Permainan Catur dan Sejarah Strategi Militer Empat Peradaban

0
250

BincangSyariah.Com – SkakMat !, dalam permainan catur adalah momen menangnya salah satu pihak dalam permainan catur. Menarik jika kita membaca beberapa keterangan sejarah bahwa kata Skak Mat yang sebenarnya adalah berasal dari pelafalan yang bahasa Inggrisnya adalah checkmate, ternyata adalah digunakan – dan boleh jadi serapan dari frase bahasa Arab, Shaah Maat !.

Keterangan sejarah ini menarik perhatian penulis karena catur ternyata telah menjadi bagian dari kehidupan masyarakat Arab, dan dunia secara umum hingga saat ini. Catatan sejarah itu buktinya, meski kata Shah telah menjadi bahasa Arab, sebenarnya kata itu sendiri juga bersumber dari bahasa Parsi, yang artinya sebuah gelar untuk seorang raja.

Tapi, bukan persoalan itu yang akan menjadi penekanan. Catur adalah permainan yang penuh cerita kebudayaan dan politik, bukan sekadar permainan biasa. Dimainkan oleh dua orang, sisi hitam dan putih, permainan ini menuntut optimalisasi berpikir strategis dalam menjalankan setiap anak catur hingga dapat mengalahkan lawan mainnya.

Hamza Yusuf, seorang tokoh Islam terkenal di Amerika Serikat pernah membuat paper dengan judul “The Chess in the Light of Jurist” (Catur dalam Pandangan Fuqaha). Ia menyatakan bahwa literatur barat mengenai catur menyebutkan bahwa ada empat periode sejarah catur.

Pertama periode India, periode Persia, lalu periode Arab (ketika Islam mulai memperluas kekuasaan politik), dan periode Eropa ketika permainan ini dibawa oleh orang-orang Moor di Spanyol. Periode terakhir inilah yang menjadi catur di dunia modern yang kita kenal saat ini.

Karena terdapat berbagai persinggungan diantara bermacam kebudayaan dan bangsa, ada banyak istilah-istilah di dalam permainan ini yang merupakan hasil serapan dari satu bahasa ke bahasa lain. Catur, sebenarnya adalah separuh daru dua kata yang disatukan, yaitu chaturanga. chaturanga gabungan dari kata chatur dan ranga yang kemudian dikenal dalam bahasa arab dengan shatranj (arab; شطرنج). Chatur berarti empat dan ranga berarti senjata.

Baca Juga :  Hilyat Al-Auliya’ Fi Thabaqat Al-Ashfiya’, Kitab Daftar Nama Para Wali

Jadi catur sebenarnya adalah maket posisi militer India, di mana mereka mengenal empat lini pasukan, kereta kuda (chariot), pasukan berkuda (cavalry), pasukan gajah (elephant), dan tentara (infantry). Sehingga, catur digambarkan sebagai sebuah pasukan militer negara. Kata lainnya adalah bidak (diserap dari bahasa Arab: baydaq), menteri (dikutip dari bahasa India: mantri), dan masih banyak lagi.

Demikian, catur pun juga telah mengalami perubahan peraturan “aktor” pada pion-pionnya, serta cara permainnya. Dalam dunia Arab misalnya, terjadi perubahan ketika “peran” gajah diganti dengan kuda. Cara berjalannya anak catur juga berubah. Catur di dunia Arab yang mengganti posisi Chariot menjadi“Rajah” (Ratu/Raja) dan kuda yang diganti dari “elephant” menjadi fars (Kuda). Orang arab pula yang merubah cara berjalan kuda menjadi tiga langkah ke depan. (Selengkapnya dapat dibaca dalam: Hamza Yusuf, The Chess in the Light of Jurist.

Sebenarnya, ketika catur dikenal sebagai permainan tua – termasuk di dunia arab – sangat wajar ketika mereka bisa menemukan kosakatanya di dalam bahasa Arab. Sebagai permainan tua, catur dikenal oleh para Sahabat Rasulullah Saw. Beberapa atsar dari para Sahabat ditemukan menyebutkan mengenal permainan ini, lalu mereka meresponnya dengan pertanyaan bagaimana hukumnya….(Baca; Mengulik Hukum Permainan Catur Dalam Literatur Islam)

 

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.