Perjuangan Para Pahlawan Nasional dari Kalangan Pesantren

0
79

BincangSyariah.Com – Kemerdekaan Indonesia tidak serta merta diberikan oleh bangsa asing. Kemerdekaan berhasil diraih karena perjuangan masyarakat dan pahlawan Indonesia. Bangsa Indonesia terdiri dari banyak suku, agama dan kalangan. Salah satu kalangan yang punya andil besar dalam memperjuangkan kemerdekaan Indonesia adalah para tokoh dari kalangan pesantren.

Pada masa penjajahan, para tokoh dari kalangan pesantren ikut andil dalam berjuang melawan penjajah untuk meraih kemerdekaan. Karena perjuangannya, pemerintah Indonesia menganugerahi gelar sebagai pahlawan nasional. Ada banyak pahlawan nasional dari kalangan pesantren yang berjasa besar bagi bangsa Indonesia. Berikut adalah beberapa di antaranya:

Pertama, Pangeran Diponegoro.

Pangeran Diponegoro adalah anak sulung dari Sultan Hamengkubuwono III. Beliau lahir pada 11 November 1785. Pangeran Diponegoro memimpin perang Jawa yang tercatat memakan korban paling banyak di Indonesia. Berbekal taktik perang Gerilya yang terkenal dan ditakuti oleh Belanda, musuh pun kewalahan dalam melawan taktik Pangeran Diponegoro yang keluar masuk hutan dan muncul di malam hari untuk melakukan serangan secara tiba-tiba.

Pada saat itu, banyak uang yang dikeluarkan oleh Belanda untuk menangkap Pangeran Dipenogoro namun tidak pernah membuahkan hasil. Akhirnya, Belanda berhasil menangkap Pangeran Diponegoro dengan menggunakan cara yang licik yaitu dengan mengajak berunding namun sengaja dibuat gagal dan Pangeran Diponegoro ditangkap oleh Belanda.

Pada tahun 1973, beliau diberi gelar sebagai pahlawan nasional berkat jasa-jasanya. Untuk mengenang jasa-jasanya tersebut, banyak kota di Indonesia yang menamai jalan, stadion, bahkan universitas dengan nama Diponegoro.

Kedua, K.H. Ahmad Dahlan.

Tokoh pahlawan nasional dari kalangan pesantren yang kedua adalah pendiri Muhammadiyah yakni K.H. Ahmad Dahlan. Kiai yang lahir di Yogyakarta ini mempunyai jasa yang sangat besar dalam membangkitkan semangat umat Islam. Beliau menyadarkan umat Islam pada saat itu terkait statusnya sebagai bangsa yang terjajah. Bersama gagasan Muhammadiyahnya, kiai yang juga dikenal dengan Muhammad Darwisy ini pun ditetapkan sebagai pahlawan Nasional pada tahun 1961.

Baca Juga :  Mengenal Hadis Maqbul dan Mardud

Ketiga, K.H. Hasyim Asyari.

Tokoh dari pesantren identik dengan Hadratus Syeikh K.H. Hasyim Asyari. Bagaimana tidak, beliau adalah pendiri dari Nahdatul Ulama (NU) yang ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 17 November 1964. Gelar tersebut diberikan berkat jasanya yang besar saat melawan penjajah dari Surabaya. Perjuangannya dikenal dengan resolusi jihad pada tanggal 22 Oktober 1945. Selain mendirikan NU, K.H. Hasyim Asyari juga mendirikan pondok pesantren Tebu Ireng, Jombang pada tahun 1899.

Keempat, K.H. Zainal Arifin.

Jasa K.H. Zainal Arifin pada Indonesia sangatlah banyak. Salah satunya adalah menjadi perdana menteri Indonesia, Ketua DPR-GR, dan salah satu pimpinan Nahdatul Ulama. Selain itu, beliau juga berjasa dalam pembentukan pasukan semi militer Hizbullah. Beliau juga menjadi anggota badan pekerja komite nasional pusat dan pada tahun 1955. Beliau juga pernah mewakili DPR. Berkat jasa-jasa beliau, pemerintah menetapkan dirinya sebagai pahlawan nasional pada tanggal 4 Maret 1963.

Kelima, K.H. Wahid Hasyim.

K.H. Wahid Hasyim adalah ayah dari presiden Indonesia yang ke-4 yaitu K.H. Abdurrahmann Wahid. Beliau adalah salah satu anggota Badan Penyidik Usaha-Usaha Persiapan Kemerdekaan Indonesia (BPUPKI) dan Panitia Persiapan Kemerdekaan Indonesia (PPKI). Jejaknya dalam pembangunan pesantren adalah ikut mendirikan pondok pesantren Tebu Ireng. Beliau adalah tokoh yang memelopori masuknya ilmu pengetahuan ke dunia pesantren. Dari jasa-jasanya mempersiapkan kemerdekaan Indonesia, beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 17 November 1960.

Keenam, K.H. Zainal Mustafa.

K.H. Zainal Mustafa adalah salah satu tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia yang melawan para penjajah secara terang-terangan. Tindakan-tindakan yang dilakukannya bersebrangan dengan kolonial Belanda. Tak jarang, Kiai yang lahir di Tasikmalaya ini diturunkan dari mimbar oleh para Kyai yang pro dengan Belanda. Tapi, semangatnya tak meredup.

Baca Juga :  Kisah Ulama Mazhab Hanafi Melamar Dengan Buku

Saat Belanda dikalahkan oleh Jepang, K.H. Zainal Mustafa tetap menolak kehadiran Jepang di Indonesia. Baginya, Jepang justru jauh lebih berbahaya ketimbang Belanda. Oleh karena itu, beliau dan para santrinya mengayatakan perang dengan Jepang. Berkat jasanya membangkitkan semangat para santrinya untuk jihad membela negara, K.H. Zainal Mustafa dianugerahi sebagai pahlawan nasional pada tahun 1972.

Ketujuh, K.H. Noer Ali.

Kiai Noer Ali lahir pada tahun 1914 di Ujung Harapan, Bekasi, Jawa Barat. Beliau dikenal sebagai singa Karawang Bekasi ksebab banyak sekali perang yang sudah beliau jalani. Salah satu yang melegenda adalah perang melawan sekutu Inggris di Pondok Ungu pada tahun 1945. Selain itu, beliau juga ikut andil dalam mendirikan markas pasukan semi militer Hisbullah. Berkat jasa-jasanya beliau ditetapkan sebagai pahlawan nasional pada tanggal 9 November 2016.

Perjuangan para tokoh dari pesantren yang menjadi pahlawan nasional sudah seharusnya menjadi motivasi bagi para santri. Semoga, akan semkain banyak bermunculan pejuang-pejuang dari pesantren-pesantren modern di seluruh Indonesia yang menciptakan generasi-generasi bangsa yang cerdas dan beragama.[]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here