Perkembangan Islam Kontemporer di Korea Selatan

0
15

BincangSyariah.Com – Perkembangan Islam Kontemporer di Korea Selatan dimulai dari semenanjung Korea di awal abad ke-20 disibukkan dengan tarik ulur pengaruh antara Tiongkok dan China. Lama di bawah bayang-bayang Kekaisaran China, di awal abad ke-20 Dinasti Qing di China kalah dalam perang melawan Kekaisaran Jepang, dan kondisi itu dimanfaatkan oleh Jepang menyatakan Korea sebagai wilayah Protektorat di tahun 1910.

Kondisi kembali berubah ketika Jepang mulai kalah oleh sekutu (Amerika, Inggris, bahkan Rusia) di tahun 1945. Jepang pun menarik diri dari Korea. Di sini masalah kembali naik ke permukaan. Siapa yang berhak memimpin wilayah Korea saat itu?

Di masyarakat Korea, khususnya di kalangan para aktivis kemerdekaannya, ada yang memiliki kecenderungan kepada komunisme, dan yang lain kepada modernisasi ala Barat (istilah untuk menyebutkan negara-negara yang menentang komunisme Soviet. Walhasil, pasca Jepang menarik diri, masing-masing kelompok berada di bawah pengaruh dua kekuatan besar dunia pada waktu itu.

Amerika yang sangat ingin mempertahankan pengaruhnya di Asia, salah satunya menyokong Syngman Rhee, aktivis Korea yang sempat mendirikan pemerintahan sementara di Beijing saat Korea dianeksasi Jepang, didukung menjadi Presiden dengan mendirikan Korea Selatan. Sementara di utara, kelompok yang disebut tentara Merah Korea juga didukung untuk mendirikan negara dengan asas komunisme oleh Tiongkok dan Uni Soviet. Berdirilah Korea Utara di bawah kepemimpinan Kim Jong-Il. Masing-masing berdiri di tahun 1948.

Dalam persaingan kekuatan itu, pecahlah Perang Korea di awal tahun 1949. Korea Selatan sempat ditinggalkan Amerika Serikat, dan menyebabkan Korea Selatan diserang oleh Korea Utara tanpa kekuatan yang cukup karena Utara masih didukung penuh secara persenjataan oleh China dan Soviet.

Sejumlah kecil pasukan Amerika sempat bertahan membantu Korea Selatan. Belakangan AS dengan didukung oleh PBB, memandang perlu untuk mengakhiri penyerangan Korea Utara itu dengan argumen perdamaian dan mengkikis pengaruh fasisme. Saat itulah datang sejumlah pasukan PBB – dengan pendukung utama, Amerika Serikat–untuk membantu mengakhiri serang Korea Utara. Salah satu pasukan PBB ini ada yang merupakan orang-orang Turki.

Selain menjadi tentara PBB, sebagian orang-orang Turki ini melakukan kegiatan sosial dengan mendirikan sekolah kepada anak-anak Korea yang menjadi korban peperangan. Salah satu yang dilakukan juga adalah mendakwahkan agama Islam. Penerangan Islam oleh orang-orang Turki ini, bisa dikatakan menjadi persinggungan kembali semenanjung Korea dengan Islam setelah vakum sejak kebijakan pelarangan identitas non-China oleh Dinasti Joseon.

Korea dan Krisis Minyak: Relasi Korea dengan Negara-Negara Timur Tengah

Perkembangan Islam Kontemporer di Korea Selatan berlanjut setelah perang Korea berakhir, jejak keberadaan Islam di Korea Selatan bisa dikatakan tidak berkembang terlalu signifikan. Sebagian orang-orang Korea Selatan memang ada yang memutuskan untuk berpindah agama menjadi agama Islam ketika mereka mengenal Islam dari Tentara PBB asal Turki. Di tahun 1955, dua orang Korea Selatan yang memeluk Islam meminta bantuan seorang imam Turki yang ditempatkan di Beijing untuk membantu mereka membuat komunitas muslim.

Saat terbentuk, komunitas muslim tersebut berjumlah 200 orang. Komunitas ini yang nantinya berkembang menjadi salah satu organisasi yang diakui menaungi orang-orang Islam di Korea Selatan, bernama KMF (Korean Muslim Federation).

