Perjanjian Aelia: Dokumen Sejarah yang Ditandatangani Khalifah Umar bin Khattab dengan Umat Nasrani

0
267

BincangSyariah.Com – Abu Ja’far Muhammad Ibn Jarir al-Thabari, sejarawan besar Islam, dalam Tarikh al-Umam wa al-Muluk, “Sejarah Bangsa-bangsa dan Raja-raja”, mencatat dokumen sejarah tentang perjanjian yang dibuat dan ditandatangani oleh Khalifah Umar bin Khattab dengan umat Nasrani di Yerussalem. Perjanjian ini dikenal dengan nama Mu’ahadah Iliya, “Perjanjian Aelia”, karena dideklarasikan di Aelia, sebuah nama kota kuno di Yerussalem, Palestina, tahun 15 H/636 M. Isinya sebagai berikut:

“Dengan nama Allah Yang Maha Pengasih, Maha Penyayang. Inilah yang diberikan oleh hamba Allah, Umar, pemimpin orang-orang yang beriman, kepada penduduk Iliya. Yaitu jaminan keamanan. Umar memberikan jaminan keamanan, hak hidup, hak milik harta, bangunan-bangunan gereja, salib-salib mereka, orang-orang yang lemah (sakit), orang-orang sehat dan semua pemeluk agama. Gereja-gereja mereka tidak boleh diduduki (ditempati), tidak dihancurkan, tidak ada sesuatu yang dikurangi dari apapun yang ada dalam gereja itu atau diambil dari tempatnya; tidak salib mereka, tidak juga harta benda mereka, penduduknya tidak dipaksa untuk menjalankan keyakinan agama mereka dan tidak satu orangpun di antara mereka yang dilukai. Tidak seorang Yahudi pun boleh tinggal bersama mereka. Penduduk Aelia wajib membayar pajak, sebagaimana semua penduduk. Mereka boleh keluar ke Roma atau Lassut. Orang yang keluar dari sana mendapat jaminan keamanan baik jiwanya maupun harta bendanya hingga mereka tiba di sana. Barangsiapa yang masih ingin tinggal juga mendapat jaminan keamanan. Dia wajib membayar pajak sebagaimana penduduk Iliya. Bagi penduduk Iliya yang ingin pergi bersama warga Roma dengan membiarkan gereja dan salib-salibnya maka mereka juga aman, termasuk gereja dan salib-salibnya hingga tiba di tempat”.

Penandatanganan perjanjian ini disaksikan oleh Khalid Ibn al-Walid, Amr bin ‘Ash, Abd al-Rahman bin ‘Auf, Mu’awiyah bin Abi Sufyan dan ditetapkan pada tahun 15 H. (Ibn Jarir al-Thabari, Tarikh al-Umam wa al-Muluk, Dar al-Kutub al-‘Ilmiyyah, Beirut, 1997, jilid II, hlm. 449).

Baca Juga :  Belajar Tentang Kehidupan dari Surat An-Nas

Perjanjian Aelia di atas menjadi tonggak penting bagi perjalanan sejarah hubungan kaum muslimin dan nonmuslim,  baik Yahudi, Nasrani, dan lain-lain. Syekh Yusuf Qardhawi, ketua ulama Islam sedunia, mengurai cukup panjang hubungan ini dalam bukunya Ghair al-Muslim fi al-Mujtama’ al-Islamy. Al-Qardhawi, antara lain, mengemukakan bahwa mu’amalah (interaksi sosial) antara kaum muslim dan nonmuslim yang dilindungi atau al-dzimmiyyun berlangsung sangat baik dan mesra. Hak-hak sosial, ekonomi dan politik nonmuslim dijamin. Kerjasama antara mereka berlangsung lancar. Mereka saling memberi dan belajar.

Selanjutnya ia mengutip pernyataan Will Durant, seorang orientalis, dalam bukunya yang terkenal, History of Civilization:

لَقَدْ كَانَ أَهْلُ الِّذمَّةِ الْمَسِيحِيُّونَ وَالزَّرَادِيشْتِيونَ وَالْيَهُودُ وَالصَّابِيؤنَ يَتَمَتَّعُونَ فِى عَهْدِ الْخِلَافَةِ اْلأُمَوِيَّةِ بِدَرَجَةٍ مِنَ التَّسِامُحِ لَا نَجِدُ لَهَا نَظِيراً فِى الْبِلَادِ الْمَسِيحِيَّةِ فِى هَذهِ اْلأَيَّامِ. فَلَقَدْ كَانُوا اَحْرَاراً فِى مُمَارَسَةِ شَعَائِرِ دِينِهِمْ وَاحْتَفَظُوا بِكَنَائِسِهِمْ وَمَعَابِدِهِمْ.

Pada masa pemerintahan dinasti Umayyah, kaum Nasrani, Zoroaster, Yahudi, dan Sabiah menikmati toleransi yang demikian tinggi, sebuah situasi yang tidak pernah ditemukan bandingannya di negara-negara Nasrani dewasa ini. Mereka benar-benar merasakan kebebasan menyelenggarakan syiar-syiar agama mereka dan gereja-gereja dan biara-biara mereka tetap dilindungi. []

[Tulisan ini disadur dari buku Lawaamii’ al-Hikmah ‘Pendar-pendar Kebijaksanaan’]

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.