Perjalanan ke Tanah Suci: Dari Tempo Dulu sampai Kisah Presiden Masuk Kakbah

0
471

BincangSyariah.Com – Naik haji adalah impian semua umat Islam. Oleh karenanya, semahal apapun biaya yang harus dikeluarkan, sejauh apapun jarak yang mesti ditempuh, seberat apapun derita yang harus ditanggung, semangat menunaikan ibadah haji selalu membara di benak setiap Muslim. Kisah-kisah heroik dan perjuangan orang-orang tempoe doeloe dalam menunaikan ibadah haji terekam dalam buku “Hadji Tempoe Doeloe”(2016), karya Emsoe Abdurrhaman, juga dalam “ Naik Haji Masa Silam” (2013), disusun oleh Henri Chambert-Loir.

Konon, haji tempoe doeloe menggunakan kapal layar. Perjalanan haji orang-orang Nusantara biasanya menumpang kapal dagang milik orang Arab dan India yang, kebanyakan “parkir” di Singapura. Oleh sebab itu, orang-orang Nusantara dari berbagai daerah harus menyeberang lebih dahulu ke Singapura. Berlabuh berkali-kali, transit dari satu kapal ke kapal lain. Sebab tak ada kapal layar yang lansung ke Jeddah. Pelabuhan terakhir yang disinggahi di Nusantara adalah Aceh. Dari sinilah awal mula Aceh dikenal sebagai negeri “Serambi Makkah”.

Dari Aceh –tepatnya pelabuhan Sabang– menuju Jeddah, jamaah haji menumpang kapal layar yang menuju India, dari India berganti kapal menuju Hadramaut (Yaman), lalu dari Hadramaut menuju Jeddah. Durasi transit di tiap-tiap pelabuhan tidak menentu. Bisa berminggu-minggu, bahkan berbulan-bulan. Dalam laporan Snouck Hurgrongje, ia pernah bertemu dengan salah seorang haji asal Jawa (ashabul Jawi) yang menghabiskan waktu selama tiga tahun dari kampung halamannya menuju Makkah (Hadji Tempe Doeloe, Emsoe Abdurrahman 2013: 16). Dari cerita itu, maka wajarlah betapa sakralnya ibadah haji di masa lalu bagi orang-orang Nusantara.

Dalam zaman yang berubah, kisah-kisah tentang haji juga turut berubah. Misalnya, sinetron Tukang Bubur Naik Haji dan Haji Backpaker. Belakangan ini muncul pula tren umrah bersama artis, dan beragam jenis program dan paket umrah lainnya. Lalu muncullah kisah umrah paling mutakhir, yakni Jokowi umrah di masa tenang Pilpres 2019. Bertepatan dengan momentum politik, umrah Jokowi dengan segera memunculkan pro dan kontra, dan digoreng segosong-gosongnya.

Baca Juga :  Binatang-binatang dalam Al-Qur'an (Bagian II)

naik haji

Kehebohan soal haji dan atau umrah, juga pernah dialami Soeharto, mertuanya capres 02-Prabowo. Selama berkuasa sejak pasca 1965, Soeharto baru memutuskan naik haji pada 16 Juni 1991 di usianya yang ke-70 tahun. Pada saat itu, Prabowo beserta keluarga cendana ikut mendampingi mertuanya. Lalu Soeharto mendapat kesempatan masuk ke dalam Kakbah, seperti yang dilakukan Jokowi baru-baru ini.

Banyak kalangan menuduh Soeharto “haji politik”. Cari muka dan perhatian kepada umat Isam. Nyaris seperti apa yang menimpa Jokowi saat ini. Bahkan tuduhan-tuduhan kepada Jokowi datang dari elit-elit, lawan politiknya. Seandainya saat itu sudah ada media sosial. Tentu saja tim media kepresidenan akan memposting foto-foto pelaksanaan ibadah haji Pak harto, kemudian viral. Selepas itu akan segera muncul tuduhan pencitraan. Yang pasti, jangan harap Pak Harto akan selamat dari rundungan khas warganet zaman ini: “salat, tapi kiblatnya kok menghadap kamera”.

Soeharto bahkan mengabadikan momen-momen ibadah hajinya dalam sebuah buku berjudul “Perjalanan Ibadah Haji Pak Harto” (Penerbit Gunug Agung, 1994).

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here