KMF bahkan diakui legalitasnya sebagai badan hukum oleh Kementerian Kebudayaan dan Penerangan Korea Persinggungan orang-orang Korea dengan Islam kembali terjadi ketika Korea Selatan banyak berhubungan dengan negara-negara Timur Tengah di saat mereka memiliki kebutuhan yang tinggi akan minyak di tengah upaya Korea Selatan membangun negaranya pasca porak poranda oleh perang saudara.

Di saat itu, Korea Selatan menjadi salah satu negara yang banyak mengirimkan pekerjanya untuk bekerja di perusahaan-perusahaan di negara-negara Teluk. Dari hubungan ini, di tahun 1976, dibangunlah masjid pertama di korea selatan. Terletak di wilayah Itaewon (wilayah yang sampai saat ini menjadi simbol multikulturalisme Korea Selatan), masjid ini didirikan di atas tanah yang diberikan Presiden Korea Selatan saat itu, Park Chung-hee dan didukung secara pendanaan oleh negara-negara Arab dan mayoritas muslim, salah satunya, Malaysia. Berdirinya masjid ini kemudian menjadi salah satu simbol persahabatan antara Korea Selatan dengan negara-negara Arab.

Di periode itu juga, KMF berkesempatan untuk mengirimkan orang-orang Korea yang memeluk Islam dan tertarik untuk memperdalam agamanya, untuk belajar di berbagai negara-negara mayoritas muslim seperti Arab Saudi, Mesir, Sudan, Malaysia dan Indonesia. Ali An Sun Geun, adalah salah seorang muslim Korea yang diutus belajar Islam ke IAIN Jakarta di tahun 80-an, atas hasil kerjasama KMF dengan Kementerian Agama yang waktu itu dipimpin oleh Munawir Syadzali.

Ali bahkan meneruskan pendidikan keislamannya hingga jenjang doktoral di almamater sarjananya, UIN Jakarta dan menghasilkan disertasi di tahun 2011 berjudul Islam Damai di Negeri Asia Timur Jauh: Meneropong Penyebaran dan Dinamika Islam di Korea .

Kader KMF lainnya yang juga telah kembali ke Korea Selatan dan menjadi pendakwah diantaranya adalah Abdur Rahman Lee Ju-Hwa. Ia kini menjadi imam utama di Masjid Pusat Seoul di Itaewon. Di tahun 80-an, ia pernah dikirim untuk belajar di Universitas Islam Madinah. Saat itu ia sudah menjadi imam di Itaewon. Di Madinah, ia mulai memperdalam bahasa Arab dan kuliah di Fakultas Ushuludin.

Menghadapi Prasangka Pasca 9/11 : Islamofobia Sebagai Tantangan Islam di Korea Selatan

Eksistensi Islam di Korea Selatan dalam perkembangan Islam Kontemporer di Korea Selatan bisa dikatakan sangat dinamis di satu sisi, tapi juga penuh tantangan. Di bawah tahun 2000, eksistensi Islam di Korea Selatan bisa dikatakan berjalan perlahan, namun tidak terlalu pesat dan tidak terlalu mendapatkan sorotan dari publik Korea Selatan sendiri secara luas.

Akibat pengetahuan masyarakat Korea sendiri terhadap orang Islam, pandangan yang berkembang waktu itu hanya pandangan sumir tentang Timur Tengah sebagai negara yang mengekang perempuan atau perselisihan kultural yang dialami muslim migran di Korea akibat perbedaan budaya yang cukup signifikan.

Namun, pelan tapi pasti, masjid misalnya tetap berdiri di Korea Selatan. Sampai saat ini, tercatat ada 11 masjid yang didirikan di Korea Selatan. Ini belum termasuk masjid dan mushala yang didirikan oleh para pekerja migran yang beragama Islam. Yang didirikan oleh orang Indonesia misalnya – umumnya dalam status kontrak – jumlahnya sampai 50-an.

Umumnya, masjid dan mushala ini memang dibuat agar para pekerja migran asal Indonesia bisa dengan mudah melaksanakan ibadahnya. Ini pun terjadi, karena perusahaan-perusahaan tempat bekerja mereka memberikan keleluasaan kepada para pekerja migran untuk beribadah selama tidak mengganggu pekerjaannya.

