Perjanjian Al-Fudhul: Pasca Perang Fujjar

0
337

BincangSyariah.Com – Setelah orang-orang Quraisy kembali dari Perang Fujjar, mereka sepakat untuk mengadakan perundingan. Hal itu akhirnya terlaksana di rumah Abdullah bin Jad’ah A-Taimiy, seorang pemimpin salah satu pembesar kabilah Quraisy.

Orang-orang yang mengadakan perjanjian itu terdiri dari Bani Hasyim dan Bani Muthalib, yaitu dua orang anak Bani Abdul Manaf, dua orang anak Bani Asad ibn Abdil Uzza, dua orang anak Bani Zahrah ibn Kilab, dan dua orang anak Bani Taim Ibn Murrah. Mereka telah mengadakan perjanjian untuk tidak membiarkan seseorang teraniaya di dalam kota Makkah, baik dia penduduk asli ataupun pendatang; mereka akan membelanya dan mengembalikan hak kepadanya.

Perundingan ini dihadiri pula oleh Muhammad yang pada waktu itu ikut bersama paman-pamannya. Sesudah Allah mengangkatnya menjadi rasul, beliau memberikan komentar tentang perjanjian tersebut sebagaimana berikut.

“Sunggung aku telah menyaksikan sendiri perjanjian yang telah dibuat oleh paman-pamanku di rumah Abdullah bin Jad’an yang lebih aku senangi dari pada memiliki ternak unta. Seandainya di masa Islam ini aku diajak melakukan hal yang sama, niscaya aku akan menerimanya.”

Hal itu adalah karena Muhammad diutus dengan membawa akhlak-akhlak yang mulia, dan hal ini termasuk di antaranya. Memang Islam telah banyak mengikuti hal seperti itu. Beliau bersabda, “Aku diutus untuk menyempurnakan akhlak-akhlak yang mulia.” Ternyata Nabi saw. sering mengajak orang-orang untuk melaksanakan perjanjian ini. Akhirnya mereka menyadarinya dan mau menerimanya.

Sumber: Kitab Nurul Yaqin fi Siirati Sayyidil Mursaliin karya Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek

Baca Juga :  Mengenal Syekh Mahfudz Al-Tarmasi: Ulama Pacitan yang Mengajar Di Masjid Al-Haram

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here