Perkembangan Penerjemahan Al-Qur’an di Indonesia

0
1203

BincangSyariah.Com– Perkembangan  khazanah keislaman di Indonesia tidak terlepas dari keberanian para ulama terdahulu dalam menerjemahkan dan menafsirkan Al-Qur’an. Tradisi penerjemahan Al-Qur’an memang sangatlah penting untuk dilakukan. Karena hal tersebut merupakan proses masuknya ajaran Islam sebelum masuk ke dalam upaya yang serius dalam penafsirannya.

Isu seputar penerjemahan Al-Qur’an di Indonesia memang sudah lama menjadi bagian dari hal yang sensitif. Karenanya sangat sulit menemukan karya penerjemahan dalam bahasa Nusantara sejak awal masuknya Islam (sekitar abad ke-13), akan tetapi saat itu bisa saja sudah terjadi penerjemahan secara lisan dalam proses pengajarannya.

Tentu banyak juga orang yang mengkritik pengharaman terjemahan Al-Qur’an tersebut. Salah satunya adalah R.A Kartini (1879-1904). Kartini merasa resah dengan sulitnya penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa apapun. Dan baginya lebih bagus apabila Al-Qur’an tidak hanya sekadar dibaca, namun juga harus dipahami.

Pelarangan penerjemahan Al-Qur’an yang saat itu dilakukan kebanyakan ulama, dapat menghambat proses pemahaman Al-Qur’an. Oleh karenanya ia meminta Mbah Saleh Darat untuk menerjemahkan Al-Qur’an, sehingga muncul karya yang berjudul Faid al-Rahman Fii Tarjamah Tafsir Kalam Malik al-Dayyan.

Namun penerjemahan yang dilakukan oleh Mbah Saleh Darat, bukanlah penerjemahan yang dilakukan pertama kali di Nusantara ini. Karena sebelumnya pun ditemukan beberapa hasil karya penerjemahan Al-Qur’an ke dalam bahasa Nusantara. Mengenai sejarah penerjemahan tersebut, Peter G. Riddell membagi penerjemahan dan penafsiran Al-Qur’an dalam tiga periode:

Pertama, periode sekitar tahun 1500-1920. Pada waktu yang panjang ini, penerjemahan Al-Qur’an terdapat dua jenis, yaitu: (1) penerjemahan ayat yang dilakukan sepenggal sebagai ilustrasi doktrin atau argumentasi teologis tertentu; (2) Penafsiran Al-Qur’an yang cukup lengkap disertai dengan wacana seputar Al-Qur’an yang panjan.

Baca Juga :  Delapan Tips Agar Hafalan Menjadi Kuat

Contoh yang pertama adalah karya dari Hamzah Fansuri, seorang guru besar tasawuf di Nusantara dan ahli sastra, dan Shamsyuddin al-Sumatrani, seorang ulama besar Aceh pada abad ke-16 dan ke-17 yang merupakan seorang murid dari Hamzah Fansuri. Contoh yang kedua adalah penafsiran surat 18 (al-Kahfi) dan Tarjuman al-Mustafid karya dari Syeikh ‘Abd al-Rauf as-Sinkili al-Jawi.

Kedua, periode 1920-1960. Banyak sekali karya yang dinamai dengan tafsir pada periode ini. Penerjemahannya pun bersumber pada  teks dalam gaya bahasanya. Karya dari Mbah Saleh Darat pun termasuk ke dalam periode ini. Kemudian ada Tafsir al-Ibriz karya KH. Bisri Mustofa dan Raudhatul Irfan Fii Ma’rifati al-Qur’an karya KH. Ahmad Sanusi asal Sukabumi dan beberapa karya lainnya.

Ketiga, periode 1960 sampai sekarang. Contoh karya dari periode ini antara lain; terjemahan lengkap polemis karya H.B Jassin, terjemahan 1990 versi Depag, Tafsir Al-Nur karya M.. Hasbi Ash-Shiddieqy dan Tafsir al-Azhar karya Buya Hamka, serta beberapa karya tafsir lainnya.

Hingga saat ini, penerjemahan Al-Qur’an terus mengalami perkembangan. Tidak hanya diterjemahkan ke dalam bahasa Melayu-Indonesia. Penerjemahan pun dilakukan ke dalam berbagai bahasa daerah semisal bahasa Aceh, Sunda, Jawa, Madura, Bugis, Mandar, Gorontalo dan bahasa lainnya.

Tentu perkembengan penerjemahan tersebut merupakan hal yang sangat penting terhadap kajian keislaman di Indonesia. Karena upaya tersebutlah Al-Qur’an tidak hanya menjadi kitab umat Islam yang harus dibaca, namun juga dapat dipahami oleh masyarakat luas. Semoga kita mendapatkan naungan Al-Qur’an di akhirat kelak, Aamiin Allohuma Aamiin.

Tabik.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here