Perkiraan Masa Kisah Ashabul Kahfi Terjadi

0
1675

BincangSyariah.Com – Salah satu kisah menakjubkan yang diabadikan dalam al-Qur’an adalah kisah Ashabul Kahfi. Di kalangan Kristen, dikenal dengan The Seven Sleepers. Kisah ini menceritakan sekelompok pemuda yang menyingkir dari gangguan penguasa pada zamannya, karena mengalami penindasan agama sehingga mereka mengasingkan diri ke dalam sebuah gua yang tersembunyi, lalu mereka tertidur di dalam gua tersebut selama 309 tahun. (Baca: Di Malam Jumat, Lebih Utama Membaca Surah Yasin atau Surah al-Kahfi)

Kisahnya yang populer mendorong para sejarawan dan sebagian ahli agama, baik dari kalangan Islam maupun Kristen untuk melakukan penelitian lebih jauh tentang kapan terjadinya peristiwa tersebut. Quraish Shihab dalam Tafsir Al-Mishbah, sebagaimana mengutip dari kitab al-Muntakhab fi Tafsir al-Qur’an al-Karim, menyebutkan beberapa penindasan agama yang pernah terjadi di daerah Timur Kuno yang diduga sebagai masa terjadinya kisah Ashabul Kahfi.

  1. Tahun 198 SM

Pada tahun ini merupakan tahun kekuasaan raja-raja Saluqi, saat kerajaan itu diperintah oleh Raja Antiogos IV yang digelari dengan Nabivanes (176-84 SM). Pada saat penaklukan singgasana Suriah, Antiogos yang juga dikenal fanatik terhadap kebudayaan dan peradaban Yunani Kuno mewajibkan kepada seluruh penganut Yahudi di Palestina, yang telah masuk dalam wilayah kekuasaan Suriah sejak 198 SM., untuk meninggalkan agama Yahudi dan menganut agama Yunani Kuno.

Antiogos mengotori tempat peribadatan Yahudi dengan meletakkan patung Zeus, tuhan Yunani terbesar, di atas sebuah altar dan pada waktu-waktu tertentu mempersembahkan kurban berupa babi bagi Zeus. Terakhir, Antiogos membakar habis naskah Taurat tanpa ada yang tersisa.

Berdasarkan bukti historis ini, dapat disimpulkan bahwa Ashabul Kahfi adalah penganut agama Yahudi yang bertempat tinggal di Palestina, atau tepatnya di Yerusalem. Dapat diperkirakan pula bahwa peristiwa bangunnya mereka dari tidur panjang itu terjadi pada tahun 126 M. setelah Romawi menguasai wilayah Timur, atau 445 tahun sebelum masa kelahiran Rasulullah saw. tahun 571 M.

Baca Juga :  Cara Nabi Berdakwah Pada Orang Awam
  1. Tahun 126 M

Data kedua memperkirakan bahwa Ashabul Kahfi mulai tidur pada tahun 126 M. Pada tahun tersebut merupakan masa imperium Romawi saat Kaisar Hadrianus berkuasa (117-138 M). Kaisar itu memperlakukan orang-orang Yahudi sama persis seperti yang pernah dilakukan Antiogos. Pada tahun 132 M, para pembesar Yahudi mengeluarkan ultimatum bahwa seluruh rakyat Yahudi akan berontak melawan kekaisaran Romawi. Mereka memukul mundur garnisun-garnisun Romawi di perbatasan dan berhasil merebut Yerusalem.

Peristiwa bersejarah ini diabadikan oleh orang-orang Yahudi dalam mata uang resmi mereka. Selama tiga tahun penuh mereka dapat bertahan. Terakhir, Hadrianus bergerak bersama pasukannya menumpas pemberontak-pemberontak Yahudi. Palestina jatuh dan Yerusalem dapat direbut kembali. Etnis Yahudi pun dibasmi dan para pemimpin mereka dibunuh. Orang-orang Yahudi yang masih hidup dijual di pasar-pasar sebagai budak.

Simbol-simbol agama Yahudi dihancurkan, ajaran dan hukum-hukum Yahudi dihapus. Dari penuturan sejarah ini, didapati kesimpulan yang sama bahwa para pemuda itu adalah penganut ajaran Yahudi. Tempat tinggal mereka bisa jadi berada di kawasan Timur Kuno atau Yerusalem sendiri. Masih mengikuti alur sejarah ini, mereka diperkirakan bangun dari tidur panjang itu kurang lebih pada tahun 435 M, 30 tahun menjelang kelahiran Rasulullah saw.

  1. Tahun 112 M

Pada tahun ini merupakan masa kekuasaan raja Tarajan (98-117 M). Sedangkan penguasa yang memerintah pada saat Ashabul Kahfi terbangun dari tidurnya adalah raja Theodosius (408-450 M), seorang raja yang bijaksana. Jika kita menjadikan pertengahan masa pemerintahan Theodosius sebagai akhir masa tidur Ashabul Kahfi, katakanlah pada tahun 421 M, dan ini dikurangi 309 tahun (masa tidur Ashabul Kahfi) itu berarti mereka milai tertidur sekitar 112 M, yaitu sekitar pertengahan masa pemerintahan Tarajan yang pada tahun yang sama menetapkan bahwa setiap orang Kristen yang menolak menyembah dewa-dewa, dinilai sebagai pengkhianat dan diancam dengan hukuman mati.

Baca Juga :  Menurut Kiai Kholil Bangkalan, Ini Tiga Bekal yang Perlu Disiapkan Sebelum Menikah

Dari ketiga keterangan di atas, data yang ketigalah yang banyak disepakati oleh pakar sejarah muslim dan Kristen, di mana pada masa pemerintahan Theodosius, pemilik tanah memutuskan untuk membuka mulut gua yang disegel itu untuk dijadikan kandang sapi. Kemudian ia mendapati mereka sedang tertidur, lalu mereka terbangun dan merasa baru tidur sehari saja.

Di samping informasi tahun terjadinya peristiwa Ashabul Kahfi, yang tak kalah penting adalah kita bisa menarik pelajaran dan hikmah dari peristiwa ini, di mana kepergian mereka meninggalkan masyarakat kaumnya didorong oleh keengganan mengakui kesyirikan, dan tetap konsisten memilih akidah tauhid dan kepercayaan yang benar. Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here