Di Zaman Nabi, Ini Peristiwa Penting di Bulan Sya’ban

0
1377

BincangSyariah.Com – Di zaman Nabi saw., ada sejumlah peristiwa penting di bulan Sya’ban. Bulan Sya’ban adalah bulan kedelapan dari dua belas bulan Hijriyah. Bulan Sya’ban begitu dimuliakan oleh Nabi saw.

Dalam satu riwayat dari al-Imam al-Bukhari pada kitab Shahih-nya (Shahih al-Bukhari), Nabi saw. diriwayatkan sangat sering berpuasa di bulan ini sampai dikira ia berpuasa sepanjang bulan dan diteruskan hingga Ramadan.

Dalam riwayat lain, Nabi saw. menegaskan bahwa kalau kurang satu atau dua hari terakhir bulan Sya’ban (sebelum Ramadan), jangan tiba-tiba berpuasa. Di antara hikmahnya, agar tidak dikira sebagai bagian dari kewajiban puasa Ramadan, yang harus dipastikan kalau sudah masuk bulannya.

Dalam catatan sejarah, di zaman Nabi saw. ada sejumlah peristiwa penting di bulan Sya’ban. Merangkum dari ulasan Muhammad ‘Abdu az-Zhair ‘Ubaidu di laman alwatan.com, berikut ini peristiwa penting tersebut,

Pertama, perpindahan kiblat dari Bait al-Maqdis kembali ke Ka’bah/Baitullah di tahun ke-2 Hijriyah. Dalam pendapat lain semisal sahabat Nabi, Abdullah bin Abbas radhiyallahu ‘anhu, ia berpendapat perpindahan itu terjadi di bulan Rajab. Perpindahan kiblat ini hanya terjadi antara 16-17 bulan sejak tahun pertama Nabi saw. beserta sejumlah Muslimin (yang disebut al-Muhajirun) ke kota Yatsrib (Madinah). Tujuan awalnya adalah untuk menarik simpati kaum Yahudi dan Nasrani, namun mereka tidak memberikan tanggapan apapun.

Kedua, lahirnya seorang sahabat bernama Abdullah bin Zubair pada 2 Sya’ban tahun ke-2 Hijriyah. Ia adalah putra dari Zubair bin Awwam dan Asma’, putri dari Abu Bakar As-Shiddiq. Karena itu, Abdullah bin Zubair merupakan keponakan dari ‘Aisyah, istri Nabi saw. Kelak, Abdullah bin Zubair pernah ikut memberontak bersama sang bibi di zaman kekhilafahan Ali bin Abi Thalib. Abdullah bin Zubair juga memproklamirkan memisahkan diri dari kekhilafahan Umayyah di era Marwan bin al-Hakam. Namun, akibat putusannya itu, beliau diserang oleh pasukan Umayyah dibawah pimpin Hajjaj at-Tsaqafi, dan wafat dengan keadaan yang mengenaskan.

Baca Juga :  Sering Terlupakan, Inilah Tujuh Keistimewaan Bulan Sya’ban

Ketiga, di tahun ke-3 H, lahir cucu Nabi saw yang bernama al-Husain bin ‘Ali bin Abi Thalib. Pasca kejatuhan kekhilafahan ayahnya, ‘Ali bin Abi Thalib, ia di antara yang tidak setuju dengan ketidakadilan Muawiyah dan kekhilafahannya. Kelak, ia juga wafat dalam kondisi yang mengenaskan di kota Karbala, Irak karena mendeklarasikan diri sebagai kekhalifahan tersendiri.

Keempat, disyariatkannya puasa Ramadan. Namun pendapat yang paling kuat puasa Ramadan, disyariatkan di bulan Ramadan.

Kelima, terjadinya peperangan yang disebut Ghazwah Bani al-Mushtoliq. Perang ini terjadi di tahun 6 H. Perang ini sebenarnya tidak terlalu besar karena hanya melawan satu suku. Namun, perang ini menjadi ujian sosial yang cukup berat bagi masyarakat Muslim di masa itu. Karena, mulai muncul sejumlah kelompok oportunis – yang dalam bahasa Alquran disebut al-Munafiqun – karena mereka mengikuti perang murni karena tergoda dengan besarnya ghanimah. Saat itu, mereka juga yang paling mudah menyalahkan. Di saat itulah, mulai dikenal Abdullah bin Salul, orang asli Madinah yang masuk ke dalam golongan Munafiq. Saat inilah, Nabi Saw. mulai waspada dengan sejumlah kelompok munafik tersebut.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here