Peristiwa 11 September (9/11) kehancuran gedung WTC yang disebut-sebut akibat gerakan teroris dibawah pimpinan Osama bin Laden, menjadi titik tolak meningkatnya intensi tentang Islam di Korea Selatan. Korea Selatan yang sejak awal kemerdekaanya berafiliasi secara politik dengan negara-negara barat, khususnya Amerika Serikat, masih menjadikan fokus keamanan negara pada persoalan hubungan dengan Korea Utara.

Namun, pasca 9/11, apalagi dipicu dengan penyanderaan 23 warga negara Korea Selatan oleh anggota Taliban di Afganistan tahun 2007 hingga kemunculan ISIS, membuat persoalan terorisme menjadi fokus keamanan baru negeri ginseng ini.

Memang hal tersebut tidak terlalu terwujud dalam kebijakan yang serius mengekslusi orang yang memiliki identitas keislaman misalnya. Namun, secara sosial peristiwa 9/11 di satu sisi, dan kedatangan imigran asal negara-negara muslim di sisi lain, membuat media-media di Korea Selatan sempat meningkatkan diskursus Islam sebagai agama ekstrimis dan radikal.

Jeong-Min Seo dalam risetnya terhadap pemberitaan surat kabar Korea tentang Islam selama tahun 2006-2009, misalnya menemukan bahwa banyak pemberitaan yang menyebutkan bahwa geliat kemunculan Islam di Korea akan berdampak pada kemunculan fenomena islamisasi Korea sampai meningkatnya potensi aktivitas terorisme.

Berita lainnya misalnya menyebutkan salah satu cara agar penyebaran Islam di Korea Selatan tidak bertambah positif, adalah dengan cara meningkatkan solidaritas di kalangan penganut agama di Korea (Kristen, Budha, dan Kepercayaan Lokalnya) sampai mengawasi aliran uang dari perbankan dunia Islam.

Meski terlihat memiliki sentimen yang kuat, sebenarnya fakta diatas tidak bisa dijadikan fenomena tunggal persinggungan Korea dan Islam. Korea Selatan sendiri menyadari sejak lama akan terjadinya kondisi multikulturalisme di negaranya. Baik dikarenakan kehadiran orang-orang dari berbagai negara yang bekerja atau bahkan memutuskan tinggal di Korea Selatan akibat berpindah warga negara atau menikah dengan orang Korea sendiri. Salah satu gejala multikulturalisme tersebut adalah eksistensi orang-orang Islam di Korea Selatan.

Saya akan sebutkan beberapa contoh positif terkait hal itu. Yannie Kim, orang Indonesia yang berkeluarga dengan pria Korea Selatan selama hampir 20 tahun dan kini dikenal luas karena tampil di sejumlah acara televisi dan drama di Korea Selatan.

Yannie yang juga dikenal lewat akun Youtube-nya misalnya mengisahkan bahwa keterlibatannya di layar kaca Korea Selatan dimulai ketika sekitar tahun 2009 kehidupan keluarganya pernah dijadikan salah satu acara televisi di Korea Selatan yang membahas tentang kehidupan multikulturalisme di Korea Selatan. Menurut Yannie, sebelum ia diliput tersebut sebenarnya ada banyak tayangan-tayangan di layar kaca Korea yang menyerukan kesadaran tentang multikulturalisme.

Contoh berikutnya adalah ditayangkannya acara My Neighbour, Charles di stasiun televisi milik negara, KBS (Korean Broadcasting Service). Dengan mengusung konsep multikulturalisme Korea, orang-orang yang memiliki latar belakang berbagai bangsa dan budaya, diundang untuk berbagi cerita dan kesehariannya. Salah satunya adalah keluarga-keluarga muslim.

Beberapa orang dengan identitas keislaman yang jelas seperti hijab, diundang ke acara ini seperti yang berasal dari Uzbekistan atau Irak. Sejumlah orang Indonesia, termasuk Yannie Kim, juga sudah pernah menjadi bintang tamu di acara My Neighbour, Charles.

