Perilaku Muhammad kepada Kaumnya Sebelum Menjadi Nabi

0
196

BincangSyariah.Com – Muhammad adalah orang yang paling baik akhlaknya di antaranya kaumnya, paling jujur perkataannya, paling bisa dipercaya, dan paling jauh dari perbuatan keji meskipun perilaku rendah telah membudaya pada masa itu.

Selain itu, Muhammad adalah orang yang paling utama di antara kaumnya dalam hal memelihara harga diri, paling mulia di dalam bergaul, paling baik dalam bertetangga, paling besar rasa maafnya, dan paling jujur dalam berbicara.

Oleh sebab itu, mereka menjulukinya Al-Amin (orang yang dipercaya). Hal itu merupakan berkat anugerah yang telah dilimpahkan oleh Allah swt. kepadanya berupa hal-hal yang baik dan watak-watak yang terpuji seperti penyantun, penyabar, bersyukur, adil, rendah hati, memelihara kehormatan diri, dermawan, pemberani, dan pemalu.

Hal tersebut bahkan diakui oleh musuh bebuyutannya sendiri, yaitu An-Nadhir Ibnul Harits dari kalangan Bani ‘Adud-Dar. Ia pernah mengatakan kepada kaumnya, “Dahulu, ketika Muhammad masih remaja, kalian telah rela dengan keputusannya, dan dia adalah orang yang paling dipercaya perkataannya di antara kalian. Ketika ia telah dewasa, ia datang membawa berita kepada kalian, tetapi kalian mengatakannya sebagai seorang tukang tenung. Tidak, demi Allah dia bukan seorang tukang Tenung.” An-Nadhir menyatakan hal ini dalam sanggahannya terhadap apa yang telah dikatakan oleh orang-orang Arab terhadap diri Nabi saw. yang pada waktu itu sedang menghadiri musim haji sehingga akibatnya mereka mengakui apa yang dikatakannya.

Ketika kaisar Romawi; Heraclius bertanya kepada Abu Sufyan yang pada waktu itu menjadi utusan Nabi saw. untuk menyampaikan pesannya, “Apakah kalian menuduhnya pernah melakukan kedustaan sebelum ia (Nabi saw.) mengatakan apa yang telah dikatakannya itu?” Abu Sufyan spontan menjawab, “ Tidak.” Lalu Kaisar Heraclius berkata, “ Sungguh, jika ia tidak membiarkan dirinya berbuat dusta terhadap manusia, maka ia pun tidak akan membiarkan dirinya berbuat dusta terhadap Allah.” Demikianlah menurut hadis yang disampaikan imam Al-Bukhari di dalam awal kitab shahih-nya.

Baca Juga :  Ibnu Khaldun dan Filsafat Sejarah

Allah swt. memelihara dirinya sejak ia masih kecil dari semua perbuatan jahiliyah yang bertentangan dengan ajaran syariat yang dibawanya kemudian. Sudah menjadi pembawaan karakter dirinya ia sangat benci kepada berhala-berhala, sehingga ia sama sekali belum pernah menghadiri pesta atau perayaan yang biasa diselenggarakan oleh para penyembahnya.

Nabi saw. pernah bercerita, “ Ketika aku masih kecil, aku mulai membenci berhala-berhala, dan aku pun benci terhadap syair (yang biasa diucapkan oleh orang-orang jahiliyah) dan aku belum pernah mempunyai maksud untuk melakukan suatu perbuatan yang biasa dilakukan oleh orang-orang jahiliyah kecuali hanya dua kali, tetapi kedua hal itu terjadi, Allah swt. menghalang-halangi diriku melakukan perbuatan tersebut. Kemudian setelah peristiwa itu, aku sama sekali tidak mempunyai maksud lagi untuk melakukan perbuatan jelek sehingga Allah swt. memuliakan diriku dengan risalah-Nya.”

“Pada suatu malam, aku berkata kepada seorang teman yang sama-sama menggembala ternak denganku, “Tolong perhatikan domba gembalaanku ini dan jaga mereka, aku bermaksud memasuki kota Makkah dan ikut menonton pertunjukan sebagaimana layaknya pemuda-pemuda lainnya. Lalu, aku keluar dari daerah pengembalaan untuk tujuan tersebut sehingga aku sampai di sebuah rumah yang terletak paling pinggir di kota Makkah. Ketika itu aku mulai mendengar suara musik rebana dan seruling untuk pesta pernikahan salah seorang dari mereka. Kemudian, di tempat itu aku duduk beristirahat sambil mendengarkan suara musik tersebut tetapi tiba-tiba Allah mendatangkan rasa kantuk yang sangat sehingga aku tertidur pulas, dan baru pada keesokan harinya, aku terbangun setelah merasakan sengatan panas matahari pagi. Aku tidak sempat menyaksikan pertunjukan tersebut sama sekali, dan hal serupa pula menimpa diriku pada kesempatan lain.”

Baca Juga :  Kumpulan Doa-doa Para Nabi di Dalam Al-Qur'an (I)

Nabi saw. belum pernah memakan daging sembelihan yang disembelih untuk nushub (batu yang dipancangkan lalu dialirkan di atasnya darah hewan sembelihan kemudian disembah) sebagaimana ia pun mengharamkan atas dirinya khamr. Padahal, minuman khamr telah membudaya di kalangan kaumnya.

Semuanya itu merupakan sifat-sifat yang dianugerahkan oleh Allah swt. kepada para nabiNya, supaya mereka memiliki persiapan yang matang untuk menerima wahyu daripadaNya. Para nabi semuanya ma’sum (dipelihara) dari perbuatan-perbuatan yang kotor dan buruk, baik sebelum mereka diangkat menjadi nabi maupun sesudahnya.

Sebelum masa kenabian, hal tersebut dimaksudkan supaya mereka bersiap-siap menerima perkara yang agung yang kelak akan dibebankan kepadanya. Sesudah masa kenabian, hal tersebut dimaksudkan supaya mereka menjadi teladan yang paling utama buat umatnya. Semoga Allah melimpahkan shalawat dan salam-Nya yang paling utama dan paling sempurnah kepada mereka (para nabi).

Sumber: kitab Nurul Yaqin Fii Siirati Sayyidil Mursaliin karya Syekh Muhammad Al-Khudhari Bek.



BincangSyariah.Com dikelola oleh jaringan penulis dan tim redaksi yang butuh dukungan untuk bisa menulis secara rutin. Jika kamu merasa kehadiran Bincangsyariah bermanfaat, dukung kami dengan cara download aplikasi Sahabat Berkah. Klik di sini untuk download aplikasinya. Semoga berkah.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here