Periwayat Hadis Syiah dalam Sahih al-Bukhari

5
5052

BincangSyariah.Com – Akhir-akhir ini kita sering dihadapkan pada persoalan konflik sektarian yang terjadi di kalangan penganut internal agama, baik yang disebabkan oleh faktor murni perbedaan pandangan keagamaan maupun yang dipicu oleh faktor-faktor politik, budaya, sosial dan lain-lain.

Sejatinya konflik tersebut merupakan warisan masa silam yang entah kenapa dibangkitkan kembali di masa sekarang dengan berbagai macam tujuan dan alasan.

Namun biasanya sebagian besar dari tujuan tersebut ialah untuk mengklaim kelompoknya sendiri yang paling sesuai dengan petunjuk Alquran dan Nabi Muhammad SAW sementara kelompok lain lah yang salah dan keliru dan karena keliru, maka kelompok yang lain ini harus dianggap sebagai musuh bersama.

Itulah yang sekarang terjadi pada konflik berkepanjangan antara Suni dan Syiah, dua sekte Islam terbesar.

Sayangnya konflik yang disebabkan oleh faktor politik yang spesifik terjadi di masa lalu (akibat perang Jamal, Perang Siffin dan konflik Ali dan Muawiyah dan implikasinya) jika dilihat secara waktu dan yang spesifik terjadi di Timur Tengah, jika dilihat secara ruangnya dihadirkan kembali dalam konteks Indonesia yang sejatinya tidak memiliki keterkaitan ideologis dan pengalaman bersama sama sekali dalam keterllibatan konflik antara dua sekte Islam terbesar tersebut.

Karena itu, intelektual muda NU, Jadul Maula mengatakan bahwa konflik Suni dan Syiah di Indonesia ini bersifat ahistoris. Orang tidak tahu apa itu Syiah, Suni bahkan tahunya dari pihak-pihak yang fanatik namun sudah berani mengklaim bahwa kelompok lain itu sesat.

Pertanyaannya yang muncul kemudian ialah apakah kesesatan ini bersifat mutlak ataukah relatif? Untuk menjawab pertanyaan ini, perlu kiranya kita menghadirkan sikap al-Bukhari sebagai contoh dalam menerima atau menolak kebenaran yang diriwayatkan oleh sekte-sekte selain Suni.

Kenapa al-Bukhari? Ini karena al-Bukhari merupakan ulama yang kitab hadisnya dijadikan sebagai sumber kedua setelah Alquran.

Oleh sebab itu, menghadirkan kembali sikap al-Bukhari berarti menghadirkan kembali sikap generasi terdahulu dalam melihat konflik pandangan keagamaan, yakni sikap yang mengutamakan kebenaran terlepas dari siapa pun yang memilikinya, termasuk dari yang berada di luar kelompoknya.

Dalam Tadrib ar-Rawi, sebuah kitab yang menjelaskan tentang ilmu hadis beserta cabang-cabangnya, Jalaluddin as-Suyuthi mengemukakan beberapa periwayat hadis dari kalangan Syiah yang ada dalam Sahih al-Bukhari, termasuk di antaranya ialah Syiah yang terbilang sangat ekstrim (syiah ghulat), dimulai dari yang paling banyak riwayat hadisnya sampai yang paling sedikit di antaranya ialah;

Ismail bin Aban, Ismail bin Zakariyya al-Khalqani, Jarir bin Abd al-Hamid, Aban bin Tughlub (hanya ada dalam Sahih Muslim dan kata adz-Dzahabi termasuk periwayat Syiah yang fanatik), Abd Allah bin Ayan, Ali bin al-Jaad, Fitr bin Khalifah, al-Fadhl bin Dukain, Muhammad bin Jahadah, Yahya bin al-Jazzar dan lain-lain.

Periwayat Syiah yang tergolong minim diriwayatkan hadisnya oleh al-Bukhari ialah Abbad bin Yaqub. Periwayat hadis ini berasal dari kalangan Syiah Rafidah. Ada satu hadis yang disebutkan al-Bukhari dalam Sahih-nya.

Al-Bukhari meriwayatkan juga dari Abd al-Malik bin Ayun, periwayat hadis dari kalangan Syiah Rafidah, hanya saja riwayatnya dicantumkan dalam shawahid dan itu juga disandingkan dengan periwayat hadith yang lebih siqah.

Periwayat Syiah lainnya yang minim hadisnya dalam Sahih al-Bukhari bernama Abd Allah bin Muhammad bin Abi Thalib. Beliau dari kalangan Sabaiyyah (pengikut Abd Allah bin Saba yang mencetuskan gagasan al-washiyy dan ar-rajah dalam syiah) meski belum jelas kategori ghulatnya (keekstrimannya).

