Tafsir Surah Yusuf 43-45; Perkenalan Nabi Yusuf dengan Raja Mesir

0
967

BincangSyariah.Com – Tidak sedikit adanya kesusahan dan kegelisahan yang menyimpan banyak hikmah yang tak bisa dimengerti seketika. Di balik kegelisahan raja Mesir Rayan bin walid tersimpan hikmah yang begitu besar dari Tuhan, yaitu dapat berkenalan dengan Nabi Yusuf. Terkait kisah ini, Allah Swt. mengisahkan sebagai berikut:

قَالَ الْمَلِكُ إِنِّي أَرَى سَبْعَ بَقَرَاتٍ سِمَانٍ يَأْكُلُهُنَّ سَبْعٌ عِجَافٌ وَسَبْعَ سُنْبُلَاتٍ خُضْرٍ وَأُخَرَ يَابِسَاتٍ يَا أَيُّهَا الْمَلَأُ أَفْتُونِي فِي رُؤْيَايَ إِنْ كُنْتُمْ لِلرُّؤْيَا تَعْبُرُونَ  .قَالُوا أَضْغَاثُ أَحْلَامٍ وَمَا نَحْنُ بِتَأْوِيلِ الْأَحْلَامِ بِعَالِمِينَ. وَقَالَ الَّذِي نَجَا مِنْهُمَا وَادَّكَرَ بَعْدَ أُمَّةٍ أَنَا أُنَبِّئُكُمْ بِتَأْوِيلِهِ فَأَرْسِلُونِ

Wa qālal-maliku innī arā sab’a baqarātin simāniy ya`kuluhunna sab’un ‘ijāfuw wa sab’a sumbulātin khuḍriw wa ukhara yābisāt, yā ayyuhal-mala`u aftụnī fī ru`yāya ing kuntum lir-ru`yā ta’burụn. Qālū aḍgāṡu aḥlām, wa mā naḥnu bita`wīlil-aḥlāmi bi’ālimīn. Qa qālallażī najā min-humā waddakara ba’da ummatin ana unabbi`ukum bita`wīlihī fa arsilụn

Artinya:

Raja berkata (kepada orang-orang terkemuka dari kaumnya): “Sesungguhnya aku bermimpi melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk-gemuk di makan oleh tujuh ekor sapi betina yang kurus-kurus dan tujuh bulir (gandum) yang hijau dan tujuh bulir lainnya yang kering-kering”. Hai orang-orang yang berkemuka “Terangkanlah kepadaku tentang ta’bir mimpiku itu jika kamu dapat mena’birkan mimpi”. Mereka menjawab: “(Itu) adalah mimpi-mimpi yang kosong dan kami sekali-kali tidak tahu menta’birkan mimpi itu.” Dan berkata orang yang selamat di antara mereka berdua dan teringat (kepada Yusuf) sesudah beberapa waktu lamanya : “Aku akan memberitakan kepadamu tentang (orang yang pandai) mena’birkan mimpi itu, maka utuslah aku(kepadanya)” (Yusuf: 43-45)

Wahbab al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir mengartikan kalimat yang hijau dengan arti telah berisi dan kalimat yang kering-kering dengan arti telah tua dan siap dipanen.

Imam al-Qurthubi dalam karyanya Tafsir al-Qurthubi menyampaikan pendapat ulama dalam memahami arti mimpi-mimpi yang kosong. Dalam penyampaianya, Imam ‘Atha mengartikanya sebagai mimpi yang salah dan bohong. Dan Abu Ubaidah mengartikanya sebagai mimpi yang tidak dapat ditafsiri. Sebagaimana Imam al-Qurthubi, Imam al-Razi dalam karyanya Mafatihu al-Ghaib menampilkan komentar para ulama. Dalam komentar mereka disampaikan bahwa mimpi terbagi menjadi dua macam:

Pertama; mimpi yang teratur dan tertata serta tersusun, sehingga akal akan mudah mengarahkan maksud dan hakikat mimpi tersebut.

