Peringati Hari Santri, Saatnya Mengumandangkan Jihad bil Qolam

0
690

BincangSyariah.Com –Tanggal 22 Oktober telah ditetapkan sebagai peringatan hari santri nasional oleh presiden Joko Widodo. Banyak peringatan yang dilaksanakan untuk kembali berefleksi tentang seruan jihad yang dikumandangkan Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari. Semangat dalam melawan penjajahan yang dikobarkan oleh kiai Hasyim adalah titik balik perlawanan bangsa Indonesia dengan pondasi seruan agama.

Hari ini setelah beberapa dekade fatwa “resolusi jihad” berlalu, harus ada semacam perenungan mendalam tentang makna hari santri. 74 tahun lalu, konteks jihad sebagai perlawanan fisik tentu sangat relevan di saat moncong senjata para kolonial di hadapan mata. Akan tetapi, hari ini tidaklah sama dengan 74 tahun lalu. Musuh bangsa ini bukanlah mereka yang membawa senjata dihadapkan kita, melainkan keterpurukan, ketertinggalan, keterbelakangan yang disebabkan oleh kebodohan.

Amanat Undang-Undang Dasar kita yang mendorong untuk mencerdaskan kehidupan bangsa adalah medan jihad yang tepat bagi para santri. Kalau dilihat akar dari persoalan yang terjadi, satu di antaranya yang menjadi perhatian adalah tingkat kualitas literasi bangsa Indonesia. Ini adalah anomali yang nyata di tengah bangsa yang mayoritas beragama Islam, agama yang wahyunya kali pertama adalah pemantik aktivitas literasi (QS. Al-‘Alaq: 1-5).

Ini sebagaimana dilansir Sindonews (Oktober 2019), “Menurut data UNESCO pada 2016, minat baca masyarakat Indonesia sangat memprihatinkan, hanya 0,001%. Artinya dari 1.000 orang Indonesia, hanya 1 orang yang rajin membaca. Minat baca Indonesia berada di peringkat 60, hanya satu tingkat diatas Botswana, salah satu negara di Afrika yang berada di peringkat 61”.

Kondisi ini penting untuk direnungkan oleh para santri di hari santri nasional. Santri sebagai kelompok inti yang mewakili umat Islam harus mulai bergelut di bidang literasi. Karena dampak dari kondisi ini bisa kita rasakan secara langsung. Adanya hoaks, fitnah, ujaran kebencian yang bergulir di dunia maya tidak bisa dilepaskan dari rendahnya minat baca bangsa ini.

Baca Juga :  Makna dan Fadhilah Bulan Sya'ban

Seseorang ketika menerima pesan melalui Whats’App Grup (WAG) misalnya, tanpa meneliti, mengkji dan mengkonfirmasi terlebih dahulu langsung menyebarkan WAG yang lain. Sehingga hoaks, propaganda, hasutanke arah kebencian mudah disalurkan melalui media-media sosial yang ada.

Sebagai seorang santri, kita semestinya menengok bagaimana para ulama dahulu melakukan jihad. Hadrotus Syekh KH Hasyim Asy’ari misalnya, selain menggerakan masyarakat untuk melawan penjajahan dengan fatwa resolusi jihad-nya, beliau adalah penulis produktif. Kahidupannya dihabiskan untuk bergelut di dunia literasi. Beliau mengaji, membacakan kitab, mengajar, dan menulis kitab-kitab.

Setidaknya ada belasan karya KH Hasyim Asy’ari yang sudah dibukukan. Kita akan malu jika mengaku sebagai seorang santri tapi aktivitas keseharian kita jauh dari apa yang telah diteladankan para kiai. Sehingga sudah saatnya, para santri ambil bagian dalam mengisi kekosongan dalam medan juang literasi.

Santri adalah entitas yang memiliki keberagaman kompetensi di berbagai disiplin keilmuan. Dengan memanfaatkan ruang terbuka internet, para santri harus siap terjun ke medan peperangan melawan kebodohan. Kebodohan ini yang telah menjelma ke dalam sebuah sikap beragama dengan kekerasan, mempertentangkan NKRI dengan Islam yang hanya dipersempit menjadi khilafah, dan lain sebagainya.

Salah satu pembelajaran yang mestinya kita tangkap baik-baik dari Hadrotus Syekh Hasyim Asy’ari adalah responsibilitasnya dalam melihat fenomena yang berkembang di masyarakat melalui tulisan. Saat gerakan purifikasi sedang menguat dan mendapatkan momentumnya di Timur tengah, beliau dengan sigap mengarang sebuah kitab berjudul Risalah Ahlus Sunah wal Jama’ah yang ditujukan untuk meng-counter wacana TBC (Takhayul, Bid’ah dan Churafat).

Kiai Hasyim Asy’ari berjihad untuk menjaga umatnya dari tuduhan-tuduhan penyesatan kepada masyarakat awam muslim di Nusantara. Beliau dengan demikian tidak hanya berhenti di level pengajian, atau menyerukan berjihad secara fisik, melainkan juga memproduksi pengetahuan melalui tulisan. Umat memerlukan sentuhan para santri melalui tulisannya. Di tengah kekeringan intelektual dan spiritual di jagad dunia maya, santri harus mulai hadir dan terus menerus berjuang untuk menjaga bangsa ini dari kehancuran yang diawali kebodohan.

Baca Juga :  Kritik Hadis tentang Pembakaran Kaum Zindiq oleh Ali Bin Abi Thalib (II)

Oleh karenanya, sudah saatnya santri kembali mengumandangkan jihad literasi, jihad bil qolam untuk kepentingan mencerdaskan umat dan bangsa secara keseluruhan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here