Islam Sebagai Kenyataan Ceruk Pasar: Kebijakan Korea Selatan Tentang Produk Halal

Sadar kalau negaranya menjadi sorotan–dan kini bisa dikatakan demikian–begitu diminati oleh banyak penduduk-penduduk Asia juga dunia sebagai bagian dari dampak Hallyu (Korean Wave), membuat Korea Selatan menyadari pentingnya menyediakan produk yang ramah terhadap muslim tersebut. Turis-turis dari negara muslim semakin menjadikan Korea menjadi salah satu destinasi wisatanya.

Dan, khususnya mereka yang memang beragama Islam dan memegang teguh ajarannya, membuat Korea fokus membenahi apa yang disebut wisata halal. Korean Tourism Organization (KTO), misalnya kini membangun situs yang memberikan petunjuk di mana saja orang dapat menemukan restoran yang bersertifikat halal atau bebas dari unsur babi (free-pork). Dari kalangan sipil, organisasi bernama Korean Food Foundation membuat aplikasi Korean Halal untuk mencari petunjuk makanan dan wisata-wisata yang ramah muslim.

Meski bisa dikatakan semakin mudahnya menemukan produk-produk halal yang tersedia di atau berasal dari Korea, namun sebagian besar merupakan inisiatif masyarakat sipil, bukan kebijakan negara pada awalnya. Namun, seperti dicatat Ikran Eum, Korea sempat menjadikan penguatan ekspor produk halal sebagai salah satu produk kebijakan utama negara. Ini terjadi di era Presiden Korea Selatan Park Geun-Hye.

Di medio tahun 2015, Geun-Hye bahkan mendirikan divisi halal di Kementerian Pertanian, Makanan, dan Urusan Pedesaan Korea Selatan. Langkah proaktif pun dilakukan Geun-Hye untuk mengaktifkan divisi halal dengan mengunjungi negara-negara Timur Tengah seperti Uni Emirat Arab dan Iran untuk membicarakan kerjasama ekspor produk-produk Korea yang sudah bersertifikasi halal.

Menurut analisis Ikran, tujuan dari agenda ini sebenarnya lebih ke motif ekonomi. Selain melihat negara-negara Islam sebagai ceruk pasar, Korea Selatan juga perlu mendiversifikasi sasaran pasarnya karena pasca ketegangan kembali dengan Korea Utara di tahun 2016, Tiongkok melakukan pembatasan produk-produk berbau Korea di negaranya.

Namun, kebijakan itu terhenti di awal tahun 2017 menyusul pemakzulan terhadap Geun-Hye akibat dakwaan korupsi dan penyalahgunaan kekuasaan. Selain itu, rangkaian kebijakan meningkatkan eksistensi produk halal di Korea juga menghadapi sentimen islamofobia yang kuat dari masyarakat Korea sendiri.

Dalam catatan Ikran tentang perkembangan Islam Kontemporer di Korea Selatan, sentimen islamofobia yang masih menguat di Korea selain diakibatkan oleh cara pandang ala orientalisme model barat (lama) dalam memandang orang selain bangsanya, juga sering dijadikan komoditas politik oleh sejumlah kelompok kepentingan termasuk sebagian politisi.

Sejumlah kegiatan atau inisiatif soal produk halal yang dihentikan misalnya pembatalan dilaksanakan Forum Ekonomi Islam Dunia di tahun 2017, Proyek Halal Business di kota Daegu tahun 2016, ataupun rencana pembangunan rumah penyembelihan halal di kota Buyeo tahun 2017 yang ditentang kelompok pembela hak-hak binatang.

Betapapun demikian, namun dorongan untuk memperkuat potensi produk halal di Korea tetap terlihat berjalan dengan segala kritik dan rintangan yang terjadi di negara itu. Banyak perusahaan-perusahaan Korea yang sudah melihat produk bersertifikasi halal sebagai bisnis yang besar.

Penjelasan Dr. James Noh, Direktur Korea Institute for Halal Industry dalam konteks perkembangan Islam Kontemporer di Korea Selatan bahkan mempresentasikan capaian produksi dan penjualan produk halal asal Korea Selatan. Korea Selatan menargetkan penjualan US$ 1,5 Miliar di tahun 2017. Namun, bisa dikatakan perkembangan industri halal di Korea masih terbilang lambat meskipun perkembangan positif terus terjadi.

(Baca: Sejarah Masuknya Islam di Korea Selatan)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here