Bahkan dikatakan bahwa beliau terkategorikan sebagai propagandis Sabaiyyah karena menulis banyak hadis yang berkenaan dengan kelompoknya.
Namun ada juga periwayat simpatisan Syiah yang banyak diriwayatkan hadis-hadisnya dalam Sahih al-Bukhari misalnya seperti Abd ar-Razzaq bin Hammam. Ada kisaran 105 hadisnya yang tersebar dalam berbagai bab dalam kitab Sahih al-Bukhari.

Data mengenai identitas periwayat Syiah dalam Sahih al-Bukhari yang disampaikan oleh as-Suyuthi tersebut paling tidak menunjukkan secara tidak langsung bahwa al-Bukhari menerima kebenaran dan keotentikan hadis yang diriwayatkan oleh musuh terbesar Suni, Syiah.

Bagi al-Bukhari, perbedaan kelompok politik tidak harus menjadikan kita menolak kebenaran dari mereka, apalagi kebenaran yang disampaikan lawan politik ini ialah sabda Nabi Muhammad SAW.

Dengan demikian, sesatnya syiah bagi al-Bukhari bersifat relatif. Kenapa demikian? Karena manusia itu tidak selamanya sesat dan tidak selamanya benar. Jadi selama syiah benar dan jujur dalam meriwayatkan hadis dari Nabi Muhammad SAW, al-Bukhari konsisten untuk menerimanya.

Namun sebaliknya, jika Syiah tidak jujur dalam meriwayatkan hadis, maka al-Bukhari akan menolaknya habis-habisan. Bahkan jika pun yang meriwayatkan dari kalangan Suni sendiri, jika memang hadisnya bikinan bukan sabda atau kebenaran Nabi, tetap saja ditolak al-Bukhari dan tidak dimasukkan ke dalam kumpulan hadis-hadisnya yang sahih.

Tidak hanya Syiah, al-Bukhari pun meriwayatkan banyak hadis dari kalangan non-sunni lainnya semisal Qadariyyah, Muktazilah, Nashibiyyah dan lain-lain. Sekte-sekte ini di masanya tidak hanya sekedar kelompok keagamaan namun juga partai politik.

Dalam ilustrasi yang sederhana ini, tampaknya bagi al-Bukhari atau ulama mutaqaddimin pada umumnya, al-jarh (penilaian negatif) dan al-tadil (penilaian positif) itu bersifat relatif dan tidak mutlak dan bukan pijakan epistemik yang rigid bagi penyeleksian hadis-hadis Nabi.

Kesimpulan ini bukan berarti menafikan peranan jarh dan tadil dalam penyeleksian hadis. Ilmu ini tetap penting. Namun ia bukan satu-satunya alat yang menentukan kualitas hadis.

Bagi al-Bukhari, setiap hadis memiliki cara penanganan dan penilaian yang berbeda-beda tergantung pada jenis hadisnya bagaimana, dan terkadang, penyeleksiannya dilakukan tanpa disertai aturan dan kaidah yang baku.

Dan jelaslah dari sini, bahwa perbedaan pandangan politik tidak menghalangi al-Bukhari untuk meriwayatkan hadis dari luar Sunni. Dengan kata-kata lain, al-Bukhari merupakan contoh bagi kita tentang bagaimana sebenarnya kebenaran itu dilihat dari substansinya, bukan dari sekte keagamaannya atau identitas orangnya. Ahli Hadis pun ternyata bisa seterbuka ini dibanding ahli fikih, kalam atau filsafat.

Al-Bukhari yang menulis kitab paling sahih setelah al-Quran ini pun tidak dimotivasi oleh kepentingan kelompok yang sempit. Beliau bahkan menerobos sekat-sekat ideologisnya dan melampaui yang lain dalam hal keterbukaan terhadap kebenaran. Begitulah Imam kita, al-Bukhari. Semoga kita bisa mengikuti jejaknya. Amin.

100%

5 KOMENTAR

  1. Perbedaan antara Sunni (pengikut Sunnah) dan Syi’i (pengikut Syiah) bukankarena politik, tapi karena AQIDAH !

  2. Apa benar Bukhari juga menghindari meriwayatkan hadis yg bersumber dari Sayyidina Ja’far? Yang mana beliau itu dzuriyyat Rasūlullāh Shalallāhu alayhi waālih, yang dikenal dengan keluasan ilmunya. Jika benar, mengapa?

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here