Kedua; Mimpi yang bercampur aduk dan kacau serta tidak berurutan (tertib).

Dalam penyampaian Imam al-Razi, maksud dari orang yang selamat di antara mereka berdua adalah seorang pelayan minuman.

Kalimat Utuslah merupakan perintah yang ditunjukan kepada sangraja atau bentuk perintah kepada raja dan semua yang berkumpul ditempat itu. Hal ini adalah penyampaian Imam al-Razi.

Pada suatu hari Rayan bin Walid seorang raja di tanah Mesir bermimpi. Dalam mimpinya dia melihat tujuh ekor sapi betina yang gemuk dimakan oleh tujuh ekor sapi yang kurus dan tujuh tangkai hijau yang telah berisi biji (gandum) terlilit oleh tujuh tangkai lainya yang kering dan siap dipanen.

Rayan bin Walid sebagai seorang raja, merasa gelisah dan bingung dalam memahami mimpi tersebut. Kegelisahan dan kebingungan tersebut disebabkan  dalam benak raja terbesit seakan-akan dari mimpinya itu ada sesuatu yang lemah dan kurang namun dapat menguasai hal yang sempurna dan kuat. Hatinya menduga bahwa mimpi itu bukanlah mimpi yang baik namun mimpi yang berarti peringatan atas sebuah hal yang buruk, namun apalah daya ia tidak mampu mengartikan mimpinya itu dengan jelas. Dan pada akhirnya sangraja mengumpulkan para peramal, ahli sihir dan para pejabat kerajaan serta orang-orang terkemuka untuk membantu menjelaskan maksud dari mimpinya.

Setelah Rayan bin Walid mengumpulkan mereka semua dan menyampaikan mimpinya itu, semua para pembesar kerjaan dan semua orang-orang terpilih yang telah ia kumpulkan ternyata tidak mampu menjelaskan arti mimpi tersebut. Ketidakmampuan mereka menjelaskanya, tidaklain merupakan bentuk kehendak dan kuasa Tuhan sebagai sebab dan jalan kebebasan Yusuf dari dalam penjara.

Ketika semua orang yang raja kumpulkan dan dimintai penjelasan atas mimpinya ternyata tidak seorangpun yang mampu, tiba-tiba seorang budak pelayan minuman teringat kisahnya dengan Yusuf setelah selang waktu yang begitu lama dan dia menyakini bahwa Yusuf pasti mampu menjelaskan mimpi raja. Oleh karenanya dia berseru dan bercerita kepada raja tentang pengamalanya saat di dalam penjara dulu. Dalam penyampaianya bahwa dulu dirinya beserta satu kawanya (pelayan makanan yang telah disalib) pernah menanyakan maksud mimpinya kepada seorang penghuni penjara yang saleh dan ahli dalam mengta’birkan sebuah mimpi dan penjelasanya itu sesuai dengan kenyataan.

Setelah pelayan minuman itu menyampaikan kisahnya dengan seorang penghuni penjara, dia meminta izin kepada sangraja untuk mengutusnya menemui penghuni penjara tersebut guna menanyakan arti mimpi sangraja. Dan Rayan bergegas untuk mengizinkan petemuan mereka berdua.

Dari kisah di atas, Wahbah al-Zuhaili dalam karyanya al-Tafsir al-Munir menyampaikan: Pertama, ketidakmampuan para pembesar kerajaan untik menjelaskan maksud dari mimpi raja, merupakan sebab berpindahnya permasalahan mimpi itu kepada Yusuf.

Kedua, mimpi raja merupakan bentuk kebahagiaan dan kasih sayang untuk Yusuf dari-Nya. Ketiga, teringat atas sebuah kebaikan serta melakukanya setelah lalai dan lupa, merupakan taqdir dan kuasa serta pertolongan-Nya kepada seorang hamba.

Keempat, kepergian pelayan minuman menemui Yusuf merupakan sebab dia dikenal dengan kehebatan ilmu dan derajatnya disisi raja dan para pembesar kerajaan.

Wallahu A’lam.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here