu dapat menjernihkan jiwa.

Muhammad sering melakukan uzlah di Gua Hira’. Dia melakukan ibadah selama beberapa hari, kadang-kadang selama sepuluh hari atau lebih dari itu hingga sampai sebulan. Ibadah yang dilakukannya adalah menurut agama Nabi Ibrahim a.s. Untuk itu, Muhammad selalu membawa bekal secukupnya. Ketika bekalnya habis, ia kembali kepada Khadijah untuk mengambil bekal serupa sampai wahyu datang kepadanya di Gua Hira’ tersebut.

Pada suatu hari, ketika Muhammad sedang berada di dalam Gua Hira’, tiba-tiba muncul seseorang lalu berkata kepadanya, “Bergembiralah, wahai Muhammad, aku adalah Jibril, dan engkau adalah utusan Allah untuk umat ini.” Selanjutnya malaikat Jibril berkata kepadanya, “Bacalah.” Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Karena Muhammad adalah seorang ummi (buta huruf) yang belum pernah belajar membaca.

Baca Juga :  Malaikat Doakan Orang yang Gemar Bersedekah dan Orang Pelit

Lalu malaikat Jibril menutupi diri Muhammad dengan selimut yang dipakai sebagai alas tempat tidurnya sehingga Muhammad kepayahan karenanya. Kemudian malaikat Jibril melepaskannya. Ia berkata lagi, “Bacalah.” Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian malaikat Jibril menyekap diri Muhammad untuk yang kedua kalinya.

Setelah itu dilepaskannya. Ia berkata lagi, “Bacalah.” Muhammad menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Kemudian malaikat Jibril menyekapnya lagi untuk yang ketiga kalinya, lalu dilepaskannya lagi dan berkata, “Bacalah.” Akhirnya Muhammad mengucapkannya seperti berikut ini.

اِقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِيْ خَلَقَۚ (1) خَلَقَ الْاِنْسَانَ مِنْ عَلَقٍۚ (2) اِقْرَأْ وَرَبُّكَ الْاَكْرَمُۙ (3) الَّذِيْ عَلَّمَ بِالْقَلَمِۙ (4) عَلَّمَ الْاِنْسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْۗ (5)

Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Mahamulia, Yang mengajar (manusia) dengan pena. Dia mengajarkan manusia apa yang tidak diketahuinya. (Q.S. Al-‘Alaq/96: 1-5)

Setelah peristiwa itu, Muhammad yang kini menjadi Rasulullah saw. langsung kembali kepada Khadijah dengan hati berdebar-debar dan badannya gemetar karena rasa takut yang masih tetap melekat pada dirinya karena bertemu dengan malaikat untuk yang pertama kalinya.

Lalu Rasulullah saw. memasuki rumah Khadijah dan langsung berkata, “Selimuti aku, selimuti aku.” Supaya perasaan takut yang menghantuinya lenyap. Kemudian Khadijah menyelimutinya hingga perasaan takut itu lenyap.

Setelah itu, Rasulullah saw. bercerita kepada Khadijah tentang peristiwa yang baru saja dialaminya itu, bahwa dirinya baru saja bertemu dengan seorang malaikat, lalu malaikat itu menyekap dirinya sehingga ia merasa amat takut. Sebelum itu, Rasulullah saw. tidak mengetahui sama sekali tentang malaikat Jibril, juga tentang bentuknya.

Khadijah langsung menjawab, “Tidak, demi Allah. Dia selamanya tidak akan menyia-nyiakan engkau. Sesungguhnya engkau selalu bersilaturahim, menanggung beban, menolong orang yang tidak mampu, menghormati tamu, dan menolong orang-orang yang tertimpa bencana. Allah swt. tidak akan membiarkan setan dan angan-angan (hawa nafsu) menguasai diri engkau, dan tidak mengherankan jika Allah swt. telah memilih engkau untuk memberikan hidayah kepada kaummu.”

Baca Juga :  Hakikat Simbol Salib Menurut Imam Ibnu Arabi

Untuk memperkuat dugaannya itu, Khadijah berangkat menanyakan tentang hal itu kepada orang yang mengetahui perihal rasul-rasul, yakni orang-orang yang telah melihat kitab-kitab orang-orang zaman dahulu. Khadijah pun datang menemui Waraqah bin Nufail, saudara misannya yang telah memeluk agama Nasrani sejak zaman jahiliyyah.

Waraqah bin Nufail pandai menulis dan menguasai bahasa Ibrani. Ia menukil dari kitab injil hal-hal yang dikehendakinya dalam bahasa Ibrani. Ia telah berusia lanjut dan kedua matanya telah buta.

Khadijah berkata kepadanya, “Wahai anak pamanku. Dengarkanlah apa yang diceritakan oleh anak pamanmu ini.” Lalu Waraqah berkata, “Wahai anak pamanku, apakah yang telah engkau lihat?” Rasulullah saw. menceritakan kepadanya semua yang telah dilihat dan dialaminya. Setelah itu Waraqah berkata kepada Rasulullah saw. “Ini adalah An-Namus (malaikat) yang pernah diturunkan oleh Allah kepada Nabi Musa.” Waraqah tahu bahwa utusan Allah kepada para nabi-Nya tidak lain hanyalah malaikat Jibril.

Selanjutnya ia mengatakan, “Aku ingin menyaksikan andaikan pada masa itu aku masih muda dan kuat, yaitu ketika kaummu mengusirmu dari tanah airmu karena mereka memusuhimu dan mereka benci kepadamu, yaitu ketika kamu menyuruh mereka mengubah agama dan keyakinan yang telah mereka temukan dari nenek moyang mereka.”

Mendengar keterangan tersebut, Rasulullah saw. merasa heran dengan tindakan yang akan dilakukan oleh kaumnya kepadanya. Selama ini ia merasakan bahwa kaumnya mencintainya sebab akhlaknya yang mulia dan kejujurannya dalam berkata hingga ia dijuluki Al-Amin (orang yang dapat dipercaya).

Oleh sebab itu, Rasulullah saw. bertanya, “Apakah benar mereka akan mengusirku?” Waraqah menjawab, “Siapapun lelaki yang datang membawa seperti apa yang engkau bawa pasti dimusuhi mereka.” Hal ini memang telah dijelaskan dalam Al-Qur’an sebagaimana berikut.

Baca Juga :  Ini Bahasa yang Digunakan Malaikat Saat Berbicara

وَقَالَ الَّذِيْنَ كَفَرُوْا لِرُسُلِهِمْ لَنُخْرِجَنَّكُمْ مِّنْ اَرْضِنَآ اَوْ لَتَعُوْدُنَّ فِيْ مِلَّتِنَاۗ فَاَوْحٰٓى اِلَيْهِمْ رَبُّهُمْ لَنُهْلِكَنَّ الظّٰلِمِيْنَ ۗ

Dan orang-orang kafir berkata kepada rasul-rasul mereka, “Kami pasti akan mengusir kamu dari negeri kami atau kamu benar-benar kembali kepada agama kami.” Maka Tuhan mewahyukan kepada mereka, “Kami pasti akan membinasakan orang yang zalim itu. (Q.S. Ibrahim/14: 13)

Untuk menyempurnakan kepercayaan Waraqah terhadap risalah yang dibawa oleh Rasulullah saw., ia berkata, “Seandainya aku masih sempat mengalami zamanmu, niscaya aku akan menolongmu dengan sekuat tenaga.” Hanya saja, sangat disayangkan tidak beberapa lama kemudian, Waraqah meninggal dunia.

Sumber: Kitab Nurul Yaqin Fi Sirati Sayyidil Mursalin karya Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek.

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here